Tampilkan postingan dengan label Kultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kultura. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE” DI TUTUALA, LOSPALOS (TIMOR LESTE): AWAL PERADABAN BANGSA FATALUKU


LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lukisan Dinding Tutuala menyerupai gambar buaya
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”: 
AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
By Vladimir Ageu DE SAFI’I

Pada judul artikel pendek ini, saya sengaja menggabungkan dengan sebuah tanda hubung antara kata ‘lukisan’ dengan ‘tulisan’ dengan maksud untuk lebih menyederhanakan pemaparan fakta peninggalan bersejarah ini. Dalam konteks sekarang, lukisan adalah sebuah symbol berupa gambar hasil karya tangan manusia dengan maksud mengungkapkan keinginan, pikiran, serta imajinasinya yang dituangkan dalam media tertentu. Sedangkan tulisan adalah sebuah symbol berupa aksara dalam bentuk deretan atau barisan hasil karya tangan manusia dengan maksud mengungkapkan keinginan, pikiran, serta imajinasinya yang dituangkan dalam media tertentu. Sekali lagi, definisi sederhana atas dua kata tersebut mengacu pada zaman sekarang. Mengingat ini terkait dengan prasasti atau bukti sejarah peradaban manusia, maka dalam tulisan ini selanjutnya, saya akan menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian---namun dengan maksud yang sama.



A.    Prasasti Bersejarah
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Para ilmuwan social menamai semua lukisan dan tulisan pada dinding goa atau batu karang sebagai warisan sejarah peradaban manusia pra-sejarah. Bagi saya sendiri, penyebutan sebagai manusia pra-sejarah terasa kurang tepat dan kurang ‘mengenakkan perasaan’. Alasannya sederhana bahwa zaman ‘pra-sejarah’ (tempo dulu) akan berlanjut pada zaman ‘sejarah’ (tempo sekarang) yang tentunya akan diikuti dengan zaman ‘pasca-sejarah’ (tempo mendatang). Sedangkan alasan kurang mengenakkannya perasaan, saya dasarkan pada argument bahwa ‘seolah-olah manusia tempo dulu adalah manusia yang ketinggalan zaman dengan kadar intelektual yang rendah’. Padahal, jika hal ini kita cermati lebih mendalam lagi, warna-warni cat beserta goresan yang melekat pada lukisan-tulisan dinding goa yang mana masih terlihat dan tidak pudar di masa sekarang menunjukkan betapa hebatnya ilmu pengetahuan terkait dengan peramuan cat mereka---sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh manusia sekarang (lebih-lebih dengan kualitas cat pabrikan yang ada).[1]

B.   Jejak Lukisan-Tulisan di Dinding Gunung Tutuala
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Dinding Ili Kere-kere, Tutuala
Masyarakat Tutuala menamai tempat diketemukannya lukisan dinding goa ini dengan istilah Ili kere-kere, yaitu sebuah penyebutan menurut bahasa masyarakat setempat: bahasa Fataluku. ‘Ili’ adalah gunung, sedangkan ‘kere-kere’ berarti tulisan. Kata ‘kere-kere’ dalam bahasa Fataluku menyerupai istilah ‘hakerek’ dalam bahasa Tetum yang mengandung pengertian ‘menulis’, yang dibentuk oleh dua kata: ‘halo’ (membuat/melakukan) dan ‘kerek’ (tulisan).[2] Bahasa Fataluku adalah salah satu bahasa dari sekitar 30-an bahasa dan dialek yang berkembang dalam masyarakat Timor Leste.
Sementara itu, kata ‘Fataluku’ merupakan bentukan dari dua kata: ‘fata’ (kuat/tegas/keras) dan ‘luku’ (bicara/percakapan), yang artinya kurang lebih ‘kekuatan kata’ atau ‘bicara tegas’ atau ‘bicara lantang’. Masyarakat Fataluku mendiami lebih dari dua pertiga wilayah Distrito Lospalos dengan jumlah komunitas sekitar 35.000 orang. Mereka tersebar di 3 subdistrito/kecamatan dari 5 subdistrito yang ada, yakni Tutuala, Lospalos, dan Lautem/Moro. 2 subdistrito sisanya dihuni oleh 2 dialek bahasa yang berbeda, yakni Subdistrito Iliomar oleh sub-etnik berbahasa Makalero dan Subdistrito Luro oleh sub-etnik berbahasa Makasa’e dengan dialek Sa’ane (campuran 3 bahasa: Makasa’e, Makalero dan Fataluku).
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-
Bagi masyarakat Fataluku, khususnya penduduk Tutuala, keberadaan Ili Kere-Kere tidak dipandang sebagai sesuatu hal yang berlebihan, selain sebagai sesuatu yang sacral yang sudah barang tentu terkait dengan hal yang berbau magic. Karena mengandung unsure kesakralan inilah, maka masyarakat setempat hanya menyebutnya secara sepintas saja (tidak dibicarakan secara lebih mendalam). Intinya, keberadaan dan hubungan Ili Kere-Kere dengan masyarakat Tutuala berkisar dalam dunia kepercayaan, yang juga merupakan bagian dari kerahasiaan spiritual-adat mereka.
Biasanya, penyebutan Ili Kere-Kere dalam makna penjiwaan (totality) akan dilakukan dalam acara-acara ritual adat, di mana kata-kata yang terucap tidak lagi menggunakan bahasa Fataluku, melainkan bahasa induk Fataluku yang sekarang sudah tidak ada lagi. Bahasa yang punah ini disebut bahasa ‘Lovaia’ atau ada juga yang menyebutnya ‘Makua’. Saat ini, sisa-sisa perbendaharaan kata pada bahasa Lovaia ini hanya bisa kita dengar tanpa mengerti akan artinya dalam upacara adat. Generasi Fataluku sekarang biasa menyebut kata-kata Lovaia sebagai bahasa tinggi, yakni bahasa suci/sacral yang hanya diketahui oleh para ketua/pimpinan adat setempat (khususnya Tutuala).
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Jadi, keberadaan Ili Kere-Kere sangat berkait erat dengan keberadaan masyarakat Fataluku Tutuala itu sendiri, khususnya keterkaitan ‘rahasia’ antara mereka (Fataluku) dengan masyarakat Lovaia (leluhurnya). Seberapa jauh dan besar tingkat keterkaitan rahasia mereka? Jawabannya adalah: hanya mereka sendiri yang tahu dan ini tabu untuk dibicarakan. Setiap pembongkaran keterkaitan tersebut akan berdampak pada mereka sendiri. Inilah makna Ili Kere-Kere bagi masyarakat setempat. Suatu pemaknaan yang mengarah pada kepercayaan/keyakinan, nilai dan norma social, keseimbangan politik dan ekonomi, dan sebagainya.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Masyarakat Fataluku tidak menyebut warisan bersejarah ini sebagai ‘kuru kere-kere’ (tulisan goa) atau ‘koco kere-kere’ (tulisan dinding) melainkan dengan istilah ‘ili kere-kere’ (tulisan gunung). Dengan merujuk pada penyebutan ini, bahwa lokasi diketemukannya warisan sejarah tersebut sebenarnya tidak terletak di goa tetapi di dinding/lereng gunung.  
Memang, jika diperhatikan secara seksama, lokasi diketemukannya warisan sejarah tersebut berada disalah satu lereng pegunungan/perbukitan dengan jurang yang cukup dalam di bawahnya, dan saya perkirakan berjarak antara 50-100 meter dari permukaan air laut. Tanda-tanda menyerupai goa pun tidak ada, selain sebuah cekungan dinding saja. Selain itu, lokasi keberadaan lukisan dinding ini tidak seberapa jauh dari laut yang jaraknya sekitar 1 kilometer saja.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lokasi Ili Kere-kere
Secara umum kondisi geografis wilayah Tutuala adalah pegunungan berbatu cadas dan karang. Rata-rata, lapisan permukaan tanahnya tidak lebih dari 30 cm untuk puncak-puncak dan lereng perbukitan, dan sekitar 1 meter untuk beberapa lereng atau lembah perbukitan. Ini mengindikasikan bahwa kondisi permukaan Tutuala dan tempat diketemukannya warisan bersejarah tersebut merupakan pegunungan karang pada ribuan atau puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Artinya, di masa lalu, masyarakat leluhur suku Fataluku hidup dan tinggal di lereng-lereng perbukitan batu karang. Tipografi demikian juga hampir dijumpai di seluruh wilayah Distrito Lospalos hingga distrito Baucau.[3]
Situs lukisan di dinding gunung di Tutuala ini menampilkan pola dengan gambar 2 orang manusia, sebuah telapak tangan, sebuah perahu, sebuah matahari, sebuah lingkaran berlapis tiga dengan garis penuh, sebuah lingkaran berlapis dua dengan garis luar putus-putus, sebuah lingkaran berlapis empat dengan lingkaran paling luar diberi garis-garis yang bersifat vertical menyerupai roda gigi, sebuah menara/tangga, dua ekor binatang: menyerupai buaya dan seekornya lagi menyerupai ikan. Selain itu juga terdapat lukisan bergaris. Hampir semua gambar terlihat dengan jelas.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Jika warisan sejarah tersebut dimaknai sebagai lukisan/gambar, maka gambar-gambar yang ada pada umumnya ditandai dengan adanya garis luar, yang kesemuanya didominasi oleh warna merah darah serta varian warna lainnya berwarna merah kekuningan dan hitam. Khusus, untuk gambar yang menyerupai manusia terisi sepenuhnya dengan cat berwarna merah. Sedangkan warna hitam untuk garis luar atau tanda pemisah atas bagian-bagian dalam satu gambar.

