 |
| Maket Timor Plaza |
Di banyak kalangan, seperti golongan
kelas
menengah ke atas dan para pejabat pemerintahan, ketika mereka berbicara
mengenai Dili, maka pola pikir mereka terbatasi oleh sebuah konsep ‘Dili
sebagai Ibukota modern sebagaimana ibukota negara-negara lainnya’. Realitas
kota Dili dengan segala bentuk, ruang dan isinya yang mereka lihat selama ini
dinilai sebagai sesuatu yang belum modern alias sangat ketinggalan zaman.
Karenanya, bagi banyak kalangan mengharapkan terjadinya modernisasi pada wajah
kota Dili.
Sementara itu, masyarakat bawah
sendiri seakan-akan tidak pusing dengan wajah ibukota Dili. Bagi golongan
penduduk mayoritas ini, yang terpenting adalah pemerintah mampu menciptakan
lapangan pekerjaan, serta mampu menjamin keamanan dan ketertiban umum dan
lain-lain yang berkaitan dengan persoalan kelangsungan hidup mereka. Dili
menjadi kota metropolitan atau modern, bukanlah menjadi pikiran prioritas
mereka.
Tentu saja sah apabila setiap orang
memiliki pemahaman dan pengetahuan yang berbeda terhadap modernisasi. Begitu
juga, (tentu kita tidak dapat menyalahkan) bila hampir setiap orang akan
berbangga diri ketika ia menyebut dirinya sebagai manusia modern.
 |
| Penambang pasir di Sungai Comoro, Dili. Foto: |
Dalam konteks di atas, modern atau
modernisasi semata-mata dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dengan situasi
yang sebelumnya (yakni tradisional). Berangkat dari kacamata awam ini, maka
pemahaman mereka tentang “orang modern adalah orang yang gaya hidup dan
pemikirannya maju, sedangkan orang tradisional adalah orang yang gaya hidup dan
pemikirannya ketinggalan zaman (antigu)”.
Selanjutnya, mereka juga memaknai bahwa ‘orang modern tinggal di kota, sedang
orang tradisional tinggal di desa’. Beginilah orang-orang menjelaskan perbedaan
istilah ‘modern’ dan ‘tradisional’. Baiklah, jadi tulisan tentang ‘Dili dan Modernisasi’
ini berangkat dari pemahaman sederhana masyarakat awam tersebut.
Modernisasi juga dipandang sebagai sesuatu
yang mengglobal: modernisasi berarti globalisasi alias mendunia. Jika
memperhatikan terhadap sejarah perkembangan negara-negara modern saat ini, maka
modernisasi dengan ciri mengglobalnya tersebut dapat terwujud sebagai akibat
dari muncul dan kelanjutan dari revolusi borjuasi yang terjadi di belahan Eropa
beberapa abad yang lalu. Konsekuensi lanjut dari proses tersebut adalah
membuminya gerakan demokratisasi. Kemudian, modernisasi sangat terkait erat
dengan kemenangan para pengusung ide ‘demokrasi’ yang notabene ada hubungannya
dengan kebangkitan kelas menengah atau kelas borjuasi di sebuah negara. Dengan
demikian, maka gerakan modernisme dan globalisme secara mutlak mensyaratkan
adanya perubahan politik dan sosial. Tanpa adanya perubahan di dua bidang
tersebut, mustahil pergerakan modernisasi dapat terwujud. Tuntutan akan pasar
bebas dan perdagangan bebas sebagaimana yang melanda dunia saat ini merupakan
bagian dari proses perubahan politik dan social tersebut.
 |
| Dili dan aktivitas keseharian penghuninya. Foto: |
Dengan melihat sejarah perkembangan
demokrasi di seluruh penjuru dunia, maka perubahan politik dan sosial tersebut,
pertama-tama akan muncul dan berkembang di kota-kota besar atau utama, seperti
ibukota negara. Ibukota negara, khususnya, menjadi simbol dan pusaran utama
bagi pergerakan demokrasi sebelum meluas ke kota-kota dan desa-desa di
sekitarnya.
Pengalaman sejarah membuktikan bahwa
Dili di masa lalu telah menjadi simbol perlawanan dan eksistensi dari
masyarakat Timor Leste. Dili dijadikan sebagai representasi atas kemajuan dan
kemunduran gerakan nasionalisme anti penguasa kolonial, termasuk bentuk dan
formasi organisasi perlawanannya. Ketika itu, Dili memainkan peran berwajah
ganda: bagi pemerintah kolonial, Dili adalah pusat pengkonsolidasian kekuasaan
kolonial. Sedangkan bagi kelompok gerakan anti kolonial, maka Dili adalah pusat
pengkonsolidasian gerakan pembebasan nasional.
Konsekuensi dari kemerdekaan dengan
dibentuknya Negara RDTL, Ibukota Dili sebagai Ibukota Negara memainkan peran
sebagai sentral dari hampir semua aspek kehidupan bernegara, yakni (a) sebagai
sentral kegiatan pemerintahan, (b) sentral kegiatan politik; (c) sentral
kegiatan ekonomi; (d) sentral kegiatan sosial dan budaya (pendidikan,
kesehatan, agama, kesenian, dll). Dengan demikian, Ibukota Dili akan dipandang
sebagai ‘satu-satunya wakil atas muka/penampilan negara dan bangsa Timor
Leste’. Dengan bahasa sederhananya: hitam-putihnya ibukota Dili adalah
hitam-putihnya negara dan bangsa Timor Leste.
 |
| Palm Beach Apartment in Dili. Foto: |
Dengan melandaskan pada logika pemikiran
tersebut, maka Dili harus mengubah penampilannya: dari muka kusut, kusam dan
ketinggalan zaman/tradisional menjadi segar, cantik, dan modern.
Setidak-tidaknya, modernitas kota Dili akan ditampilkan melalui dibangunnya
sarana dan prasarana fisik yang serba ‘wah’ dan menjulang tinggi ke angkasa,
seperti pembangunan
gedung-gedung perkantoran pemerintahan berbintang (seperti rencana pembangunan
gedung Ministerio Finanças yang
berlantai 10) pembangunan gedung pertokoan/plaza (supermarket-supermarket
bertingkat serta pasar modern seperti Timor Plaza dan ruko/rumah-rumah toko
bertingkat di sepanjang kanan dan kiri jalan), pembangunan monument-monumen nasional yang megah (seperti
Taman Makam Pahlawan di Metinaro, patung-patung pahlawan---Nicolau Lobato di
Bundaran Comoro, Liurai Dom Boventura di Distrito Manufahi, Korban Masacre 12
Novembro 1991 di Motael, dan sebagainya),
pembangunan jalan kembar mulai dari Comoro hingga ke jantung kota---Palaçio do Governo beserta jembatan
kembarnya di Sungai Comoro, pembangunan apartemen-apartemen megah di tengah-tengah
pemukiman penduduk yang kumuh, serta aktivitas-aktivitas parade militer dalam
setiap event nasional, dan seterusnya. Termasuk juga penciptaan kemegahan dari
perspektif agama dengan dibangunnya Katedral/gereja.
Semua
bentuk pembangunan simbol kemodernan tersebut dilakukan dengan maksud dan
tujuan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa pembangunan di Timor
Leste sedang giat berjalan dan ada kemajuan, setidak-tidaknya pada infrastrutur
fisiknya. Dalam
konteks inilah bagaimana ibukota Dili hendak dihubungkan dengan ibukota-ibukota
negara di dunia, khususnya dengan negara-negara sekawasan, seperti Asia
Tenggara.