C.   Jejak Peradaban Leluhur Suku/Etnic Fataluku
Timbul sebuah pertanyaan: “Kapan lukisan ini dibuat dan oleh siapa?” Yang pasti, hingga detik ini, situs tulisan dinding gunung tersebut belum terteliti secara lebih mendalam. Di era kekuasaan Postugis, situs ini nyaris tak terpublikasikan. Pempublikasian secara lebih sistematis baru dilakukan setelah pemerintah Indonesia memasukkannya sebagai deretan situs peninggalan sejarah ke dalam mata pelajaran Antropologi.
Sebagaimana situs-situs lain yang diketemukan di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Irian Jaya/Papua (Indonesia), maka situs lukisan dinding Tutuala (Timor Leste) juga diperkirakan sudah berusia ribuan tahun yang lalu Sebelum Masehi. Sebuah masa ketika manusia belum mengenal simbol aksara/alphabet sebagaimana yang dikenal saat ini.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Meskipun begitu, dapat dipastikan bahwa lukisan ini kemungkinan besar dibuat ketika kehidupan manusia sudah mulai menetap. Pola hidup dengan tempat tinggal tetap seperti di goa atau lubang-lubang batu yang lain sangat memungkinkan setiap anggota kelompok  untuk mengekspresikan pengalaman hidup serta pikiran/angan-angan mereka. Dengan sudut pandang ini, maka lukisan dinding Tutuala merupakan sebuah bentuk manifestasi atas ekspresi diri leluhur masyarakat Fataluku di masa lalu. Sebagaimana yang juga dirasakan oleh manusia zaman sekarang, manusia tempo dulu juga memiliki keinginan dan berusaha mengabadikan semua kegiatan yang dilakukannya serta pengalaman yang telah dialaminya ke dalam dan atau melalui media tertentu seperti dinding goa. Aktivitas pelukisan ini sendiri hanya bisa dilakukan oleh manusia yang telah bertinggal tetap mengingat proses pelukisannya membutuhkan waktu, di mana tidak mungkin pekerjaan ini dilakukan oleh manusia yang hidup dengan pola nomaden (berpindah-pindah).
Dengan melihat gambar-lukisan dinding di Tutuala, kita bisa membuat asumsi awal sederhana bahwa kelompok manusia yang tinggal di ujung timur Pulau Timor ini ternyata telah memiliki nilai dan kemampuan kebudayaan yang tinggi pada ribuan tahun yang lalu. Lukisan ini juga memberikan inspirasi kepada kita mengenai tingkat kecerdasan intelektual manusia pada saat itu.
Lebih lanjut, dapat diasumsikan bahwasannya lukisan dinding gunung karang tersebut menggambarkan sebuah kehidupan di masa lalu dari segi sosial-ekonomi dan kepercayaan masyarakat. Sikap hidup, nilai, dan keyakinan mereka terpancar di dalam gambar-gambar tersebut. Meskipun kita tidak bisa mendefinisikan secara detail dan tepat akan gambar-gambar tersebut, setidak-tidaknya sebuah tafsiran cukup penting untuk ‘mengenal’ leluhur masyarakat Fataluku tersebut.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Bagi saya pribadi,---termasuk anda yang tertarik dengan kehidupan di masa lalu---gambar perahu di dinding Tutuala tersebut mencerminkan adanya kemampuan navigasi/pelayaran yang telah dimiliki. Lukisan perahu ini menandakan adanya aktivitas kelautan. Perahu yang digambar berbentuk melengkung dengan dua buah bendera di bagian depan dan belakangnya. Sementara itu, terdapat sebuah layar yang terpentang di tengah-tengah perahu, juga terdapat para awak kapal serta sebuah dayung. Melihat bentuk perahu serta adanya layar menunjukkan bahwa “kemampuan bernavigasi masyarakat tersebut sudah tersentuh oleh teknologi modern. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum diketemukannya perahu dengan daya penggerak mesin, perahu pendahulunya digerakkan oleh tenaga dayung dan angin melalui layar.” Dengan gambar ini pula, sebuah asumsi dasar lainnya dapat dibuat bahwasannya “mereka dapat sampai di lokasi tempat tinggal tetapnya tersebut (baca: Tutuala), setelah melalui perjalanan menyeberangi lautan.” Atau, dapat diasumsikan juga bahwa “di dalam menjalin komunikasi dan interaksi dengan kelompok lainnya yang berada di seberang, mereka menggunakan perahu.”
Asumsi lainnya adalah terkait dengan gambar ikan. Adanya gambar ini, dapat ditafsirkan bahwa “ikan dan kegiatan mendapatkan/menangkap ikan telah menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka.” Jika ini dikaitkan dengan gambar perahu, maka bisa jadi “cara mereka untuk menangkap ikan adalah dengan menggunakan perahu.”
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Hal lain yang cukup menarik adalah gambar hewan menyerupai buaya. Artinya, nenek moyang masyarakat Fataluku ini, di masa lalu telah mengenal sosok buaya. Pelukisan gambar buaya menandakan bahwa hewan ini memiliki arti dan kesan tersendiri bagi mereka. Hanya dengan adanya kesan yang mendalam terhadap sesuatu hal, maka seseorang---sebagaimana kita saat ini---akan memiliki kemampuan untuk melukiskannya. Dengan berlandaskan pada situasi yang ada saat ini, di mana hampir semua penduduk Timor Leste, menempatkan hewan yang bernama buaya ini sebagai mahluk khusus. Mereka sangat menghormati, segan, bahkan bercampur dengan rasa takut terhadap buaya. Masyarakat Fataluku dan umumnya penghuni daratan Timor mempercayai bahwa buaya adalah leluhur mereka. Buaya pulalah yang kemudian bermertamorfosis menjadi daratan Timor.[4]
Selain itu, masih terdapat gambar lain yang cukup menarik, yakni gambar sebuah menara atau tangga di mana matahari dilukis di atasnya. Dan masih ada beberapa bagian lainnya sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Sesuatu yang juga tidak kalah menariknya adalah mengenai warna dan jenis cat yang dipergunakan. Warna cat yang dominan adalah merah. Pertanyaannya bukan terletak pada warnanya, melainkan cara/metode dalam meramu warna, bahan pembuat warna, serta kemampuan warna yang mampu bertahan hingga saat ini.
Satu-satunya jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut adalah bahan tersebut bersifat alami, yang keberadaan bahan-bahan dasarnya berada di sekitar goa. Adanya aliran sungai yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi lukisan (Kampung Leti) memungkinkan tumbuhnya berbagai pepohonan dan tumbuhan secara baik. Beberapa pepohonan yang tumbuh tersebut seperti pahon asam, pohon ental atau palem, gambir, pinang, mangkudu atau pace, lontar atau pandan, rotan serta banyak lainnya. Kemungkinan besar, bahan-bahan dasar yang dipergunakan berasal dari pepohonan dan tumbuh-tumbuhan tersebut.
Kesemuanya itu menunjukkan bahwa manusia leluhur masyarakat Fataluku telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang luar biasa dalam bidang peramuan, yang mana tidak mampu kita buat saat ini.

D.   Peradaban Fataluku Bermuara dari Lukisan Dinding
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Meskipun dengan pemaparan yang kurang mendalam dan cenderung premature, maka saya berani menegaskan dengan membuat sebuah kesimpulan bahwa “peradaban masyarakat Fataluku yang berkembang saat ini bermuara/berpangkal dari gambar-tulisan dinding yang berada di pegunungan Tutuala. Dari ceruk/lubang dinding goa ini, ribuan tahun yang lalu, leluhur Fataluku meletakkan dasar-dasar peradaban sebagaimana yang terlihat saat ini.”
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa sebelum masyarakat Fataluku yang terbentuk seperti sekarang ini, golongan pendahulunya adalah yang dikenal dengan Lovaia. Bukti nyata hubungan ini adalah masih dipakainya kata-kata/perbendaharaan kalimat bahasa Lovaia dalam upacara ritual keagamaan adat masyarakat Fataluku, khususnya komunitas Tutuala. Singkatnya, Lovaia menjadi pendahulu dari terbentuknya genetic Fataluku. Dan sudah barang tentu, akan susah untuk menyebut/menamai kelompok leluhur yang melahirkan masyarakat Lovaia.
Dari lukisan dinding tersebut, dapat pula disimpulkan adanya keterkaitan genetic dan juga pola kehidupan social antara leluhur Fataluku yang melukis dinding Tutuala dengan leluhur Fataluku lain yang berada di luar daratan Timor seperti dengan manusia yang tinggal di Pulau Leti, Pulau Kisar (Maluku), serta kepulauan Indonesia bagian timur lainnya. Keterkaitan ini dapat dibuktikan dengan adanya kemiripan lukisan yang ditemukan di Tutuala dengan tempat lain di wilayah Indonesia tersebut. Selain itu, sebagaimana hasil penelitian bahasa/linguistic yang dilakukan oleh Thomas van Engelenhoven, 2005 (Leiden of University, Belanda) tentang bahasa Fataluku dan bahasa yang  dipakai oleh masyarakat di Pulau Leti menunjukkan adanya kemiripan. Bahkan istilah ‘leti’ yang dipergunakan untuk menamai sebuah perkampungan di Tutuala yang jaraknya hanya sekitar 700-an meter dari lokasi dinding mengisyaratkan bahwa di antara kedua masyarakat tersebut memiliki hubungan kekhususan (genetic dan social) di masa lalu. Hal lainnya adalah ketika dihubungkan dengan cerita mengenai kisah kejadian pembentukan Pulau Timor yang dipercaya sebagai penjelmaan seekor buaya.[5] Bukti lainnya adanya keterkaitan social-ekonomi lainnya adalah pada motif dalam kain tenun (bahasa Tetum=tais) yang hampir serupa.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Tanda 'Lulik' (keramat) pada makam leluhur di lokasi Ili Kere-kere
Dalam tradisi lesan masyarakat Fataluku, dikenal sebuah cerita bahwa penyebaran mereka sebagaimana yang ada saat ini diawali dari terjadinya sebuah bencana banjir bandang yang menimpa perkampungan mereka. Sebelumnya, mereka terkonsentrasi dalam sebuah komunal besar, yang kini dikenal dengan sebutan ‘Ira-ara Laru’ (Danau/Kubangan Air).  
Jarak antara Perkampungan Ira-ara Laru dengan lokasi ditemukannya lukisan dinding Tutuala hanya berkisar 5 km dalam garis lurus. Banjir Ira-ara Laru telah menyebabkan Komunal Besar Fataluku tersebut tercerai-berai dan mencari tempat pemukiman baru. Dengan mencermati masih segarnya ingatan masyarakat Fataluku terhadap kejadian tersebut, kemungkinan besar bencana bandang yang melanda mereka belum lama berlangsungnya. Kemungkinan besar sebelum tahun 1500-an Masehi, mengingat tidak ada dokumen resmi Portugis  yang mencatat bencana ini bila kejadiannya di era kolonialisme Portugis.
Akibat bencana bandang tersebut, Komunal Besar Fataluku terpecah-belah menjadi komunal-komunal yang lebih kecil. Mereka menyebar ke area yang lebih tinggi yang berada di sekitarnya, seperti Tutuala, Mehara, Malahara, Muapitin, Lorehe, Fuiluro, Moro, Mahena, dan sebagainya. Secara otomatis, terbentuknya secara alamiah komunal-komunal kecil ini membawa konsekuensi jarak dan keterikatan emosianal dan adat di antara mereka mulai merenggang. Ikatan sebagaimana yang terjalin dalam Komunal Besar pun memudar.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar lukisan di Pulau Kei, Maluku-Indonesia
Dengan menggunakan analogi pusaran air, saya kemukakan bahwa semakin jauh lokasi benda terhadap sumber pusaran air, maka semakin rendah daya tariknya. Sebaliknya, semakin dekat dengan pusaran air, maka semakin kuat pula daya tariknya. Begitu pula dengan pola penyebaran penduduk masyarakat Fataluku.
Tentu terdapat perbedaan yang cukup signifikan, secara geografis, antara kondisi lokasi gambar-tulisan dinding Tutuala dengan Perkampungan Komunal Besar Fataluku di Ira-ara Laru. Gambar dinding Tutuala terletak pada dataran tinggi, bahkan dapat dikatakan berada di lereng salah satu puncak barisan perbukitan yang ada. Sementara lokasi Komunal Besar berada di dataran rendah atau lembah yang subur.
Perbedaan secara geografis ini membawa pada kesimpulan bahwa leluhur Fataluku pada masa ribuan tahun yang lalu bertempat tinggal di lokasi ketinggian dengan goa-goa atau cekungan-cekungan lereng bebatuan sebagai tempat tinggal. Pemilihan lokasi demikian lebih banyak didasarkan pada tingginya tingkat ketergantungan mereka dalam ‘menaklukkan’ dan menghadapi keganasan alam yang masih liar. Alasan bertahan dari serangan binatang buas yang biasanya banyak hidup di area yang subur menuntut kelompok leluhur Fataluku ini memilih daerah ketinggian dengan tingkat kesuburan area yang terbatas. Goa menjadi tempat berlindung, berkembang biak dan berinteraksi di antara sesama mereka. Sedangkan dataran rendah dengan penghuni hewan buasnya menjadi arena perburuan.
Adanya gambar ikan dan buaya dalam dinding Tutuala dapat juga dimaknai bahwa mereka dalam menjaga kelangsungan hidupnya sangat bertumpu pada kemampuan berburu terhadap binatang yang berada di sekitarnya. Selain itu, tidak diketemukannya situs-situs serupa di sekitar lokasi pertama ditemukannya gambar dinding ini menandakan bahwa jumlah mereka masih relative sedikit.
Perkampungan Komunal Besar adalah sebuah masyarakat kelanjutan dari penghuni Komunal Dinding Tutuala. Lokasinya yang lebih subur menandakan telah ada perubahan pada pola kehidupan social mereka. Mereka tidak lagi menggantungkan kehidupan dalam berburu. Perpindahan ke lahan basah menandakan mereka mulai mengenal atau telah mempraktekkan system bercocok tanam dengan tetap tidak meninggalkan secara total pola berburu.
Sisa-sisa pencarian makan dengan cara berburu ini masih dapat dilihat di era sekarang. Dimana, kebanyakan kaum lelaki Tutuala dan sekitarnya (Fataluku) dalam memenuhi kehidupan sehari-harinya dengan cara berburu binatang di tengah hutan belantara atau di sekitar lahan-lahan kebun/tegalan mereka, sedangkan kaum perempuannya lebih banyak bercocok tanam dan mengurus keperluan rumah tangga/dapur.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lokasi di Mehara, Tutuala. Di sebelahh kiri bukit terletak Ira-ara Laru
Sebagaimana yang diceritakan oleh Chefe do Suco Tutuala, Antonio da Fonseca, sekitar tahun 1930-an, kakek mereka yang menjadi Liurai/penguasa suku memaksa para penduduk yang mayoritas masih tinggal berkelompok di tengah-tengah hutan untuk bersatu dan menghuni dalam satu area yang lebih luas lagi, atau yang kemudian dikenal dengan Desa/Suco Tutuala saat ini. Artinya, pola hidup berkelompok dan terpencar-pencar masih kuat berlangsung hingga 80-an tahun yang lalu.
Dengan demikian, kehidupan peradaban masyarakat Fataluku untuk pertama kalinya diawali dengan jejak Lukisan dinding di pegunungan Tutuala, yang selanjutnya pada ribuan tahun kemudian berpindah lokasi menjadi Perkampungan Komunal Besar Ira-ara Laru hingga masa sekarang.
Pertanyaan besar yang mengganggu saya dan tentunya Anda sekalian adalah: “Jika pada ribuan tahun yang lalu mereka telah mengenal metode navigasi/pelayaran, mengapa justru saat ini, jejak ini tidak menurun pada masyarakat Fataluku?” Atau, “Kemana perginya pengetahuan modern yang sempat tumbuh di masa itu? Mengapa pengetahuan tersebut sepertinya terputus dan hilang?” Dan “Mengapa masyarakat Fataluku saat ini, baik yang bertinggal di tepian laut Tutuala, Lorehe hingga Com-Lautem sama sekali kurang memiliki pengetahuan atau tradisi pelayaran?” ******
Untuk mengetahui lebih lanjut keterkaitan antara 
Bahasa Fataluku & Makua-Lovaia (Timor Leste) dengan Bahasa yang dipakai oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Leti (Maluku) silakan kunjungi situs ini:



[1] Perhatikan kualitas cat dinding rumah kita, yang rata-rata hanya mampu bertahan selama 1-3 tahun saja. Semua jenis cat tidak mampu menahan sinar matahari dan curahan air hujan: cepat memudar. Ini berkebalikan dengan kondisi cat pada peninggalan bersejarah, yang rata-rata usianya sudah berusia puluhan ribu tahun lalu.
[2] Dalam bahasa Tetum, kata-kata ‘halo’ yang kemudian yang dalam pengucapannya ketika digabung dengan kata lain, biasanya akan diperpendek menjadi ‘ha’, seperti habelar (halo belar—membuat luas), hadomi atau hadomin (halo domin---membuat cinta), hamanas (halo manas---membuat panas), dan sebagainya.
[3] Era Indonesia, Kota Baucau dijuluki sebagai ‘Kota Karang/Coral’ mengingat kondisi tipografi Baucau yang berbatu dan berkarang. Di Baucau sendiri juga diketemukan adanya lukisan yang hampir sama, atau yang dalam bahasa Makasa’e (mayoritas etnik Baucau) dikenal dengan sebutan ‘Lie Kere’ dan ‘Lie Siri.’
[4] Saya berharap dapat membuat sebuah artikel mengenai kisah buaya sebagai leluhur masyarakat Timor Leste.
[5] Masyarakat Timor Leste dan juga Fataluku percaya jika daratan Timor ini merupakan daratan hasil penjelmaan seekor buaya sebagai ucapan terima kasih kepada seorang pemuda yang telah menyelamatkannya dari kematian yang disebabkan oleh bencana alam. Konon Sang Buaya dan Sang Manusia pertama ini berasal dari daratan seberang. Ephos buaya yang hampir serupa juga diyakini oleh masyarakat yang mendiami Kepulauan Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Jawa hingga masyarakat Mesir Kuno.

Senin, 18 Februari 2013

Carlos Manuel de Marques Paião - Fado Musica (Portugal)


Carlos Manuel de Marques Paião 
By Vladimir Ageu DE SAFI'I
Carlos Manuel de Marques Paião - Fado Musica (Portugal)
Carlos Manuel de Marques Paião. Born in Coimbra on November 1, 1957 - August 26, 1988 in Rio Maior) was a very popular singer and song-writer in Portugal.

Carlos Manuel de Marques Paião (born in Coimbra on November 1, 1957 - August 26, 1988 in Rio Maior) was a very popular singer and song-writer in Portugal.
He represented Portugal at the 1981 Eurovision Song Contest with the song Playback.
Carlos Paião was also a doctor, having graduated in Medicine in 1983, but his great passion was music.
Some of his songs became national hits.
In August 1988, Carlos Paião died in a car accident on N1 Road ("old" road Lisbon-Oporto) in Ponte Amieira, near Rio MaiorSantarém district, while returning from a concert. The Datsun UrvanCarlos Paião was travelling in, collided head on with a truck that was irregularly overtaking a broken car[1]
Songs recorded by Carlos Paião:
  • Playback
  • Pó-de-arroz (Rice Powder)
  • Souvenir de Portugal (Souvenir from Portugal)
  • Vinho do Porto (Port Wine), a duet performed with Cândida Branca Flor
  • Zero-a-zero (Nil-Nil)
  • Cinderela
  • Marcha do Pião das Nicas
  • Ga-Gago (stu-stutterer)
  • Meia-dúzia (half a dozen)
  • Telefonia nas ondas do ar (Radio in the Air Waves)
Songs recorded by other artists such as Herman José, Joel Branco, Candida Branca Flôr, Amália Rodrigues, Nuno da Câmara Pereira, Peter Petersen, Florbela Queirós, Octávio de Matos, Alexandra, Rodrigo, Lenita Gentil, António Mourão, Ana, Carlos Quintas, Gabriel Cardoso, Pedro Couceiro, Vasco Rafael, Luis Arriaga, Norberto de Sousa.
Ini salah satu lirik lagunya:
Carlos Paião "cegonha"

Olá cegonha, gosto de ti!
Há quanto tempo, te não via por ai!
Nem teus ninhos nos telhados,
Nem as asas pelo céu!
Olá cegonha! Que aconteceu?

Ainda me lembro de ouvir-te dizer,
Que tu de longe os bebes vinhas trazer!
Mas os homens vão crescendo,
E as cegonhas, a morrer!
Ainda me lembro...não pode ser!

Adeus cegonha, tu vais voar!
E a gente sonha...é bom sonhar!
No teu destino, por nós traçado!
Leva o menino, que é pequenino, toma, cuidado!

Adeus cegonha, adeus lembranças...
A gente sonha, como crianças!
Faz outro ninho, no som dos céus!
Vai de mansinho, mas pelo caminho, diz-nos adeus!

Adeus cegonha, tu vais voar!
E a gente sonha... é bom sonhar!
No teu destino, por nós traçado...
Leva o menino que é pequenino, toma cuidado!
Leva o menino... mas tem cuidado!...


Selasa, 29 Januari 2013

Timor Leste Politic Lider in the National Park Nino Conis Santana

Timor Leste Politic Lider in the National Park Nino Conis Santana
Vladimir Ageu DE SAFI'I


vladimir ageu DE SAFI'I
Timor Leste Politic Lider in the National Park Nino Conis Santana

vladimir ageu de safi'i
Timor Leste Politic Lider (Xanana Gusmao) in the National Park Nino Conis Santana

vladimir ageu de safi'i
Timor Leste Politic Lider (Xanana Gusmao) in the National Park Nino Conis Santana

vladimir ageu de safi'i
Timor Leste Politic Lider (Taur Matan Ruak) in the National Park Nino Conis Santana

vladimir ageu de safi'i
Timor Leste Politic Lider (Lucia Lobato) in the National Park Nino Conis Santana

Tutuala Traditional Dances

Tutuala-Lospalos-Timor Leste-Traditional Dances
Vladimir Ageu DE SAFI'I

vladimir ageu de safii
Tutuala-Lospalos-Timor Leste-Traditional Dances "the National Park Nino Conis Santana Inagurated Program"

vladimir ageu de safi'i
Tutuala-Lospalos-Timor Leste-Traditional Dances "the National Park Nino Conis Santana Inagurated Program"

vladimir ageu de safi'i
Tutuala-Lospalos-Timor Leste-Traditional Dances "the National Park Nino Conis Santana Inagurated Program"

vladimir ageu de safi'i
Tutuala-Lospalos-Timor Leste-Traditional Dances "the National Park Nino Conis Santana Inagurated Program"

Rabu, 21 November 2012

Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)



Dili dan Modernisasi
Dili & Modernização
---Bagian Pertama dan Kedua---
By Vladimir Ageu DE SAFI’I

Ini hanyalah sebuah catatan ringan tentang kondisi Ibukota Dili dalam kesehariannya.  Mungkin tepatnya disebut sebagai catatan pinggiran yang saya lakukan selama berinteraksi dengan orang-orang yang terpinggirkan oleh harapannya sendiri di masa lalu yang karena dimanipulasi oleh kelompok kepentingan tertentu guna semakin meminggirkan kaum pinggiran tersebut.
Perumahan penduduk di Ibukota Dili: Dili & Modernização
Gaya arsitektur apa adanya pada perumahan penduduk di Ibukota Dili. Foto: 

A. Pengantar
Sebagai ibukota negara, Dili mencoba dirancang dan dibangun sebagaimana umumnya ibukota di negara-negara lain. Modernisasi menjadi kata kunci utama dalam mengimplementasikan niatan tersebut. Bagi sebagian kalangan, Dili harus mengubah wajah menjadi kota modern: sebuah konsep antithesis dari kondisi Dili saat ini---kota tradisional (tepatnya capital semrawut). 
Bagi kalangan yang pro pada antithesis tersebut, sepertinya hanya berpikir sebatas pada thesis dan antithesisnya saja. Mereka tidak memikirkan akan synthesis dari kontradiksi yang akan ditimbulkan dari pertentangan antara ‘kondisi tradisional’ versus ‘kondisi modern’ dalam kehidupan social kemasyarakatan Timor Leste. Setidaknya, ini dapat kita lihat dari gejala/indikasi yang ada saat ini, yakni: (1) para elit pemerintahan dan elit lain yang berkepentingan sekedar memikirkan tentang kebijakan (policy) politik pendukungnya; (2) para elit pemerintahan dan elit lain yang berkepentingan sekedar memikirkan soal besaran (nilai nominal) dari anggaran negara yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan program modernisasi tersebut; (3) mereka tidak atau kurang seberapa memikirkan tentang konsekuensi negative yang akan ditimbulkan dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Timor Leste, khususnya bagi penduduk yang menghuni kota Dili. 