Hubungan yang ada sebenarnya adalah
sebuah network. Terbentuknya network ini, bukanlah secara kebetulan. Terdapat
actor-aktor internasional yang bekerjasama dengan actor-aktor nasional. Actor
utama yang paling berperan dalam ‘jaringan modernisasi’ tersebut adalah para
pelaku ekonomi transnasional. Pembangunan gedung-gedung perkantoran
pemerintahan, jalan kembar Comoro, serta gedung-gedung pertokoan modern yang
dilakukan oleh konsorsium internasional menjadi bukti atas network tersebut. Pertanyaannya
adalah ‘bagaimana actor internasional mampu melakukan modernisasi terhadap
ibukota Dili?’
 |
| Menteri Industri TL, Gil Alves saat meresmikan Timor Plaza |
Salah satu faktor yang menjadi penyebab
berhasilnya modernisasi merasuki kehidupan negara Timor Leste adalah adanya
kebijakan (politica) yang secara
sengaja dibuat oleh pemerintah yang berintikan pada arahan (mata dalan) agar negara yang
bersangkutan terintegrasi secara internasional (integrasi internasional), baik
kebijakan di bidang politik maupun ekonomi. Ibukota Dili saat ini---suka atau
tidak suka, terima atau tidak terima---sedang berada dalam lingkaran proses
pengintegrasian internasional tersebut. Dengan cara inilah, actor-aktor
internasional (kekuatan pemilik modal) mencoba melakukan penetrasi social dan
kultura dalam kehidupan masyarakat Timor Leste.
Sudah pasti, Dili sebagai ibukota negara
memiliki keterkaitan yang multidimensional dengan negara Timor Leste, baik yang
sifatnya psikis maupun fisik (isin-klamar).
Cepat atau lambat, Ibukota Dili dengan segala denyut kehidupannya akan
terpengaruh dan bergerak mengikuti dan sesuai dengan ritme dan melodi kehidupan
kota-kota besar dunia. Artinya, melalui ibukota Dili inilah secara tidak
langsung menjadikan masyarakat Timor Leste, khususnya penduduk yang tinggal di
kota Dili akan terkait dan terhubung dengan “masyarakat global yang notabene relatif lebih lama hidup dalam
konsep sebagai kota metropolis”.
C. Akibat Modernitas atas Ibukota Dili
 |
| Modernisasi Dili: Ada Si pembuang sampah & ada Si Pemungut Sampah. Foto: |
“Penobatan Dili
sebagai ibukota Negara RDTL bukanlah tanpa unsur kesengajaan. Terdapat latar
belakang politik dan ideologis yang jelas atas penobatan/pemilihan tersebut.
Sudah pasti, terdapat pertimbangan dan keputusan politik yang melatarbelakangi
penguasa Kolonialis Portugis ketika memutuskan memindahkan ‘ibukota’
kekuasaannya dari Oequsse ke Dili pada tahun 1769. Sudah barang tentu, bukanlah
sikap yang strategis untuk tetap meninggali Oequsse sedangkan rakyat di
sekitarnya terus-menerus melakukan pemberontakan, belum lagi saat melihat
datangnya ancaman dari saingan utamanya di Pulau Timor, yakni Belanda yang
memilih Kupang sebagai pusat dan sekaligus benteng pertahanannya.
Bagi Portugal,
Dili menjadi satu-satunya tempat tinggal terakhir untuk menyelamatkan segala sesuatu
yang dimilikinya di sekitar Asia Tenggara (khususnya Kepulauan Nusantara)
setelah kekalahannya dalam perebutan wilayah Maluku oleh Belanda. Dili,
karenanya dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menyelematkan
asset dan misi imperialismenya, seperti eksplorasi atas kayu cendana, kopi, dan
rempah-rempah lainnya; serta untuk mengamankan misi imperium keagamaannya
seiring dengan tugas yang dimandatkan oleh Vatikan sebagai Pasukan Salib di
kawasan Afrika, Amerika, dan Asia bersama-sama dengan Kerajaan Spanyol,
khususnya dalam mengkatholikkan penduduk Timor. Dengan didudukinya Dili,
serta-merta Portugal pun memulai membangun symbol-simbol kekuasaan ekonomi,
politik dan social-budaya.
 |
| Timorese & Indonesian Flag |
Hal yang serupa
juga dilakukan oleh Penguasa Jakarta ketika melakukan invasi ke Timor Leste
dengan menentukan Dili sebagai sasaran pertama dan utamanya. Menguasai Dili
berarti menguasai daratan Timor Leste, setidak-tidaknya secara politik. Maka,
langkah memborbardir Dili adalah keputusan dan sekaligus langkah yang strategis
bagi langkah-langkah berikutnya. Seakan-akan tidak mau kalah dengan penguasa
sebelumnya, penguasa Indonesia pun segera membangun symbol-simbol yang berbau
keindonesiaan guna menunjukkan eksistensi dan pengaruh heggemonii ideologinya,
baik kepada masyarakat Timor Leste maupun dunia internasional.
 |
| Salah satu peradaban UN yg terkenang bagi beberapa gadis Dili |
Pasca referendum
1999, pihak United of Nations/Perserikatan Bangsa-Bangsa juga melakukan hal
yang serupa. Pihak UN pun memilih Dili bukan sebuah desa di puncak gunung
sebagai pusat administrasi politik dan pengaruh keamanannya. Menyadari bahwa
misinya adalah sementara, maka berbeda dengan yang telah dilakukan oleh
Portugal dan Indonesia, bangunan-bangunan yang didirikan oleh petugas UN juga
bersifat temporal/non-permanen. Meskipun begitu, tidak semua sarana
infrastruktur yang dibangun bersifat non-permanen, contoh pembangunan sebuah
jembatan yang dirusak saat 1999. Pada hampir semua jembatan yang diproduksinya,
selalu disertakan ukiran atau lukisan bertuliskan negara anggota UN yang
bersangkutan.
Sebagaimana
majemuknya/pluralnya keanggotaan militer, polisi dan staff sipil UN yang datang
ke Timor Leste, membawa konsekuensi pembangunan sarana dan prasarana yang mampu
mendukung kinerja mereka, seperti dengan dibangunnya sarana perhotelan,
supermarket, bar-bar dan restaurant. Secara ideologis, semua itu dimaksudkan
untuk mengenangkan (memori) kepada masyarakat Timor Leste akan peran dan
eksistensi mereka selama di negeri ini.”