B. Dili dalam Cengkraman Modernisasi (Neo-Liberalisme)

Dili Traditional Markets: Dili & Modernizacao
Pasar tradisional Dili. Foto:
Berdasarkan sensus 2010, total keseluruhan penduduk Timor Leste berjumlah 1.066.409 jiwa yang berasal dari 184.652 kepala keluarga/uma kain. Jumlah tersebut meliputi 544.199 untuk berjenis kelamin laki-laki dan 522.210 untuk jenis kelamin perempuan. Populasi tersebut tersebar di 13 distritu/kabupaten, 65 subdistritu/kecamatan, dan 442 suco/desa. Sementara itu, berdasarkan sensus 2004 jumlah penduduk sekitar 923.198 jiwa. Artinya, selama 6 (enam) tahun antara 2004-2010 mengalami penambahan sebanyak 143.384 jiwa (sekitar 15 persen). Jadi, rata-rata dalam setiap tahunnya mengalami penambahan 23.897 jiwa atau 2,5 persen.

Secara otomatis, semenjak hasil referendum 1999 mulai diketahui oleh masyarakat, maka semenjak itu pula Dili diakui sebagai Ibukota Negara: Republica Democratica de Timor Leste. Sebelumnya, dimulai sejak tahun 1976, Dili dinyatakan sebagai ibukota Propinsi Timor Timur yang ke-27 oleh Indonesia selama 23 tahun. Sebelumnya juga, Dili merupakan ibukota untuk Propinsi Timor Portugis terhitung mulai tahun 1769 hingga 1975 atau selama 206 tahun. Saat ini, penduduk yang tinggal di Ibukota Dili berjumlah 234.231 jiwa (berdasarkan sensus populasaun 2010).

Pasca referendum, dapat dikatakan bahwa kondisi Dili amat memprihatinkan. Pertempuran antara dua kelompok (pro-kemerdekaan versus pro-integrasi) telah menyebabkan banyaknya sarana infrastruktur kota luluh-lantah akibat aksi pembakaran oleh kedua kelompok. Dalam pertikaian yang berlangsung sekitar satu bulan lebih itu, banyak bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan seperti gedung pemerintahan propinsi dan fasilitas pelayanan public lainnya, perumahan negara, perumahan penduduk serta bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi pertokoan dan pasar. Kondisi demikian juga terjadi di kabupaten-kabupaten di luar Dili. Dengan demikian, Dili sebagai ibukota Negara berangkat dari puing-puing kehancuran.
Dili & Modernização: Kantor Kemlu yg dibangun atas kerjasama pemerintah TL dgn China
Kantor Kemlu Timor Leste. Foto: www.nytimes.com

Baik pemerintahan transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun pemerintahan RDTL 2002 dihadapkan pada persoalan yang sama terkait dengan kondisi Ibukota Dili, yakni bagaimana menata dan membangun kembali kota Dili. Sudah pasti, kebijakan politik pembangunan tata ruang kota harus dibuat. Namun, hingga detik ini (2012), tidak ada kejelasan atas politik dan kebijakan serta program-program pembangunan ibukota Dili tersebut dari pemerintah. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa proyek-proyek pembangunan sarana infrastruktur ibukota Dili berjalan tanpa dilandasi dengan perencanaan pembangunan yang matang (tidak ada blue print-nya). Akibatnya, semua kegiatan proyek pembangunan berjalan asal-asalan, yang antara proyek satu dengan lain tidak nyambung, lebih-lebih bila dikaitkan terhadap dampak yang akan ditimbulkan oleh aktivitas pembangunan kota tersebut di masa mendatang.

Kesan yang timbul atas kegiatan pembangunan sarana fisik kota Dili itu adalah: (1) terdapat saling rebutan antar pejabat dan kementerian; (2) pemerintahan yang terbentuk mulai dari tahun 2002 hingga 2012 ini tidak memiliki visi dan misi yang jelas terkait dengan penataan dan pembangunan tata ruang kota Dili; (3) proyek yang dikerjakan hanyalah sebuah bentuk dari kegiatan bagi-bagi kue kekuasaan; (4) akibatnya, proyek pembangunan fisik yang berlangsung di dalam kota Dili tidak memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat, justru sebaliknya akan menciptakan efek negative di kemudian hari.
Dili & Modernização
Pasir putih, Dili. Foto: uk.reuters.com

Hampir semua orang merasakan dan menyatakan bahwa tinggal di ibukota Dili tak ubahnya tinggal di kompleks pekuburan/pemakaman: sepi, sunyi, jauh dari keramaian dan kedamaian rohani.[1] Akibatnya, banyak golongan masyarakat yang berduit dalam memenuhi kebutuhan akan hiburan, mereka berlibur keluar negeri, mayoritas ke Indonesia dengan dua sasaran: Bali dan Jawa. Selain itu juga, dengan tanpa memikirkan akan segi keborosannya, banyak yang mengadakan acara-acara pesta komunitas, seperti pesta nikah, ulang tahun, ritual gereja dengan puncak acaranya: dansa.

Dansa menjadi satu-satunya hiburan yang bersifat massif bagi warga Dili. Dengan dansa, mereka dapat berinteraksi antara satu dengan lainnya. Bahkan, acara dansa ini seringkali dijadikan sebagai sarana kesempatan dalam kesempitan oleh kaum muda-mudi. Meskipun begitu, hampir dapat dipastikan, akhir dari setiap pesta yang ada dansanya adalah perkelahian. Pemicunya biasanya berkisar soal perempuan. Perkelahian antar tamu undangan sangat mudah terjadi mengingat dalam acara demikian, biasanya juga dibanjiri dengan minum-minuman beralkohol.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete): Dansa
Dansa: satu-satunya hiburan gratis bagi penduduk Timor Leste. Foto:

Bagi masyarakat Dili dan Timor Leste umumnya, dansa telah menjadi bagian deari tradisi yang tak terpisahkan dari gaya dan kehidupan sosial mereka. Pesta dansa juga menjadi simbol eksistensi status sosial mereka. Demi menjaga gengsi sosialnya, seorang keluarga rela mengeluarkan belasan hingga puluhan ribu dollar hanya untuk menggelar acara dansa.
Masyarakat Timor Leste adalah ‘masyarakat mata uang’, di mana di sebelahnya berwajah konservatif dan sisi sebelahnya lagi bermuka liberal. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tergolong konservatif. Namun, ketika sebuah pesta diadakan bersamaan dengan dimainkannya musik dansa, maka mereka masuk sebagai manusia yang liberal. Dalam pesta dansa, seorang laki-laki dan perempuan dapat bergonta-ganti pasangan dengan sesuka hatinya. Sepertinya, acara itu menjadi acara yang bebas akan nilai dan norma. Kondisi demikian, jangan harap dapat kita jumpai ketika telah berada di  luar acara dansa (saat dansa sudah selesai) karena masyarakat Timor Leste masih tergolong sebagai masyarakat yang memegang nilai-nilai budaya leluhurnya.[2]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Maket Timor Plaza
Di banyak kalangan, seperti golongan kelas[3] menengah ke atas dan para pejabat pemerintahan, ketika mereka berbicara mengenai Dili, maka pola pikir mereka terbatasi oleh sebuah konsep ‘Dili sebagai Ibukota modern sebagaimana ibukota negara-negara lainnya’. Realitas kota Dili dengan segala bentuk, ruang dan isinya yang mereka lihat selama ini dinilai sebagai sesuatu yang belum modern alias sangat ketinggalan zaman. Karenanya, bagi banyak kalangan mengharapkan terjadinya modernisasi pada wajah kota Dili.
Sementara itu, masyarakat bawah sendiri seakan-akan tidak pusing dengan wajah ibukota Dili. Bagi golongan penduduk mayoritas ini, yang terpenting adalah pemerintah mampu menciptakan lapangan pekerjaan, serta mampu menjamin keamanan dan ketertiban umum dan lain-lain yang berkaitan dengan persoalan kelangsungan hidup mereka. Dili menjadi kota metropolitan atau modern, bukanlah menjadi pikiran prioritas mereka.
Tentu saja sah apabila setiap orang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang berbeda terhadap modernisasi. Begitu juga, (tentu kita tidak dapat menyalahkan) bila hampir setiap orang akan berbangga diri ketika ia menyebut dirinya sebagai manusia modern.
Penambang pasir di Sungai Comoro, Dili. Foto:
Dalam konteks di atas, modern atau modernisasi semata-mata dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dengan situasi yang sebelumnya (yakni tradisional). Berangkat dari kacamata awam ini, maka pemahaman mereka tentang “orang modern adalah orang yang gaya hidup dan pemikirannya maju, sedangkan orang tradisional adalah orang yang gaya hidup dan pemikirannya ketinggalan zaman (antigu)”. Selanjutnya, mereka juga memaknai bahwa ‘orang modern tinggal di kota, sedang orang tradisional tinggal di desa’. Beginilah orang-orang menjelaskan perbedaan istilah ‘modern’ dan ‘tradisional’. Baiklah, jadi tulisan tentang ‘Dili dan Modernisasi’ ini berangkat dari pemahaman sederhana masyarakat awam tersebut.
Modernisasi juga dipandang sebagai sesuatu yang mengglobal: modernisasi berarti globalisasi alias mendunia. Jika memperhatikan terhadap sejarah perkembangan negara-negara modern saat ini, maka modernisasi dengan ciri mengglobalnya tersebut dapat terwujud sebagai akibat dari muncul dan kelanjutan dari revolusi borjuasi yang terjadi di belahan Eropa beberapa abad yang lalu. Konsekuensi lanjut dari proses tersebut adalah membuminya gerakan demokratisasi. Kemudian, modernisasi sangat terkait erat dengan kemenangan para pengusung ide ‘demokrasi’ yang notabene ada hubungannya dengan kebangkitan kelas menengah atau kelas borjuasi di sebuah negara. Dengan demikian, maka gerakan modernisme dan globalisme secara mutlak mensyaratkan adanya perubahan politik dan sosial. Tanpa adanya perubahan di dua bidang tersebut, mustahil pergerakan modernisasi dapat terwujud. Tuntutan akan pasar bebas dan perdagangan bebas sebagaimana yang melanda dunia saat ini merupakan bagian dari proses perubahan politik dan social tersebut.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Dili dan aktivitas keseharian penghuninya. Foto:
Dengan melihat sejarah perkembangan demokrasi di seluruh penjuru dunia, maka perubahan politik dan sosial tersebut, pertama-tama akan muncul dan berkembang di kota-kota besar atau utama, seperti ibukota negara. Ibukota negara, khususnya, menjadi simbol dan pusaran utama bagi pergerakan demokrasi sebelum meluas ke kota-kota dan desa-desa di sekitarnya.
Pengalaman sejarah membuktikan bahwa Dili di masa lalu telah menjadi simbol perlawanan dan eksistensi dari masyarakat Timor Leste. Dili dijadikan sebagai representasi atas kemajuan dan kemunduran gerakan nasionalisme anti penguasa kolonial, termasuk bentuk dan formasi organisasi perlawanannya. Ketika itu, Dili memainkan peran berwajah ganda: bagi pemerintah kolonial, Dili adalah pusat pengkonsolidasian kekuasaan kolonial. Sedangkan bagi kelompok gerakan anti kolonial, maka Dili adalah pusat pengkonsolidasian gerakan pembebasan nasional.
Konsekuensi dari kemerdekaan dengan dibentuknya Negara RDTL, Ibukota Dili sebagai Ibukota Negara memainkan peran sebagai sentral dari hampir semua aspek kehidupan bernegara, yakni (a) sebagai sentral kegiatan pemerintahan, (b) sentral kegiatan politik; (c) sentral kegiatan ekonomi; (d) sentral kegiatan sosial dan budaya (pendidikan, kesehatan, agama, kesenian, dll). Dengan demikian, Ibukota Dili akan dipandang sebagai ‘satu-satunya wakil atas muka/penampilan negara dan bangsa Timor Leste’. Dengan bahasa sederhananya: hitam-putihnya ibukota Dili adalah hitam-putihnya negara dan bangsa Timor Leste.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Palm Beach Apartment in Dili. Foto:
Dengan melandaskan pada logika pemikiran tersebut, maka Dili harus mengubah penampilannya: dari muka kusut, kusam dan ketinggalan zaman/tradisional menjadi segar, cantik, dan modern. Setidak-tidaknya, modernitas kota Dili akan ditampilkan melalui dibangunnya sarana dan prasarana fisik yang serba ‘wah’ dan menjulang tinggi ke angkasa, seperti pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintahan berbintang (seperti rencana pembangunan gedung Ministerio Finanças yang berlantai 10) pembangunan gedung pertokoan/plaza (supermarket-supermarket bertingkat serta pasar modern seperti Timor Plaza dan ruko/rumah-rumah toko bertingkat di sepanjang kanan dan kiri jalan), pembangunan  monument-monumen nasional yang megah (seperti Taman Makam Pahlawan di Metinaro, patung-patung pahlawan---Nicolau Lobato di Bundaran Comoro, Liurai Dom Boventura di Distrito Manufahi, Korban Masacre 12 Novembro 1991 di Motael, dan sebagainya),  pembangunan jalan kembar mulai dari Comoro hingga ke jantung kota---Palaçio do Governo beserta jembatan kembarnya di Sungai Comoro, pembangunan apartemen-apartemen megah di tengah-tengah pemukiman penduduk yang kumuh, serta aktivitas-aktivitas parade militer dalam setiap event nasional, dan seterusnya. Termasuk juga penciptaan kemegahan dari perspektif agama dengan dibangunnya Katedral/gereja.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Katedral Dili. Foto:
Semua bentuk pembangunan simbol kemodernan tersebut dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa pembangunan di Timor Leste sedang giat berjalan dan ada kemajuan, setidak-tidaknya pada infrastrutur fisiknya. Dalam konteks inilah bagaimana ibukota Dili hendak dihubungkan dengan ibukota-ibukota negara di dunia, khususnya dengan negara-negara sekawasan, seperti Asia Tenggara.
Hubungan yang ada sebenarnya adalah sebuah network. Terbentuknya network ini, bukanlah secara kebetulan. Terdapat actor-aktor internasional yang bekerjasama dengan actor-aktor nasional. Actor utama yang paling berperan dalam ‘jaringan modernisasi’ tersebut adalah para pelaku ekonomi transnasional. Pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintahan, jalan kembar Comoro, serta gedung-gedung pertokoan modern yang dilakukan oleh konsorsium internasional menjadi bukti atas network tersebut. Pertanyaannya adalah ‘bagaimana actor internasional mampu melakukan modernisasi terhadap ibukota Dili?’   
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Menteri Industri TL, Gil Alves saat meresmikan Timor Plaza
Salah satu faktor yang menjadi penyebab berhasilnya modernisasi merasuki kehidupan negara Timor Leste adalah adanya kebijakan (politica) yang secara sengaja dibuat oleh pemerintah yang berintikan pada arahan (mata dalan) agar negara yang bersangkutan terintegrasi secara internasional (integrasi internasional), baik kebijakan di bidang politik maupun ekonomi. Ibukota Dili saat ini---suka atau tidak suka, terima atau tidak terima---sedang berada dalam lingkaran proses pengintegrasian internasional tersebut. Dengan cara inilah, actor-aktor internasional (kekuatan pemilik modal) mencoba melakukan penetrasi social dan kultura dalam kehidupan masyarakat Timor Leste.
Sudah pasti, Dili sebagai ibukota negara memiliki keterkaitan yang multidimensional dengan negara Timor Leste, baik yang sifatnya psikis maupun fisik (isin-klamar). Cepat atau lambat, Ibukota Dili dengan segala denyut kehidupannya akan terpengaruh dan bergerak mengikuti dan sesuai dengan ritme dan melodi kehidupan kota-kota besar dunia. Artinya, melalui ibukota Dili inilah secara tidak langsung menjadikan masyarakat Timor Leste, khususnya penduduk yang tinggal di kota Dili akan terkait dan terhubung dengan “masyarakat global yang notabene relatif lebih lama hidup dalam konsep sebagai kota metropolis”.

C. Akibat Modernitas atas Ibukota Dili
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Modernisasi Dili: Ada Si pembuang sampah & ada Si Pemungut Sampah. Foto:
“Penobatan Dili sebagai ibukota Negara RDTL bukanlah tanpa unsur kesengajaan. Terdapat latar belakang politik dan ideologis yang jelas atas penobatan/pemilihan tersebut. Sudah pasti, terdapat pertimbangan dan keputusan politik yang melatarbelakangi penguasa Kolonialis Portugis ketika memutuskan memindahkan ‘ibukota’ kekuasaannya dari Oequsse ke Dili pada tahun 1769. Sudah barang tentu, bukanlah sikap yang strategis untuk tetap meninggali Oequsse sedangkan rakyat di sekitarnya terus-menerus melakukan pemberontakan, belum lagi saat melihat datangnya ancaman dari saingan utamanya di Pulau Timor, yakni Belanda yang memilih Kupang sebagai pusat dan sekaligus benteng pertahanannya.
Bagi Portugal, Dili menjadi satu-satunya tempat tinggal terakhir untuk menyelamatkan segala sesuatu yang dimilikinya di sekitar Asia Tenggara (khususnya Kepulauan Nusantara) setelah kekalahannya dalam perebutan wilayah Maluku oleh Belanda. Dili, karenanya dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menyelematkan asset dan misi imperialismenya, seperti eksplorasi atas kayu cendana, kopi, dan rempah-rempah lainnya; serta untuk mengamankan misi imperium keagamaannya seiring dengan tugas yang dimandatkan oleh Vatikan sebagai Pasukan Salib di kawasan Afrika, Amerika, dan Asia bersama-sama dengan Kerajaan Spanyol, khususnya dalam mengkatholikkan penduduk Timor. Dengan didudukinya Dili, serta-merta Portugal pun memulai membangun symbol-simbol kekuasaan ekonomi, politik dan social-budaya.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Timorese & Indonesian Flag
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Penguasa Jakarta ketika melakukan invasi ke Timor Leste dengan menentukan Dili sebagai sasaran pertama dan utamanya. Menguasai Dili berarti menguasai daratan Timor Leste, setidak-tidaknya secara politik. Maka, langkah memborbardir Dili adalah keputusan dan sekaligus langkah yang strategis bagi langkah-langkah berikutnya. Seakan-akan tidak mau kalah dengan penguasa sebelumnya, penguasa Indonesia pun segera membangun symbol-simbol yang berbau keindonesiaan guna menunjukkan eksistensi dan pengaruh heggemonii ideologinya, baik kepada masyarakat Timor Leste maupun dunia internasional.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Salah satu peradaban UN yg terkenang bagi beberapa gadis Dili
Pasca referendum 1999, pihak United of Nations/Perserikatan Bangsa-Bangsa juga melakukan hal yang serupa. Pihak UN pun memilih Dili bukan sebuah desa di puncak gunung sebagai pusat administrasi politik dan pengaruh keamanannya. Menyadari bahwa misinya adalah sementara, maka berbeda dengan yang telah dilakukan oleh Portugal dan Indonesia, bangunan-bangunan yang didirikan oleh petugas UN juga bersifat temporal/non-permanen. Meskipun begitu, tidak semua sarana infrastruktur yang dibangun bersifat non-permanen, contoh pembangunan sebuah jembatan yang dirusak saat 1999. Pada hampir semua jembatan yang diproduksinya, selalu disertakan ukiran atau lukisan bertuliskan negara anggota UN yang bersangkutan.
Sebagaimana majemuknya/pluralnya keanggotaan militer, polisi dan staff sipil UN yang datang ke Timor Leste, membawa konsekuensi pembangunan sarana dan prasarana yang mampu mendukung kinerja mereka, seperti dengan dibangunnya sarana perhotelan, supermarket, bar-bar dan restaurant. Secara ideologis, semua itu dimaksudkan untuk mengenangkan (memori) kepada masyarakat Timor Leste akan peran dan eksistensi mereka selama di negeri ini.”

1. Konsentrasi Ekonomi-Kapital
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Suasana Colmera, Dili. Foto:
“Jika ingin mendapatkan dollar, maka datanglah ke Dili; Jika ingin mendapatkan pekerjaan, maka carilah di Dili; Jika ingin melihat sayur-mayur dan buah-buahan negara lain yang segar dan bersih, Dili adalah tempatnya; Jika ingin kaya, maka tinggallah di Dili; Jika ingin melihat kemiskinan dan pengangguran, maka lihatlah di setiap sudut kota Dili; dan seterusnya”