1. Konsentrasi Ekonomi-Kapital
 |
| Suasana Colmera, Dili. Foto: |
“Jika ingin
mendapatkan dollar, maka datanglah ke Dili; Jika ingin mendapatkan pekerjaan,
maka carilah di Dili; Jika ingin melihat sayur-mayur dan buah-buahan negara
lain yang segar dan bersih, Dili adalah tempatnya; Jika ingin kaya, maka
tinggallah di Dili; Jika ingin melihat kemiskinan dan pengangguran, maka lihatlah
di setiap sudut kota Dili; dan seterusnya”
Sekali lagi, proses modernisasi yang
dilakukan terhadap kota Dili merupakan bagian dari skenario global untuk
memasukkan hegemoni kekuatan yang pro pada neo-liberalisme. Dili akan dijadikan
sebagai kota yang megah dan terbuka oleh siapapun dan apapun. Semua dengan
alasan dan pembenaran: mengikuti arus globalisasi. Dengan demikian, modernisasi
ini akan bersifat memoderatkan pikiran dan sikap dari kekuatan-kekuatan
internal yang ada. Meskipun begitu, bukan berarti proses ini akan berjalan
mulus dan tanpa tantangan. Kasus modernisasi terhadap ibukota-ibukota negara di
belahan dunia pada akhirnya menimbulkan reaksi-reaksi penentangan serta munculnya
berbagai persoalan sosial yang ditimbulkannya. Begitu pula dengan Dili,
walaupun saat ini banyak kalangan yang mendukung atas proses modernisasi ini,
namun secara pelan dan pasti akan menimbulkan reaksi-reaksi penentangan akibat
efek negative yang ditimbulkannya. Berbagai permasalahan yang berujung pada
konflik sudah mulai bermunculan sebagai akibat dari proses modernisasi tersebut
walaupun belum disadarinya sepenuhnya jika hal itu berkaitan, seperti
menyangkut permasalahan status dan pengalihan fungsi lahan.
 |
| ANZ Bank: Bank Australia di Dili |
Sebagaimana yang telah dijelaskan di
atas, bahwa secara ekonomi, Ibukota Dili akan menjadi konsentrasi utama bagi kegiatan
ekonomi, khususnya perputaran modal. Sarana infrastrutur pendukung keuangan
akan dibangun di kota Dili, juga termasuk pertarungan-pertarungan di antara
sesama mereka. Beberapa sarana perbankan yang sudah dibangun sejak awal
kemerdekaan adalah Bank Mandiri yang sangat Indonesianis, Bank BNU yang begitu
Portugalis, dan Bank ANZ yang kelihatan betul Australinisnya. Beberapa jasa
pengiriman/transfers uang juga mulai banyak beroperasi di kota Dili, seperti
Wester Union, dan jasa-jasa swasta yang sifatnya pribadi yang bergerak di luar
mekanisme pasar yang ada.
 |
| BNU Bank: Bank Portugal di Dili |
Dengan terkonsentrasinya modal di Kota
Dili, menunjukkan bahwa Dili telah menjadi ‘rumah baru’ bagi para elit ekonomi.
maka Dili akan menjadi sasaran utama bagi pergerakan penduduk desa. Urbanisasi
akan menjadi hal yang tak terelakkan. Semua angkatan kerja dan pencari kerja
akan menyerbu kota Dili sebagai satu-satunya tempat melanjutkan kelangsungan
hidupnya.
Secara kasat mata, dapat dilihat bahwa
terjadi peningkatan jumlah pendatang (imigran luar negeri) yang mengadu nasib
di Kota Dili. Mayoritas imigran tersebut melakukan aktivitas perdagangan.
Mereka kebanyakan berasal dari Indonesia, China, Portugal, Australia dan Negara
Asia lainnya.
 |
| Mandiri Bank: Bank Indonesia di Dili |
Umumnya para imigran Indonesia, mereka
bergerak di sector formal dan informal, di antaranya berjualan pakaian seperti
yang ada di Kampung Alor---mayoritas berasal dari Sulawesi. Selain itu, ada
pula yang dengan cara berkeliling kota dengan cara menjajakan barang
dagangannya dari gang kampong ke gang kampong lainnya---pakaian dan kosmetik
serta makanan/bakso (pelakunya mayoritas orang Jawa). Meskipun begitu, dapat
dikatakan hampir semua rumah makan di ibukota Dili dimiliki oleh orang Jawa. Sebagian
imigran Jawa lainnya bekerja sebagai tenaga kasar (buruh-buruh bangunan) pada
proyek-proyek fisik. Kebanyakan, buruh-buruh kasar asal Jawa ini pola
kehadirannya dilakukan dengan cara dipanggil oleh pemilik proyek (pengusaha
pribumi yang juga menjalin rekanan bisnis dengan pengusaha asal Indonesia).
Jadi, kedatangan mereka dengan cara dimobilisasi. Ruang ekonomi inilah yang
dikuasai oleh imigran asal Indonesia.
 |
| An-Nur: Satu-satunya Masjid di Dili |
Masih terkait dengan keberadaan imigran
asal Indonesia ini, dalam hal bertempat tinggal di Dili, mayoritas tinggal
secara berkelompok. Imigran Indonesia asal Sulawesi, biasanya juga tinggal di
lokasi tempat berdagangnya. Di samping faktor hubungan etnisitas sesame meraka
juga dikarenakan factor keyakinan ritual mereka: akses ke Masjid An-Nur
(satu-satunya Masjid di Timor Leste yang masih eksis). Sedangkan imigran asal
Jawa, kebanyakan tinggalnya secara komunal dalam satu kompleks perumahan yang
disewa secara beramai-ramai.
Dalam hal imigran Indonesia asal etnik
China, mayoritas menguasai dan bermain dalam lapangan elit. Mereka biasanya
bekerjasama dengan China-China Timor serta menjalin hubungan mesra dengan para
pejabat pemerintahan terkait dengan proyek-proyek pemerintahan. Bukan rahasia
umum pula, bila mayoritas golongan inilah yang selama ini memfasilitasi para
pejabat pemerintah ketika melakukan aktivitas keluar negeri (menanggung tiket
pesawat, bayar hotel, sekaligus penyedia tukang pijatnya).
 |
| Hampir setiap sudut kota Dili ada toko China |
Sementara itu, hal yang tak kalah
menariknya adalah menjamurnya imigran asal China yang bergerak di sector
formal. Sepanjang mata memandang, sepanjang itu pula kita akan melihat
keberadaan imigran China dengan toko-toko dengan barang dagangannya. Toko-toko
milik imigran China kebanyakan menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga dan
peralatan pertukangan. Selain itu, banyak juga imigran China yang bekerja
sebagai buruh kasar pada proyek-proyek pembangunan gedung pemerintahan,
pertokoan dan perhotelan yang pemilik proyeknya adalah orang China. Sangat
berbeda dengan imigran Indonesia, maka keberadaan imigran China di Timor Leste
ini sangat terlihat jelas adanya backup
dari pemerintahan China melalui Embaixada
Republica Popular China untuk Timor Leste.
Dapat dikatakan pula, para imigran China
inilah yang mempelopori dibangunnya apartemen-apartemen untuk golongan kelas
menengah ke atas. Mereka juga bergerak di sektor pembangunan toko-toko serba
ada/guna dan perhotelan. Selain itu, mereka pun mulai menguasai sektor pendistribusian
minyak di Dili dengan cara mendirikan station
fuel.
Hal lain yang cukup mencengangkan adalah
mulai adanya aktivitas black market
pada nivel kelas tinggi yang terkait dengan tanah dan penggunaannya. Ambil
kasus di kawasan Hudi Laran, tempatnya di sekitar perempatan Hudi Laran. Di
area ini didirikan 2 station fuel, yang
keduanya dimiliki oleh pebisnis asal China. Di kompleks inilah, pebisnis China
mendirikan sederetan rumah toko (ruko) dengan status tanah: menyewa. Pada
awalnya, ruko-ruko ini diperuntukkan untuk kalangan mereka sendiri. Namun dalam
perkembangannya, ruko-ruko ini kemudian disewakan kembali dengan setiap ruko
seharga U$ 1.000.
 |
| Beginilah cara mengendalikan ekonomi Timor Leste |
Jadi kesimpulannya adalah bahwa saat ini
yang menjadi elit ekonomi di Timor Leste, khususnya ibukota Dili adalah para
imigran dan pengusaha asal China. Entah berapa persen, namun yang jelas bahwa
perputaran barang dan uang berada di tangan dan kendali mereka. Barang-barang
yang dijual dengan harga murah menjadikan kelompok China ini menjadi pemain
tunggal roda perekonomian modern Timor Leste. Pelaku ekonomi China mulai
mendominasi perekonomian Timor Leste.