Sekali lagi, proses modernisasi yang dilakukan terhadap kota Dili merupakan bagian dari skenario global untuk memasukkan hegemoni kekuatan yang pro pada neo-liberalisme. Dili akan dijadikan sebagai kota yang megah dan terbuka oleh siapapun dan apapun. Semua dengan alasan dan pembenaran: mengikuti arus globalisasi. Dengan demikian, modernisasi ini akan bersifat memoderatkan pikiran dan sikap dari kekuatan-kekuatan internal yang ada. Meskipun begitu, bukan berarti proses ini akan berjalan mulus dan tanpa tantangan. Kasus modernisasi terhadap ibukota-ibukota negara di belahan dunia pada akhirnya menimbulkan reaksi-reaksi penentangan serta munculnya berbagai persoalan sosial yang ditimbulkannya. Begitu pula dengan Dili, walaupun saat ini banyak kalangan yang mendukung atas proses modernisasi ini, namun secara pelan dan pasti akan menimbulkan reaksi-reaksi penentangan akibat efek negative yang ditimbulkannya. Berbagai permasalahan yang berujung pada konflik sudah mulai bermunculan sebagai akibat dari proses modernisasi tersebut walaupun belum disadarinya sepenuhnya jika hal itu berkaitan, seperti menyangkut permasalahan status dan pengalihan fungsi lahan.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
ANZ Bank: Bank Australia di Dili
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa secara ekonomi, Ibukota Dili akan menjadi konsentrasi utama bagi kegiatan ekonomi, khususnya perputaran modal. Sarana infrastrutur pendukung keuangan akan dibangun di kota Dili, juga termasuk pertarungan-pertarungan di antara sesama mereka. Beberapa sarana perbankan yang sudah dibangun sejak awal kemerdekaan adalah Bank Mandiri yang sangat Indonesianis, Bank BNU yang begitu Portugalis, dan Bank ANZ yang kelihatan betul Australinisnya. Beberapa jasa pengiriman/transfers uang juga mulai banyak beroperasi di kota Dili, seperti Wester Union, dan jasa-jasa swasta yang sifatnya pribadi yang bergerak di luar mekanisme pasar yang ada.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
BNU Bank: Bank Portugal di Dili
Dengan terkonsentrasinya modal di Kota Dili, menunjukkan bahwa Dili telah menjadi ‘rumah baru’ bagi para elit ekonomi. maka Dili akan menjadi sasaran utama bagi pergerakan penduduk desa. Urbanisasi akan menjadi hal yang tak terelakkan. Semua angkatan kerja dan pencari kerja akan menyerbu kota Dili sebagai satu-satunya tempat melanjutkan kelangsungan hidupnya. 
Secara kasat mata, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah pendatang (imigran luar negeri) yang mengadu nasib di Kota Dili. Mayoritas imigran tersebut melakukan aktivitas perdagangan. Mereka kebanyakan berasal dari Indonesia, China, Portugal, Australia dan Negara Asia lainnya.
Mandiri Bank: Bank Indonesia di Dili
Umumnya para imigran Indonesia, mereka bergerak di sector formal dan informal, di antaranya berjualan pakaian seperti yang ada di Kampung Alor---mayoritas berasal dari Sulawesi. Selain itu, ada pula yang dengan cara berkeliling kota dengan cara menjajakan barang dagangannya dari gang kampong ke gang kampong lainnya---pakaian dan kosmetik serta makanan/bakso (pelakunya mayoritas orang Jawa). Meskipun begitu, dapat dikatakan hampir semua rumah makan di ibukota Dili dimiliki oleh orang Jawa. Sebagian imigran Jawa lainnya bekerja sebagai tenaga kasar (buruh-buruh bangunan) pada proyek-proyek fisik. Kebanyakan, buruh-buruh kasar asal Jawa ini pola kehadirannya dilakukan dengan cara dipanggil oleh pemilik proyek (pengusaha pribumi yang juga menjalin rekanan bisnis dengan pengusaha asal Indonesia). Jadi, kedatangan mereka dengan cara dimobilisasi. Ruang ekonomi inilah yang dikuasai oleh imigran asal Indonesia.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
An-Nur: Satu-satunya Masjid di Dili
Masih terkait dengan keberadaan imigran asal Indonesia ini, dalam hal bertempat tinggal di Dili, mayoritas tinggal secara berkelompok. Imigran Indonesia asal Sulawesi, biasanya juga tinggal di lokasi tempat berdagangnya. Di samping faktor hubungan etnisitas sesame meraka juga dikarenakan factor keyakinan ritual mereka: akses ke Masjid An-Nur (satu-satunya Masjid di Timor Leste yang masih eksis). Sedangkan imigran asal Jawa, kebanyakan tinggalnya secara komunal dalam satu kompleks perumahan yang disewa secara beramai-ramai.
Dalam hal imigran Indonesia asal etnik China, mayoritas menguasai dan bermain dalam lapangan elit. Mereka biasanya bekerjasama dengan China-China Timor serta menjalin hubungan mesra dengan para pejabat pemerintahan terkait dengan proyek-proyek pemerintahan. Bukan rahasia umum pula, bila mayoritas golongan inilah yang selama ini memfasilitasi para pejabat pemerintah ketika melakukan aktivitas keluar negeri (menanggung tiket pesawat, bayar hotel, sekaligus penyedia tukang pijatnya).
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Hampir setiap sudut kota Dili ada toko China
Sementara itu, hal yang tak kalah menariknya adalah menjamurnya imigran asal China yang bergerak di sector formal. Sepanjang mata memandang, sepanjang itu pula kita akan melihat keberadaan imigran China dengan toko-toko dengan barang dagangannya. Toko-toko milik imigran China kebanyakan menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga dan peralatan pertukangan. Selain itu, banyak juga imigran China yang bekerja sebagai buruh kasar pada proyek-proyek pembangunan gedung pemerintahan, pertokoan dan perhotelan yang pemilik proyeknya adalah orang China. Sangat berbeda dengan imigran Indonesia, maka keberadaan imigran China di Timor Leste ini sangat terlihat jelas adanya backup dari pemerintahan China melalui Embaixada Republica Popular China untuk Timor Leste.
Dapat dikatakan pula, para imigran China inilah yang mempelopori dibangunnya apartemen-apartemen untuk golongan kelas menengah ke atas. Mereka juga bergerak di sektor pembangunan toko-toko serba ada/guna dan perhotelan. Selain itu, mereka pun mulai menguasai sektor pendistribusian minyak di Dili dengan cara mendirikan station fuel.
Hal lain yang cukup mencengangkan adalah mulai adanya aktivitas black market pada nivel kelas tinggi yang terkait dengan tanah dan penggunaannya. Ambil kasus di kawasan Hudi Laran, tempatnya di sekitar perempatan Hudi Laran. Di area ini didirikan 2 station fuel, yang keduanya dimiliki oleh pebisnis asal China. Di kompleks inilah, pebisnis China mendirikan sederetan rumah toko (ruko) dengan status tanah: menyewa. Pada awalnya, ruko-ruko ini diperuntukkan untuk kalangan mereka sendiri. Namun dalam perkembangannya, ruko-ruko ini kemudian disewakan kembali dengan setiap ruko seharga U$ 1.000.[4]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Beginilah cara mengendalikan ekonomi Timor Leste
Jadi kesimpulannya adalah bahwa saat ini yang menjadi elit ekonomi di Timor Leste, khususnya ibukota Dili adalah para imigran dan pengusaha asal China. Entah berapa persen, namun yang jelas bahwa perputaran barang dan uang berada di tangan dan kendali mereka. Barang-barang yang dijual dengan harga murah menjadikan kelompok China ini menjadi pemain tunggal roda perekonomian modern Timor Leste. Pelaku ekonomi China mulai mendominasi perekonomian Timor Leste.
Imigran lain yang jumlahnya banyak adalah asal Portugal. Mayoritas mereka berada di Timor Leste terkait dengan program portuguisasi bahasa Portugis di negeri ini. Selain itu, kebanyakan, mereka bekerja di lembaga pemerintahan. Keberadaan imigran Portugis mulai meningkat semenjak krisis ekonomi yang melanda Eropa. Dalam hal tempat tinggal, mereka di fasilitasi oleh pemerintah Portugal dan juga Timor Leste (kerjasama bilateral). Meskipun begitu, ada juga yang bergerak di bidang usaha, seperti Perusahaan ENSUL---perusahaan milik Portugis yang bergerak dibidang kontruksi serta memfasilitasi kebutuhan orang-orang Portugis dibekas negeri jajahannya tersebut.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Gedung KEMLU TL: Buatan dan bantuan RRC. Foto:
Beberapa imigran lain, yang nampak di kota Dili adalah asal Afrika. Mayoritas mereka di Timor Leste sebagai akibat dari kebijakan CPLP (Persatuan Masyarakat Berbahasa Portugis). peran mereka di sector ekonomi tidak kelihatan, mengingat keberadaannya di negeri bumi lorosa’e ini tidak terlepas dari kedatangan kontingen militer dan polisi UN/PBB asal Afrika di masa lalu. Beberapa imigran Afrika, khususnya asal Mozambique dan Angola juga tidak terlepas dari hubungan emosional politik dengan beberapa elit politik Timor Leste di masa resistensi. Beberapa di antaranya juga masih ada jalinan kekerabatan dengan orang Timor Leste---sebuah jaringan ikatan darah yang sudah ada semenjak era kolonialisme Portugal beberapa abad silam.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Militer Australia di Dili (Krisis 2006). Foto:
Jumlah imigran yang relative besar lain, yang juga bermain di sektor ekonomi adalah asal India dan Banglades. Mereka mayoritas berbisnis di sector formal dengan cara membuka pertokoan yang menjual produk-produk elektronik dan juga garmen/pakaian. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, saat ini mereka terlibat persaingan dengan pelaku ekonomi asal China.
Sementara itu, keterlibatan di sector ekonomi tidak seberapa ditunjukkan oleh imigran asal Australia. Hanya beberapa warga Australia saja yang bergerak di sector bisnis, khususnya perbengkelan yang inipun “sepertinya menjadi satu paket yang tak terpisahkan dengan keberadaan misi Australia di Timor Leste”. Mayoritas mereka bekerja di sektor publik dan pemerintahan, termasuk NGO’s.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Peoples & Traditional Markets in Dili. Foto:
Dengan berbasiskan pada pengungkapan fakta di atas, praktis perekonomian Timor Leste, khususnya Dili dikuasai dan berada dalam kendali para pelaku ekonomi asing. Penduduk pribumi sendiri kebanyakan bergerak di sektor informal, meskipun begitu ada juga yang formal, namun dengan skala yang kecil.
Beberapa penduduk negara lain di Asia yang mencoba mengadu nasib di Timor Leste adalah Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Myanmar.
Jika menggunakan perspektif rasialisme, penduduk pribumi yang bergerak di sector formal adalah warga negara keturunan (hasil kawin campur dengan orang China) atau yang kemudian disebut dengan ‘China Timor’. Golongan inilah yang saat ini turut berkompetisi dengan para pelaku ekonomi asing. Beberapa toko besar yang berperan sebagai penyupplai kebutuhan pangan rakyat Timor Leste dilakukan oleh kelompok China Timor ini. Khusus untuk import beras, mereka lebih banyak datangkan dari Vietnam dan Thailand.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Local traditional markets in Dili. Foto:
Sementara itu, mayoritas penduduk pribumi sendiri lebih banyak bergerak di sector informal. Kebanyakan dari mereka berada di mercadu-merkadu, pinggiran jalan, serta rumah-rumah yang dijadikan sebagai tempat usaha. Bentuk-bentuk usaha yang mereka lakukan seperti berjualan kebutuhan pokok (beras, jagung, sayur-mayur, ikan, dan kebutuhan rumah tangga) dengan cara dijajakan di merkadu/pasar tradisional, pinggiran jalan kota Dili, mendirikan kios di rumah atau pinggiran jalan, menggunakan gerobak atau dengan dipikul (ai-leba). Terdapat juga beberapa orang yang menjual kayu bakar, bunga-bunga hias, serta kegiatan-kegiatan lain yang kesemuanya melibatkan tenaga kerja keluarga. Namun, eksistensi mereka juga mulai terancam oleh pedagang asal China. Banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa penduduk pribumi hanya mampu bergerak disektor informal dan pelaku dagang kecil-kecilan.[5]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização (Complete)
Pesta adalah hal yang normal bagi penduduk Timor Leste
Salah satu faktor mendasar yang menyebabkan penduduk pribumi kalah bersaing dengan pendatang, mungkin terkait dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat Timor Leste secara turun-temurun. Sistem nilai budaya ini, mungkin pula yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi, termasuk di dalamnya cara pandang mengenai: tatacara usaha/bisnis, cara bekerja, cara pandang tentang tingkat keuntungan, cara pengelolaan keuangan, sikap terhadap mitra dan kompetitor, strategi menghadapi resiko, dsb. Oleh karena itu, penting untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh para pengambil kebijakan (decision maker) bahwa program pembangkitan/pemberdayaan perekonomian masyarakat, sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) guna mengubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju dengan tidak menghilangkan unsur protectivo pada rakyat.