Imigran lain yang jumlahnya banyak
adalah asal Portugal. Mayoritas mereka berada di Timor Leste terkait dengan
program portuguisasi bahasa Portugis di negeri ini. Selain itu, kebanyakan,
mereka bekerja di lembaga pemerintahan. Keberadaan imigran Portugis mulai
meningkat semenjak krisis ekonomi yang melanda Eropa. Dalam hal tempat tinggal,
mereka di fasilitasi oleh pemerintah Portugal dan juga Timor Leste (kerjasama
bilateral). Meskipun begitu, ada juga yang bergerak di bidang usaha, seperti
Perusahaan ENSUL---perusahaan milik Portugis yang bergerak dibidang kontruksi
serta memfasilitasi kebutuhan orang-orang Portugis dibekas negeri jajahannya
tersebut.
 |
| Gedung KEMLU TL: Buatan dan bantuan RRC. Foto: |
Beberapa imigran lain, yang nampak di
kota Dili adalah asal Afrika. Mayoritas mereka di Timor Leste sebagai akibat
dari kebijakan CPLP (Persatuan Masyarakat Berbahasa Portugis). peran mereka di
sector ekonomi tidak kelihatan, mengingat keberadaannya di negeri bumi lorosa’e
ini tidak terlepas dari kedatangan kontingen militer dan polisi UN/PBB asal
Afrika di masa lalu. Beberapa imigran Afrika, khususnya asal Mozambique dan
Angola juga tidak terlepas dari hubungan emosional politik dengan beberapa elit
politik Timor Leste di masa resistensi. Beberapa di antaranya juga masih ada
jalinan kekerabatan dengan orang Timor Leste---sebuah jaringan ikatan darah
yang sudah ada semenjak era kolonialisme Portugal beberapa abad silam.
 |
| Militer Australia di Dili (Krisis 2006). Foto: |
Jumlah imigran yang relative besar lain,
yang juga bermain di sektor ekonomi adalah asal India dan Banglades. Mereka mayoritas
berbisnis di sector formal dengan cara membuka pertokoan yang menjual
produk-produk elektronik dan juga garmen/pakaian. Meskipun jumlah mereka tidak
banyak, saat ini mereka terlibat persaingan dengan pelaku ekonomi asal China.
Sementara itu, keterlibatan di sector
ekonomi tidak seberapa ditunjukkan oleh imigran asal Australia. Hanya beberapa
warga Australia saja yang bergerak di sector bisnis, khususnya perbengkelan
yang inipun “sepertinya menjadi satu paket yang tak terpisahkan dengan
keberadaan misi Australia di Timor Leste”. Mayoritas mereka bekerja di sektor
publik dan pemerintahan, termasuk NGO’s.
 |
| Peoples & Traditional Markets in Dili. Foto: |
Dengan berbasiskan pada pengungkapan
fakta di atas, praktis perekonomian Timor Leste, khususnya Dili dikuasai dan
berada dalam kendali para pelaku ekonomi asing. Penduduk pribumi sendiri
kebanyakan bergerak di sektor informal, meskipun begitu ada juga yang formal,
namun dengan skala yang kecil.
Beberapa penduduk negara lain di Asia
yang mencoba mengadu nasib di Timor Leste adalah Jepang, Korea Selatan,
Singapura, Malaysia, dan Myanmar.
Jika menggunakan perspektif rasialisme,
penduduk pribumi yang bergerak di sector formal adalah warga negara keturunan
(hasil kawin campur dengan orang China) atau yang kemudian disebut dengan
‘China Timor’. Golongan inilah yang saat ini turut berkompetisi dengan para
pelaku ekonomi asing. Beberapa toko besar yang berperan sebagai penyupplai
kebutuhan pangan rakyat Timor Leste dilakukan oleh kelompok China Timor ini.
Khusus untuk import beras, mereka lebih banyak datangkan dari Vietnam dan
Thailand.
 |
| Local traditional markets in Dili. Foto: |
Sementara itu, mayoritas penduduk
pribumi sendiri lebih banyak bergerak di sector informal. Kebanyakan dari mereka berada di mercadu-merkadu, pinggiran
jalan, serta rumah-rumah yang dijadikan sebagai tempat usaha. Bentuk-bentuk
usaha yang mereka lakukan seperti berjualan kebutuhan pokok (beras, jagung,
sayur-mayur, ikan, dan kebutuhan rumah tangga) dengan cara dijajakan di merkadu/pasar
tradisional, pinggiran jalan kota Dili, mendirikan kios di rumah atau pinggiran
jalan, menggunakan gerobak atau dengan dipikul (ai-leba). Terdapat juga beberapa orang yang menjual kayu bakar,
bunga-bunga hias, serta kegiatan-kegiatan lain yang kesemuanya melibatkan tenaga
kerja keluarga. Namun,
eksistensi mereka juga mulai terancam oleh pedagang asal China. Banyak faktor
yang menjadi penyebab mengapa penduduk pribumi hanya mampu bergerak disektor
informal dan pelaku dagang kecil-kecilan.
 |
| Pesta adalah hal yang normal bagi penduduk Timor Leste |
Salah
satu faktor mendasar yang menyebabkan penduduk pribumi kalah bersaing dengan
pendatang, mungkin terkait dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada
diri pelaku ekonomi rakyat Timor Leste secara turun-temurun. Sistem nilai
budaya ini, mungkin pula yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi,
termasuk di dalamnya cara pandang mengenai: tatacara usaha/bisnis, cara
bekerja, cara pandang tentang tingkat keuntungan, cara pengelolaan keuangan,
sikap terhadap mitra dan kompetitor, strategi menghadapi resiko, dsb. Oleh
karena itu, penting untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh para
pengambil kebijakan (decision maker)
bahwa program pembangkitan/pemberdayaan perekonomian masyarakat, sebaiknya
dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) guna mengubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang
akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju dengan tidak menghilangkan unsur protectivo pada rakyat.
2. Konsentrasi
Politik
“Jika ingin
menjadi elit politik, maka itu hanya akan terjadi di Dili; Jika ingin membangun
kekuatan politik, maka mulailah dari kota Dili; jika ingin merebut dan duduk di
kekuasaan, maka Dili adalah tempat yang tepat; dan sebagainya.”
 |
| Para aktivis mahasiswa Timor Leste, FNLM |
Modernisasi terhadap ibukota Dili juga
akan membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan politik di negeri yang
pernah hidup di bawah sistem kolonialisme selama lebih dari 450 tahun ini. Tanpa
didukung oleh kebijakan politik, dapat dipastikan bahwa modernisasi akan
terlambat merasuki wajah kota Dili.
 |
| Sede Central Partido Socialista do Timor |
Tentunya, semua pihak akan sepakat bila
saat ini, Dili telah menjadi pusat bagi segala aktivitas dan pertarungan
politik antar kelompok kepentingan politik di negeri ini. Kondisi demikian
dapat terjadi mengingat Dili sebagai ibukota negara merupakan pusat dari segala
kegiatan pemerintahan dan birokrasi. Semua posisi jabatan birokrasi tinggi dan
kekuasaan berada di kota Dili. Jadi, sudah secara otomatis, maka semua elit
politik akan berkumpul dan memilih bertempat tinggal di kota. Setiap kelompok
politik dengan kendaraan politiknya akan selalu menjadikan Dili sebagai
barometer utama untuk mengukur kekuatan dan kekuasaan politiknya. Semuanya akan
berebut dan terkonsentrasi di kota Dili. Selain sarana dan prasarana modern
mulai ada, juga tak terlepas dari terkonsentrasinya modal di kota Dili. Wilayah
yang sempit menjadi ruang pergerakan tersendiri bagi para elit politik untuk
melakukan interaksi dengan para pemilik modal.
 |
| Isu komunal masuk dalam ranah politik (Krisis 2006 Timor Leste) |
Timor Leste, seperti halnya
wilayah-wilayah lain yang berada di kepulauan Indonesia bagian timur memiliki
dinamika politik tersendiri. Di samping sebuah konflik penentangan terhadap
kekuasaan kolonialisme, juga terdapat konflik horizontal yang sifatnya laten
yang acapkali terjadi. Sebuah konflik komunal yang terjadi antar etnik yang
ada.
Persoalan ‘lorosa’e’ dan ‘loromonu’
merupakan salah satu peninggalan dari masalah masa lalu yang hingga detik ini
masih kental terasa. Konflik terbesar sepanjang sejarah Timor Leste “modern”
adalah peristiwa 2006 yang lalu. Ketika itu, bagaimana antar penduduk dari
etnik yang berbeda terlibat saling serang dan saling bakar-menghancurkan
property pribadi masing-masing. Jika dicermati lebih lanjut, sebenarnya konflik
etnik ini tidak semata-mata bersifat horizontal, melainkan sudah masuk dalam
ranah vertikal (kekuasaan dan negara). Sentimen
etnik bercampur dengan kepentingan politik dari masing-masing individu elit
asal etnis tertentu.
 |
| Mariano Sabino (PD) - Mari Alkatiri (Fretilin) |
Semua elit politik di Timor Lorosa’e
mencoba menanamkan pengaruhnya untuk pertama kalinya dari kota Dili. Dari
ibukota, mereka menghimpun kekuatan. Setelah itu, baru ditransformasikan ke
area pedesaan. Tentu akan sedikit berbeda, manakala menyebut dan membandingkan
eksistensi elit politik negeri ini dengan elit politik negara lainnya.
celakanya lagi, dapat dipastikan bahwa semua elit politik tersebut tidak
sepenuhnya mampu melepas sentiment ke-etnik-kannya atau ke-regionalisme-annya.
Justru sebaliknya, acapkali menggunakan isu-isu tersebut untuk menarik simpatik
dan dukungan massa, khususnya saat menjelang pemilihan umum.
Sesuatu yang agak janggal bila kita
mengikuti paradigma lama, di mana yang namanya pejabat tinggi negara atau elit
politik harus dihormati dan disegani. Kenyataannya, di negeri yang konon
sebagai penjelmaan dari buaya ini, tingkat penghormatan masyarakat terhadap
mereka sangat rendah bahkan dapat dikatakan tidak ada.
 |
| Masyarakat terbelah menjadi 2: kaya dan miskin |
Pertarungan politik di Timor Leste ke
depannya, tentunya akan lebih dinamis dan varian lagi. Hal ini lebih banyak
disebabkan factor modernisasi beserta dampaknya. Modernisasi dengan faham
neo-liberalismenya, yang pada awalnya dianggap sebagai obat yang mujarab untuk
mengatasi persoalan ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan/kemakmuran bagi
rakyat, pada akhirnya hanya akan melahirkan dua lapisan masyarakat yang saling
bertolak belakang: lapisan minoritas hidup dalam kelimpahruahan harta dan
tinggal di langit ketujuh, sementara lapisan mayoritas hidup dalam kesengsaraan
seperti budak di erra kolonialisme Portugis dan tinggal di perut bumi bercampur
dengan lahar panas atau cengkraman kemiskinan. Selain itu, dalam hal mensikapi
hidup, maka lapisan golongan minoritas akan lebih pragmatis sedangkan lapisan
mayoritas akan lebih radikal.
 |
| Tak ada makan siang gratis: kongsi antara elit politik&ekonomi |
Ramainya pertarungan politik juga disebabkan
mulai menguatnya perkongsian antara elit politik dengan elit ekonomi. Saat ini,
perkongsian tersebut masih berusaha mencari format dan saling memahami antara
satu dengan lainnya serta masih berjalan secara sembunyi-sembunyi walaupun
semua mata melihat dan mengetahuinya. Namun, ke depannya, perkongsian ini akan
berjalan secara terbuka. Keterbukaan ini juga tidak terlepas dari hubungan
timbale balik/balas jasa selama ini, yakni selama kampanye pemilihan umum para
pengusaha memberikan bantuan financial, lalu pada gilirannya para elit politik
yang dapat posisi di kekuasaan/pemerintahan mengembalikan hutang tersebut.
Mengapa? Ini tidak terlepas dari peran mereka saat ini sebagai pembela
modernisasi ala neo-liberalisme.
 |
| Generasi 1975 Timor Leste (FRETILIN) |
Pertarungan politik di Timor Leste juga
akan memasuki episode baru seiring dengan habisnya secara biologis usia dari
generasi tua. Kuatnya dominasi generasi tua telah menyebabkan terpolarisasinya
generasi muda dalam dua kekuatan, yakni kekuatan yang pro pada generasi tua
dengan segala kebijakannya, dan kekuatan yang kontra, khususnya pada
kebijakan-kebijakan yang diiambil saat ini.
Dilihat dari komposisi organisasi,
satu-satunya organisasi sosial politik yang relative mampu bertahan dalam
menghadapi goncangan natural tersebut adalah FRETILIN. Relativitasnya ini lebih
banyak disebabkan oleh faktor emosional bukan ideologis. Sementara itu, partai
politik lain seperti CNRT akan menjadi organisasi pertama yang tercerai-berai
mengingat organisasi ini secara struktural dan ideologis kurang terbangun
selain faktor ketergantungan yang besar pada figur Xanana Gusmão. Partai politik
selanjutnya adalah PD (Partidu Demokratiku). Organisasi ini juga sedang
dihadapkan pada persoalan bagaimana meredam konflik internal terkait dengan
kepemimpinan para elit partai yang duduk di kursi kekuasaan yang berhadapan
dengan massa/kadernya yang berada di luar kekuasaan. Partai lain yang sedikit
memiliki harapan masa depan adalah PST (Partidu Sosialista Timor), meskipun
begitu, terdapat persoalan internal yang menuntut untuk segera dibenahi. Karena
jika tidak, partai yang secara tegas menyatakan diri berideologi
Marxisme-Leninisme ini akan ditinggalkan oleh para simpatisannya.
 |
| Membro Falintil di Dili, 1999. |
Di sisi lain, lemahnya birokrasi
pemerintahan beserta lembaga-lembaganya (birokrasi sipil dan institusi F-FDTL
dan PNTL) akan turut mewarnai pertarungan politik tersebut. Modernisasi yang notabene identik dengan
ketidaknasionalisan atau ketidakpatriotisan pada akhirnya akan memancing kedua
institusi negara tersebut sebagai “hakim” atas hilangnya semangat cinta negara.
Tanda-tandda bagaimana sebenarnnya kedua institusi ini, khususnya institusi
F-FDTL mulai kehilangan kepercayaan terhadap elit politik sipil dapat dilihat
pada peristiwa upacara bendera yang dilakukan oleh anggota F-FDTL pada setiap
pagi (07.30) di kantor Ministerio Defeza
e Segurança. Upaya pembangunan nasionalisme ala F-FDTL ini dilakukan dengan
menghentikan semua pengendara dan pejalan kaki yang melewati jalan Fatuhada
tersebut. Sebuah usaha pembangkitan semangat nasionalisme di tengah-tengah
melunturnya semangat dan perilaku cinta tanah air dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan Timor Leste.
 |
| Kontradiksi sosial dalam masyarakat akan melahirkan gerakan sosial |
Situasi sebagaimana dijelaskan di atas,
akan memicu lahirnya pemimpin-pemimpin baru, generasi-generasi baru yang anti
pada kemapanan sebagaimana yang dirasakan oleh lapisan minoritas saat ini.
Generasi baru ini, sudah pasti pikiran (visi dan misi politiknya) akan lebih
banyak didasarkan pada realitas yang berkembang sekarang. Sebuah realitas yang
juga dirasakan oleh lapisan mayoritas tertindas dalam masyarakat Timor
Lorosa’e. Dengan demikian, Dili akan menjadi arena pertarungan politik yang
bukan sekedar antara elit politik, melainkan juga antara elit politik dengan
kelompok masyarakat; serta antar kelompok di dalam masyarakat itu sendiri.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan terjadinya perpecahan di masing-masing
institusi PNTL dan F-FDTL.
3. Dampak Sosial Budaya
 |
| UNDIL, salah satu universidade di Dili |
“Jika ingin
melihat surga, maka tersedia di kota Dili; Jika ingin melihat bangunan dan
fasilitas yang megah dan modern, ada di Dili; Jika ingin melihat kemajemukan
yang terkotak-kotak, Dili adalah rumahnya; Jika ingin melihat pencopet,
kriminalitas, preman, dan pelacur, maka Dili adalah lokalisasi yang tepat; Jika
ingin melihat perkelahian antar pemuda, maka Dili telah menjadi ring dan arena
bermain utamanya; Jika ingin melihat kesenjangan social antara kelas kaya
dengan kelas miskin, maka Dili adalah kacamata yang tepat; Jika ingin melihat
peradaban baru dengan peradaban lama dalam kondisi perang dingin, maka melihat
perilaku Dili adalah pilihan yang tidak salah; Jika ingin pintar, maka
datanglah ke kota Dili sebab pendidikan berlokasi di sini; Jika ingin sehat,
maka berobatlah ke rumah sakit-rumah sakit di kota Dili; Jika ingin melihat
bagaimana revolusi social akan berlangsung, maka Dili adalah tempat yang tepat
untuk memulainya; dan seterusnya.”
 |
| Kantor Gubernur Propinsi Timor-Timur, 1993 |
Secara sosial-budaya, bentuk dan gaya
arsitektur menjadi simbol atas ideologi dari kelompok-kelompok sosial
penyembahnya. Penataan ibukota Dili yang rapi, indah dan nyaman akan menjadi
cerminan dari para elit politik-penguasanya. Jika penataan terhadap Dili
asal-asalan, sesungguhnya mencerminkan kondisi semrawutnya para elit tersebut.
Sebuah bangunan rumah pribadi yang megah
dan bergaya arsitektur modern sebenarnya
menjadi simbol atas status ekonomi dan sosial pemiliknya. Begitu juga,
dengan bangunan rumah gubuk merupakan konkretisasi atas kondisi pemiliknya.
Dengan demikian, bentuk dan gaya arsitektur merupakan cerminan ideologi sosial
mereka, yang sudah pasti mensiratkan adanya defferensiasi/perbedaan antara
langit dengan bumi; kaya versus miskin.
 |
| Mercado lama Dili: arsitektur ala Portugis |
Sebagaimana yang telah diungkapkan di
atas, bahwa modernisasi sekedar dipandang sebagai sesuatu yang bukan
tradisional dan ketinggalan jaman. Secara sosial, modernisasi akan membawa
dampak perubahan pada pola kehidupan sosial masyarakat Timor Leste. “Kota masa kini adalah ruang pengucilan
kolektif dan kekerasan individual, yang ditransformasikan oleh berbagai umpan
balik (feedbacks) menjadi suatu aliran yang tak pernah berhenti dan tak pernah
mulai. Kehidupan menjadi abstraksi dan kota menjadi bayang-bayang.”
 |
| Anak-anak kecil di Dili juga berjualan |
Banyaknya keluhan dan kestressan dalam
level tertentu dari beberapa penduduk Dili menunjukkan bahwa Dili sedang menapaki
dan bertransformasi menjadi ruang dan tempat yang hampa. Memang, secara fisik
kita dapat melihat dengan jelas melalui mata akan bangunan-bangunan perkantoran
pemerintahan yang megah serta gedung pertokoan modern dengan segala isinya yang
modern, tetapi secara fisik pula masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk
menjamahnya. Produk fisik tersebut secara psikologis telah berubah menjadi sesuatu
yang hampa dan abstrak. Dari hari ke hari, bangunan hampa ini kian bertambah.
Ujung dari semua itu adalah bahwa masyarakat Dili, khususnya, akan merasa
teralienasi secara sosial. Nilai-nilai kolektivisme masyarakat yang sebelumnya
menjadi penyelamat kehidupan mereka, akan meluntur berubah menjadi sesuatu yang
sangat individualistik: “Jika punya uang
maka akan mampu menikmati kehampaan tersebut, namun bila tidak…akan terus
tinggal dan hidup di dalam rumah yang model arsitekturnya tidak karuan dengan
sebuah kandang babi di belakang/depan halaman rumah.” Jadi, Dili telah
menjadi kota yang menciptakan diferensiasi/perbedaan pada penghuninya.
Dengan munculnya kesumpekkan dan
kesetressan sosial tersebut, menunjukkan bahwa ruang (luasnya area) tidak
menjadi ukuran bagi kenyamaan penduduk untuk dapat menikmatinya. Bangunan yang
megah, jalanan yang diperlebar, dan sebagainya menjadi sesuatu yang kehilangan
makna. Sebagian orang akan tetap merasa bahwasannya situasi Dili sangat sunyi
dan sempit. Tentunya, kondisi psikologis yang demikian bukan semata-mata
terbentuk oleh satu factor melainkan perpaduan dari carut-marutnya kondisi
ekonomi, politik dan lingkungan social masyarakat.
 |
| Dili dan masa depan penghuninya |
Beberapa elit politik dan ekonomi,
sepertinya menyadari akan impak social dari proses modernisasi atas ibukota
Dili ini. Karenanya, saat ini juga, mereka mulai membangun tempat-tempat
“rileks” buatan seperti taman bermain (jardim), tempat nongkrong di café hotel,
taman bermain anak di kompleks pertokoan seperti yang ada di Lantai 1 pertokoan
Timor Plaza, serta masih banyak lainnya. Lokasi-lokasi ini secara tidak
langsung mulai mempengaruhi pemikiran sebagian orang untuk lebih memilih pergi
ke lokasi tersebut daripada pergi berkenalan dengan tetangga kanan-kirinya.
Dalam konsteks inilah, tingkat komunikasi sosial penduduk dalam satu kampung/bairo
mulai mengalami penurunan frekuensi dan intensitas hubungan. Anak-anak yang
selesai pulang dari tempat bermain di pertokoan dengan bangga akan menceritakan
pengalamannya pada teman sepermainannya yang sama sekali tidak mengetahui akan
hal tersebut (dalam konteks anak ini,
terjadi pula perbedaan referensi/pengalaman atas akses terhadap kemajuan
teknologi).
 |
| Rumah adat Tutuala, 1972 |
Dalam perspektif sosial budaya, sejarah
model/gaya bangunan di Timor Leste mengalami evolusi sebanyak 4 (empat kali),
yakni model arsitektur original dengan nuansa khas komunalnya sebagaimana yang
dapat dilihat sekarang. Model ini merupakan model pertama semenjak penduduk ini
mulai mengenal cara tinggal permanen. Sebuah bangunan rumah panggung yang
terbuat dari kayu dengan dinding dari jerami/rumput ilalang/bilahan dahan pohon
palam (blebak) serta bentuk atap
menjulang tinggi sebagaimana yang masih
tersisa di Lospalos; atau rumah beratap dengan bentuk setengah lingkaran. Sisa-sisa
peradaban dengan arsitek ini, saat ini kebanyakan dijadikan sebagai simbul
“tradisionalitas pemegang teguh kebudayaan masyarakat local” dengan istilah
rumah adat (uma lisan). Masih
dipertahankannya arsitektur ini sebagai penanda “kekuasaan penduduk local”.
 |
| TNI & bangunan ala Portugis di Dili, 1975 |
Fase kedua adalah model arsitektur ala
Eropa yang diperkenalkan oleh Portugis. Bangunan bergaya Eropa ini sangat
kental dengan nuansa ke-eropa-annya yang berbentuk kotak---kubus memanjang ke
atas---dan tidak lagi 100 persen terbuat dari kayu, melainkan dari bahan
material seperti semen dan pasir serta menggunakan besi sebagai urat/otot
rumah. Sebuah arsitektur kokoh dan angker dengan atap yang terbuat dari genting
beton/cor. Untuk pertama kalinya, penguasa kolonialis Portugis memperkenalkan
corak bangunan ini di kota mulai dari Ouqusse, Dili dan meluas ke kota-kota
distrik lainnya. tentunya, bangunan pertama yang didirikan adalah bangunan
untuk sarana public, seperti gedung pemerintahan, perumahan para pejabat
Kolonialis, serta pasar (Mercado).
Jadi, Portugis mendirikan bangunan tersebut guna menunjukkan diri sebagai
bentuk dominasi kulturalnya.
 |
| Gedung pemerintahan ala Indonesia di Dili |
Fase ketiga adalah arsitektur bergaya
Asia ala Indonesia. Suatu model bangunan yang bercirikan khas rumah-rumah yang
saat ini banyak didirikan oleh orang Indonesia. Bangunan ala Indonesia,
sebenarnya ada kemiripan dengan ala Portugis. Perbedaannya terletak pada
tingkat ketinggian dan model atap. Bangunan berarsitektur Indonesia lebih
rendah dan ramping, serta menggunakan atap yang terbuat dari kaleng/seng. Di
era kekuasaan Indonesialah proses massalisasi perubahan peradaban dilakukan.
Gedung-gedung perkantoran semua hampir serupa dengan yang ada di kota-kota
Jawa, perumahan-perumahan penduduk diseragamkan, begitu juga dengan sarana
publik lainnya.
Perbedaan antara Portugal dengan
Indonesia adalah “bila Portugal langsung menghabisi arsitektur original
masyarakat lokal Timor Leste, maka kebijakan yang diterapkan oleh penguasa
Indonesia berlainan lagi: mengkombinasikan antara seni arsitektur penduduk
setempat dengan seni arsitektur modern. Sisa-sisa dominasi ini dapat dilihat
saat ini seperti gedung pemerintahan daerah yang dipakai sebagai kantor
Kedutaan Besar Australia di kawasan Fatuhada, Dili: sebuah bangunan yang
atapnya bergaya uma lisan Lospalos.
Selanjutnya, fase keempat adalah model
arsitektur di era kemerdekaan. Terjadi pertarungan ideologis atas model
arsitektur bangunan di ibukota Dili saat ini. Portugal dengan segala
keterbatasannya mencoba tetap mengukuhkan cengkeraman arsiteknya atas
bangunan-bangunan Negara (Markas Besar Policia Militer di Balide, Istana Negara
di Lahane, Gedung Museum, dan beberapa bangunan lainnya). Sementara itu,
arsitektur ala Indonesia masih juga terus dijadikan referensi oleh penduduk
Timor Leste saat membangun gedung perkantoran atau rumah pribadi. “Tetap
abadinya” arsitektur ala Indonesia ini juga tidak terlepas dari latar belakang
intelektual (Sarjana Teknik) Timor Leste yang mayoritas menamatkan
pendidikannya di Indonesia, serta adanya hubungan kerja antara penguasaha Timor
Leste dengan beberapa ahli arsitektur Indonesia.
 |
| Palacio Presidente: Produk bangunan berarsitektur China, Dili. Foto: |
Masih terkait dengan gaya arsitektur
ini, hal yang cukup mencenangkan adalah mulai mengguritanya gaya dan model
arsitektur ala China. Bangunan-bangunan perkantoran pemerintahan yang merupakan
hasil kerjasama antara Pemerintah Timor Leste dengan China, 90 persen dapat
dikatakan bergaya China (atau, setidak-tidaknya warna yang tetap dipertahankan
adalah warna khas China: merah dan kuning), seperti kantor Kepresidenan
(Ai-tarak Laran), Kementerian Luar Negeri (Pantai Kelapa), serta masih banyak
lainnya.
Jika semua bangunan di atas
dibidani/diotaki oleh ahlinya, maka pandangan kontras terlihat pada bangunan
rumah penduduk. Mayoritas, gaya perumahan penduduk diarsiteki secara langsung
oleh si pemilik rumah atau dengan saran dari tukang/badaen penggarap rumah. Minimnya pengetahuan ilmiah (teori) serta
dana yang ada menyebabkan gaya arsitekturnya tidak karuan dengan kontruksi yang
asal-asalan juga, yang seringkali tidak mengindahkan kondisi panasnya cuaca
Dili dengan ukuran ketinggian rumah. Rata-rata, rumah penduduk hasil karya
arsiteknya sendiri ini tersusun oleh 12 batako/blok atau sekitar 2,4 meter
dengan komposisi atap mendatar, bukan curam.
 |
| Traditional Markets in Dili |
Pada saat pertokoan-pertokoan modern
belum ada, hampir dipastikan bahwa semua komunikasi dan interaksi social
penduduk Dili terjalin di market-market tradisional, baik golongan kaya maupun
miskin. Namun, semenjak didirikannya bangunan market-market modern, maka
sebagian pembeli di pasar tradisional tersebut mulai beralih ke market modern.
Dengan demikian, dari segi kuantitas interaksi social, maka pesertanya
berkurang. Dari segi ekonomi, jelas pendapatan para pedagang di pasar
tradisional juga mengalami penurunan. Pada konteks inilah, bagaimana keguncangan
social mulai meletus.
Dengan demikian, saat ini sedang
berlangsung peperangan untuk merebut dominasi dan pengukuhan atas ideologi
kekuasaan (cultural) dari masing-masing kelompok yang bermain di Ibukota Dili.
Di mana selain persaingan di antara sesama arsitektur, juga pertarungan antara
bangunan perusahaan dengan bangunan pribadi/penduduk kebanyakan. Semuanya ini sebagai manifestasi atas
pertarungan ideologi-ideologi sosial.
Dili telah menjadi ruang bagi masuknya
peradaban baru yang membawa nilai-nilai dan nnorma-norma baru pula. Semua itu,
cepat atau lambat akan mempengaruhi penghuninya. Setidak-tidaknya, penduduk
Dili akan terpolarisasi dalam dua golongan yang saling bertenttangan, yakni
golongan yang pro pada peradaban baru dan golongan yang anti terhadap peradaban
baru. Masing-masing keyakinan tersebut akan semaksimal mungkin disuntikkan pada
keseluruhan masyarakat.
 |
| Mapa Linguistic in Timor Leste. Semua etnik berkumpul di Dili |
Dili akan menjadi ibukota urbans. Semua
etnik yang berada di Timor Leste mulai dari Tutuala hingga Oequsse, dari tasi mane hingga tasi feto, serta etnik-etnik lain asal negara lain, semua akan
menyerbu dan mengadu nasib di Dili. Jika melihat kondisi sekarang,
masing-masing etnik (ketika tinggal di Dili) menempati lokasi-lokasi tertentu
yang kemudian menjadi identitas keberadaan sosial mereka. Dengan melihat trend
kedatangan kaum urban, dapat ditarik sebuah garis merah bahwa asing-masing
orang yang baru datang dari desa, maka tempat pertama yang akan dituju dan dijadikan
sebagai tempat tinggal adalah rumah dimana anggota keluarga atau yang masih ada
hubungan sesame etnik berada. Orang asal suku Mambai, tentu akan lebih nyaman
tetap tinggal dengan sesame Mambai, begitu juga orang asal etnik Fataluku,
Makasae, Kemak, Bunak, dan sebagainya.
Pluralism ini merupakan momentum bagi
munculnya benturan-benturan sosial baru diantara komunitas yang ada yang
sifatnya lebih kompleks. Adanya differensiasi sosial akan pula mempengaruhi
proses interaksi dan komunikasi sosial antar anggota komunitas, dan ini menjadi
pra kondisi awal atas munculnya konflik sosial.
Berjubel-jubelnya kendaraan roda empat
di Dili, menjadikan jalanan kota Dili terasa sempit. Setiap pagi, siang dan
sore, jalanan utama kota Dili dilanda kemacetan. Masih rendahnya kesadaran
dalam berkendaraan, seringkali menjadi penyebab terjadinya kecelakaan
lalu-lintas. Belum lagi ditambah dengan mentalitas arogansi yang kurang menjaga
sarana dan prasarana public di jalan raya dari para pengendara atau penduduk
yang tinggal di sekitar kanan-kiri jalan. Mereka dengan rasa percaya diri akan
membongkar batas pemisah jalan yang terbuat dari beton yang dipasang persis di depan rumahnya. Alasannya satu:
tidak mau berputar. Padahal aksi ini menjadi salah satu faktor penyebab
terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Panasnya cuaca/iklim ibukota Dili, juga
turut mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Rumah-rumah penduduk yang
mayoritas tanpa menghitung sirkulasi udara beserta kelembaban dan kepanasannya
menjadi penyebab panasnya suhu di dalam rumah. Sudah pasti, situasi demikian
akan menyebabkan situasi di dalam rumah selalu dalam keadaan “panas”. Penghuni
rumah akan mudah terpancing akan emosinya.
Hal yang serupa juga terjadi di luar
rumah. Panasnya cuaca Dili akan memprovokasi orang untuk berlaku tidak sabaran.
Kebanyakan, penduduk Dili dan Timor Leste adalah manusia yang temperamental.
Persoalan kecil dapat menjadi besar. Persoalan kemacetan di jalanan akan memicu
lahirnya pertengkaran. Factor geografis ini, akan semakin menemukan bentuknya
menjadi persoalan social yang serius manakala berkorelasi dengan persoalan
ekonomi dan politik.
Secara social, variable lain yang
memudahkan masyarakat kota Dili mudah terpancing dalam konflik horizontal
adalah maraknya dan sudah mentradisinya minuman beralkohol. Jika dibadingkan
antara kehidupan masyarakat Dili dengan masyarakat di Surabaya, sangat berbeda.
Di Surabaya, seorang tamu cukup disuguhi dengan segelas air putih, kopi atau
the dengan kue/makanan ringan lainnya. Sementara bagi masyarakat Dili, hal
seperti itu tidak biasa; akan mengurangi gengsi tuan rumah bila di atas meja
tidak tersedia minuman beralkohol. Situasi demikian juga normal terjadi dalam
setiap kerumunan anak-anak muda di pinggiran jalan atau gang-gang perkampungan.
Seringkali pula, konflik social di kota
Dili, dipicu oleh ulah sebagian pemuda yang tergabung dalam organisasi beladiri
(arte marçiais). Sikap solidaritas
sesame anggota seringkali menjadi alasan utama bagi sekelompok pemuda yang
tergabung dalam organisasi tersebut berhadapan dengan organisasi beladiri
lainnya.
Terkait dengan persoalan organisasi
beladiri, maka hingga detik ini, pemerintah belum mampu membuat sebuah
peraturan yang tepat guna mengatasinya. Ketiadaanya peraturan pengatur serta
lemahnya kebijakan politik pemerintah dalam menyelesaikannya, seringkali memicu
institusi F-FDTL, khususnya semenjak dipimpin oleh Panglima Lere Anan Timor
untuk selalu mengeluarkan statemen bernada ancaman terhadap para pelaku
instabilitas lokal atau nasional.
Semua kasus di atas hanyalah bagian dari
permasalahan kecil yang saat ini terjadi di kota Dili. Masih banyak persoalan
lain, yang intinya menjadi factor penyebab bagi mudahnya masyarakat Dili untuk
terlibat dalam arena perkelahian yang sifatnya horizontal.
 |
| Program agrikultura tak mampu mencegah urbanisasi penduduk ke Dili |
Di sisi lain, usaha-usaha pencegahan
atas arus urbanisasi yang dilakukan oleh pemerintah kurang mendapatkan respon
positif dari masyarakat. Melalaui Ministeriu Agrikultura e Peskas misalnya,
usaha-usaha pemberdayaan petani beserta pemberian peralatan kerja pertanian
secara gratis, ternyata tetap tidak mampu menahan keinginan para penduduk desa
untuk dating ke kota Dili. Bahkan, pemerintah dengan menggunakan Pakote
Dezenvolvimentu e Desentralisasaun (PDD) juga tetap tidak mampu menghambat laju
kepindahan penduduk tersebut. Dengan dua kasus ini pula, maka kemungkinan besar
bahwa kebijakan desentralisasi pemerintah dalam 5 tahun ke depan, seperti
dengan membangun infrastruktur pemerintahan distrital dengan memajukan peranan
governu local beserta parlemen distrital akan berakhir pada nasib yang sama:
tidak mampu menghentikan arus urbanisasi ke Dili.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan
mengadu nasib ke Dili bukan semata-mata faktor ekonomi dan politik. Seseorang
akan tetap berangkat ke Dili dan tinggal di Dili, ketika ada anggota
keluarganya yang “mengalami kesuksesan”. Selain itu, masih kuatnya hubungan
kekerabatan di antara mereka, seperti seorang keponakan akan tetap menjadi
tanggungjawab dari paman atau om-nya (tiun)
dalam hal sekolah dan kebutuhan lainnya, manakala ia berada di kota Dili.
Faktor-faktor demikian menjadi sekian banyaknya variabel yang semakin
memperumit pola dan arus urbanisasi di Timor Leste beserta penanganan atas
dampak yang ditimbulkannya.