2. Konsentrasi Politik
“Jika ingin menjadi elit politik, maka itu hanya akan terjadi di Dili; Jika ingin membangun kekuatan politik, maka mulailah dari kota Dili; jika ingin merebut dan duduk di kekuasaan, maka Dili adalah tempat yang tepat; dan sebagainya.”
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Para aktivis mahasiswa Timor Leste, FNLM
Modernisasi terhadap ibukota Dili juga akan membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan politik di negeri yang pernah hidup di bawah sistem kolonialisme selama lebih dari 450 tahun ini. Tanpa didukung oleh kebijakan politik, dapat dipastikan bahwa modernisasi akan terlambat merasuki wajah kota Dili.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Sede Central Partido Socialista do Timor
Tentunya, semua pihak akan sepakat bila saat ini, Dili telah menjadi pusat bagi segala aktivitas dan pertarungan politik antar kelompok kepentingan politik di negeri ini. Kondisi demikian dapat terjadi mengingat Dili sebagai ibukota negara merupakan pusat dari segala kegiatan pemerintahan dan birokrasi. Semua posisi jabatan birokrasi tinggi dan kekuasaan berada di kota Dili. Jadi, sudah secara otomatis, maka semua elit politik akan berkumpul dan memilih bertempat tinggal di kota. Setiap kelompok politik dengan kendaraan politiknya akan selalu menjadikan Dili sebagai barometer utama untuk mengukur kekuatan dan kekuasaan politiknya. Semuanya akan berebut dan terkonsentrasi di kota Dili. Selain sarana dan prasarana modern mulai ada, juga tak terlepas dari terkonsentrasinya modal di kota Dili. Wilayah yang sempit menjadi ruang pergerakan tersendiri bagi para elit politik untuk melakukan interaksi dengan para pemilik modal.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Isu komunal masuk dalam ranah politik (Krisis 2006 Timor Leste)
Timor Leste, seperti halnya wilayah-wilayah lain yang berada di kepulauan Indonesia bagian timur memiliki dinamika politik tersendiri. Di samping sebuah konflik penentangan terhadap kekuasaan kolonialisme, juga terdapat konflik horizontal yang sifatnya laten yang acapkali terjadi. Sebuah konflik komunal yang terjadi antar etnik yang ada.
Persoalan ‘lorosa’e’ dan ‘loromonu’ merupakan salah satu peninggalan dari masalah masa lalu yang hingga detik ini masih kental terasa. Konflik terbesar sepanjang sejarah Timor Leste “modern” adalah peristiwa 2006 yang lalu. Ketika itu, bagaimana antar penduduk dari etnik yang berbeda terlibat saling serang dan saling bakar-menghancurkan property pribadi masing-masing. Jika dicermati lebih lanjut, sebenarnya konflik etnik ini tidak semata-mata bersifat horizontal, melainkan sudah masuk dalam ranah vertikal (kekuasaan dan negara).[6] Sentimen etnik bercampur dengan kepentingan politik dari masing-masing individu elit asal etnis tertentu.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Mariano Sabino (PD) - Mari Alkatiri (Fretilin)
Semua elit politik di Timor Lorosa’e mencoba menanamkan pengaruhnya untuk pertama kalinya dari kota Dili. Dari ibukota, mereka menghimpun kekuatan. Setelah itu, baru ditransformasikan ke area pedesaan. Tentu akan sedikit berbeda, manakala menyebut dan membandingkan eksistensi elit politik negeri ini dengan elit politik negara lainnya. celakanya lagi, dapat dipastikan bahwa semua elit politik tersebut tidak sepenuhnya mampu melepas sentiment ke-etnik-kannya atau ke-regionalisme-annya. Justru sebaliknya, acapkali menggunakan isu-isu tersebut untuk menarik simpatik dan dukungan massa, khususnya saat menjelang pemilihan umum.
Sesuatu yang agak janggal bila kita mengikuti paradigma lama, di mana yang namanya pejabat tinggi negara atau elit politik harus dihormati dan disegani. Kenyataannya, di negeri yang konon sebagai penjelmaan dari buaya ini, tingkat penghormatan masyarakat terhadap mereka sangat rendah bahkan dapat dikatakan tidak ada.[7]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Masyarakat terbelah menjadi 2: kaya dan miskin
Pertarungan politik di Timor Leste ke depannya, tentunya akan lebih dinamis dan varian lagi. Hal ini lebih banyak disebabkan factor modernisasi beserta dampaknya. Modernisasi dengan faham neo-liberalismenya, yang pada awalnya dianggap sebagai obat yang mujarab untuk mengatasi persoalan ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan/kemakmuran bagi rakyat, pada akhirnya hanya akan melahirkan dua lapisan masyarakat yang saling bertolak belakang: lapisan minoritas hidup dalam kelimpahruahan harta dan tinggal di langit ketujuh, sementara lapisan mayoritas hidup dalam kesengsaraan seperti budak di erra kolonialisme Portugis dan tinggal di perut bumi bercampur dengan lahar panas atau cengkraman kemiskinan. Selain itu, dalam hal mensikapi hidup, maka lapisan golongan minoritas akan lebih pragmatis sedangkan lapisan mayoritas akan lebih radikal.
Tak ada makan siang gratis: kongsi antara elit politik&ekonomi
Ramainya pertarungan politik juga disebabkan mulai menguatnya perkongsian antara elit politik dengan elit ekonomi. Saat ini, perkongsian tersebut masih berusaha mencari format dan saling memahami antara satu dengan lainnya serta masih berjalan secara sembunyi-sembunyi walaupun semua mata melihat dan mengetahuinya. Namun, ke depannya, perkongsian ini akan berjalan secara terbuka. Keterbukaan ini juga tidak terlepas dari hubungan timbale balik/balas jasa selama ini, yakni selama kampanye pemilihan umum para pengusaha memberikan bantuan financial, lalu pada gilirannya para elit politik yang dapat posisi di kekuasaan/pemerintahan mengembalikan hutang tersebut. Mengapa? Ini tidak terlepas dari peran mereka saat ini sebagai pembela modernisasi ala neo-liberalisme.[8]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Generasi 1975 Timor Leste (FRETILIN)
Pertarungan politik di Timor Leste juga akan memasuki episode baru seiring dengan habisnya secara biologis usia dari generasi tua. Kuatnya dominasi generasi tua telah menyebabkan terpolarisasinya generasi muda dalam dua kekuatan, yakni kekuatan yang pro pada generasi tua dengan segala kebijakannya, dan kekuatan yang kontra, khususnya pada kebijakan-kebijakan yang diiambil saat ini.
Dilihat dari komposisi organisasi, satu-satunya organisasi sosial politik yang relative mampu bertahan dalam menghadapi goncangan natural tersebut adalah FRETILIN. Relativitasnya ini lebih banyak disebabkan oleh faktor emosional bukan ideologis. Sementara itu, partai politik lain seperti CNRT akan menjadi organisasi pertama yang tercerai-berai mengingat organisasi ini secara struktural dan ideologis kurang terbangun selain faktor ketergantungan yang besar pada figur Xanana Gusmão. Partai politik selanjutnya adalah PD (Partidu Demokratiku). Organisasi ini juga sedang dihadapkan pada persoalan bagaimana meredam konflik internal terkait dengan kepemimpinan para elit partai yang duduk di kursi kekuasaan yang berhadapan dengan massa/kadernya yang berada di luar kekuasaan. Partai lain yang sedikit memiliki harapan masa depan adalah PST (Partidu Sosialista Timor), meskipun begitu, terdapat persoalan internal yang menuntut untuk segera dibenahi. Karena jika tidak, partai yang secara tegas menyatakan diri berideologi Marxisme-Leninisme ini akan ditinggalkan oleh para simpatisannya.[9]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Membro Falintil di Dili, 1999.
Di sisi lain, lemahnya birokrasi pemerintahan beserta lembaga-lembaganya (birokrasi sipil dan institusi F-FDTL dan PNTL) akan turut mewarnai pertarungan politik tersebut. Modernisasi yang notabene identik dengan ketidaknasionalisan atau ketidakpatriotisan pada akhirnya akan memancing kedua institusi negara tersebut sebagai “hakim” atas hilangnya semangat cinta negara. Tanda-tandda bagaimana sebenarnnya kedua institusi ini, khususnya institusi F-FDTL mulai kehilangan kepercayaan terhadap elit politik sipil dapat dilihat pada peristiwa upacara bendera yang dilakukan oleh anggota F-FDTL pada setiap pagi (07.30) di kantor Ministerio Defeza e Segurança. Upaya pembangunan nasionalisme ala F-FDTL ini dilakukan dengan menghentikan semua pengendara dan pejalan kaki yang melewati jalan Fatuhada tersebut. Sebuah usaha pembangkitan semangat nasionalisme di tengah-tengah melunturnya semangat dan perilaku cinta tanah air dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Timor Leste.[10]    
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização: Maubereismo Timor
Kontradiksi sosial dalam masyarakat akan melahirkan gerakan sosial
Situasi sebagaimana dijelaskan di atas, akan memicu lahirnya pemimpin-pemimpin baru, generasi-generasi baru yang anti pada kemapanan sebagaimana yang dirasakan oleh lapisan minoritas saat ini. Generasi baru ini, sudah pasti pikiran (visi dan misi politiknya) akan lebih banyak didasarkan pada realitas yang berkembang sekarang. Sebuah realitas yang juga dirasakan oleh lapisan mayoritas tertindas dalam masyarakat Timor Lorosa’e. Dengan demikian, Dili akan menjadi arena pertarungan politik yang bukan sekedar antara elit politik, melainkan juga antara elit politik dengan kelompok masyarakat; serta antar kelompok di dalam masyarakat itu sendiri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan terjadinya perpecahan di masing-masing institusi PNTL dan F-FDTL.

3. Dampak Sosial Budaya
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
UNDIL, salah satu universidade di Dili
“Jika ingin melihat surga, maka tersedia di kota Dili; Jika ingin melihat bangunan dan fasilitas yang megah dan modern, ada di Dili; Jika ingin melihat kemajemukan yang terkotak-kotak, Dili adalah rumahnya; Jika ingin melihat pencopet, kriminalitas, preman, dan pelacur, maka Dili adalah lokalisasi yang tepat; Jika ingin melihat perkelahian antar pemuda, maka Dili telah menjadi ring dan arena bermain utamanya; Jika ingin melihat kesenjangan social antara kelas kaya dengan kelas miskin, maka Dili adalah kacamata yang tepat; Jika ingin melihat peradaban baru dengan peradaban lama dalam kondisi perang dingin, maka melihat perilaku Dili adalah pilihan yang tidak salah; Jika ingin pintar, maka datanglah ke kota Dili sebab pendidikan berlokasi di sini; Jika ingin sehat, maka berobatlah ke rumah sakit-rumah sakit di kota Dili; Jika ingin melihat bagaimana revolusi social akan berlangsung, maka Dili adalah tempat yang tepat untuk memulainya; dan seterusnya.”

Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Kantor Gubernur Propinsi Timor-Timur, 1993
Secara sosial-budaya, bentuk dan gaya arsitektur menjadi simbol atas ideologi dari kelompok-kelompok sosial penyembahnya. Penataan ibukota Dili yang rapi, indah dan nyaman akan menjadi cerminan dari para elit politik-penguasanya. Jika penataan terhadap Dili asal-asalan, sesungguhnya mencerminkan kondisi semrawutnya para elit tersebut.
Sebuah bangunan rumah pribadi yang megah dan bergaya arsitektur modern sebenarnya  menjadi simbol atas status ekonomi dan sosial pemiliknya. Begitu juga, dengan bangunan rumah gubuk merupakan konkretisasi atas kondisi pemiliknya. Dengan demikian, bentuk dan gaya arsitektur merupakan cerminan ideologi sosial mereka, yang sudah pasti mensiratkan adanya defferensiasi/perbedaan antara langit dengan bumi; kaya versus miskin.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Mercado lama Dili: arsitektur ala Portugis
Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, bahwa modernisasi sekedar dipandang sebagai sesuatu yang bukan tradisional dan ketinggalan jaman. Secara sosial, modernisasi akan membawa dampak perubahan pada pola kehidupan sosial masyarakat Timor Leste. “Kota masa kini adalah ruang pengucilan kolektif dan kekerasan individual, yang ditransformasikan oleh berbagai umpan balik (feedbacks) menjadi suatu aliran yang tak pernah berhenti dan tak pernah mulai. Kehidupan menjadi abstraksi dan kota menjadi bayang-bayang.[11]   
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Anak-anak kecil di Dili juga berjualan
Banyaknya keluhan dan kestressan dalam level tertentu dari beberapa penduduk Dili menunjukkan bahwa Dili sedang menapaki dan bertransformasi menjadi ruang dan tempat yang hampa. Memang, secara fisik kita dapat melihat dengan jelas melalui mata akan bangunan-bangunan perkantoran pemerintahan yang megah serta gedung pertokoan modern dengan segala isinya yang modern, tetapi secara fisik pula masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menjamahnya. Produk fisik tersebut secara psikologis telah berubah menjadi sesuatu yang hampa dan abstrak. Dari hari ke hari, bangunan hampa ini kian bertambah. Ujung dari semua itu adalah bahwa masyarakat Dili, khususnya, akan merasa teralienasi secara sosial. Nilai-nilai kolektivisme masyarakat yang sebelumnya menjadi penyelamat kehidupan mereka, akan meluntur berubah menjadi sesuatu yang sangat individualistik: “Jika punya uang maka akan mampu menikmati kehampaan tersebut, namun bila tidak…akan terus tinggal dan hidup di dalam rumah yang model arsitekturnya tidak karuan dengan sebuah kandang babi di belakang/depan halaman rumah.” Jadi, Dili telah menjadi kota yang menciptakan diferensiasi/perbedaan pada penghuninya.
Dengan munculnya kesumpekkan dan kesetressan sosial tersebut, menunjukkan bahwa ruang (luasnya area) tidak menjadi ukuran bagi kenyamaan penduduk untuk dapat menikmatinya. Bangunan yang megah, jalanan yang diperlebar, dan sebagainya menjadi sesuatu yang kehilangan makna. Sebagian orang akan tetap merasa bahwasannya situasi Dili sangat sunyi dan sempit. Tentunya, kondisi psikologis yang demikian bukan semata-mata terbentuk oleh satu factor melainkan perpaduan dari carut-marutnya kondisi ekonomi, politik dan lingkungan social masyarakat.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Dili dan masa depan penghuninya
Beberapa elit politik dan ekonomi, sepertinya menyadari akan impak social dari proses modernisasi atas ibukota Dili ini. Karenanya, saat ini juga, mereka mulai membangun tempat-tempat “rileks” buatan seperti taman bermain (jardim), tempat nongkrong di café hotel, taman bermain anak di kompleks pertokoan seperti yang ada di Lantai 1 pertokoan Timor Plaza, serta masih banyak lainnya. Lokasi-lokasi ini secara tidak langsung mulai mempengaruhi pemikiran sebagian orang untuk lebih memilih pergi ke lokasi tersebut daripada pergi berkenalan dengan tetangga kanan-kirinya. Dalam konsteks inilah, tingkat komunikasi sosial penduduk dalam satu kampung/bairo mulai mengalami penurunan frekuensi dan intensitas hubungan. Anak-anak yang selesai pulang dari tempat bermain di pertokoan dengan bangga akan menceritakan pengalamannya pada teman sepermainannya yang sama sekali tidak mengetahui akan hal tersebut (dalam konteks anak ini, terjadi pula perbedaan referensi/pengalaman atas akses terhadap kemajuan teknologi).
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Rumah adat Tutuala, 1972
Dalam perspektif sosial budaya, sejarah model/gaya bangunan di Timor Leste mengalami evolusi sebanyak 4 (empat kali), yakni model arsitektur original dengan nuansa khas komunalnya sebagaimana yang dapat dilihat sekarang. Model ini merupakan model pertama semenjak penduduk ini mulai mengenal cara tinggal permanen. Sebuah bangunan rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding dari jerami/rumput ilalang/bilahan dahan pohon palam (blebak) serta bentuk atap menjulang tinggi  sebagaimana yang masih tersisa di Lospalos; atau rumah beratap dengan bentuk setengah lingkaran. Sisa-sisa peradaban dengan arsitek ini, saat ini kebanyakan dijadikan sebagai simbul “tradisionalitas pemegang teguh kebudayaan masyarakat local” dengan istilah rumah adat (uma lisan). Masih dipertahankannya arsitektur ini sebagai penanda “kekuasaan penduduk local”.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
TNI & bangunan ala Portugis di Dili, 1975
Fase kedua adalah model arsitektur ala Eropa yang diperkenalkan oleh Portugis. Bangunan bergaya Eropa ini sangat kental dengan nuansa ke-eropa-annya yang berbentuk kotak---kubus memanjang ke atas---dan tidak lagi 100 persen terbuat dari kayu, melainkan dari bahan material seperti semen dan pasir serta menggunakan besi sebagai urat/otot rumah. Sebuah arsitektur kokoh dan angker dengan atap yang terbuat dari genting beton/cor. Untuk pertama kalinya, penguasa kolonialis Portugis memperkenalkan corak bangunan ini di kota mulai dari Ouqusse, Dili dan meluas ke kota-kota distrik lainnya. tentunya, bangunan pertama yang didirikan adalah bangunan untuk sarana public, seperti gedung pemerintahan, perumahan para pejabat Kolonialis, serta pasar (Mercado). Jadi, Portugis mendirikan bangunan tersebut guna menunjukkan diri sebagai bentuk dominasi kulturalnya.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Gedung pemerintahan ala Indonesia di Dili
Fase ketiga adalah arsitektur bergaya Asia ala Indonesia. Suatu model bangunan yang bercirikan khas rumah-rumah yang saat ini banyak didirikan oleh orang Indonesia. Bangunan ala Indonesia, sebenarnya ada kemiripan dengan ala Portugis. Perbedaannya terletak pada tingkat ketinggian dan model atap. Bangunan berarsitektur Indonesia lebih rendah dan ramping, serta menggunakan atap yang terbuat dari kaleng/seng. Di era kekuasaan Indonesialah proses massalisasi perubahan peradaban dilakukan. Gedung-gedung perkantoran semua hampir serupa dengan yang ada di kota-kota Jawa, perumahan-perumahan penduduk diseragamkan, begitu juga dengan sarana publik lainnya.
Perbedaan antara Portugal dengan Indonesia adalah “bila Portugal langsung menghabisi arsitektur original masyarakat lokal Timor Leste, maka kebijakan yang diterapkan oleh penguasa Indonesia berlainan lagi: mengkombinasikan antara seni arsitektur penduduk setempat dengan seni arsitektur modern. Sisa-sisa dominasi ini dapat dilihat saat ini seperti gedung pemerintahan daerah yang dipakai sebagai kantor Kedutaan Besar Australia di kawasan Fatuhada, Dili: sebuah bangunan yang atapnya bergaya uma lisan Lospalos.
Selanjutnya, fase keempat adalah model arsitektur di era kemerdekaan. Terjadi pertarungan ideologis atas model arsitektur bangunan di ibukota Dili saat ini. Portugal dengan segala keterbatasannya mencoba tetap mengukuhkan cengkeraman arsiteknya atas bangunan-bangunan Negara (Markas Besar Policia Militer di Balide, Istana Negara di Lahane, Gedung Museum, dan beberapa bangunan lainnya). Sementara itu, arsitektur ala Indonesia masih juga terus dijadikan referensi oleh penduduk Timor Leste saat membangun gedung perkantoran atau rumah pribadi. “Tetap abadinya” arsitektur ala Indonesia ini juga tidak terlepas dari latar belakang intelektual (Sarjana Teknik) Timor Leste yang mayoritas menamatkan pendidikannya di Indonesia, serta adanya hubungan kerja antara penguasaha Timor Leste dengan beberapa ahli arsitektur Indonesia.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Palacio Presidente: Produk bangunan berarsitektur China, Dili. Foto:
Masih terkait dengan gaya arsitektur ini, hal yang cukup mencenangkan adalah mulai mengguritanya gaya dan model arsitektur ala China. Bangunan-bangunan perkantoran pemerintahan yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Timor Leste dengan China, 90 persen dapat dikatakan bergaya China (atau, setidak-tidaknya warna yang tetap dipertahankan adalah warna khas China: merah dan kuning), seperti kantor Kepresidenan (Ai-tarak Laran), Kementerian Luar Negeri (Pantai Kelapa), serta masih banyak lainnya.
Jika semua bangunan di atas dibidani/diotaki oleh ahlinya, maka pandangan kontras terlihat pada bangunan rumah penduduk. Mayoritas, gaya perumahan penduduk diarsiteki secara langsung oleh si pemilik rumah atau dengan saran dari tukang/badaen penggarap rumah. Minimnya pengetahuan ilmiah (teori) serta dana yang ada menyebabkan gaya arsitekturnya tidak karuan dengan kontruksi yang asal-asalan juga, yang seringkali tidak mengindahkan kondisi panasnya cuaca Dili dengan ukuran ketinggian rumah. Rata-rata, rumah penduduk hasil karya arsiteknya sendiri ini tersusun oleh 12 batako/blok atau sekitar 2,4 meter dengan komposisi atap mendatar, bukan curam.[12]
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Traditional Markets in Dili
Pada saat pertokoan-pertokoan modern belum ada, hampir dipastikan bahwa semua komunikasi dan interaksi social penduduk Dili terjalin di market-market tradisional, baik golongan kaya maupun miskin. Namun, semenjak didirikannya bangunan market-market modern, maka sebagian pembeli di pasar tradisional tersebut mulai beralih ke market modern. Dengan demikian, dari segi kuantitas interaksi social, maka pesertanya berkurang. Dari segi ekonomi, jelas pendapatan para pedagang di pasar tradisional juga mengalami penurunan. Pada konteks inilah, bagaimana keguncangan social mulai meletus.
Dengan demikian, saat ini sedang berlangsung peperangan untuk merebut dominasi dan pengukuhan atas ideologi kekuasaan (cultural) dari masing-masing kelompok yang bermain di Ibukota Dili. Di mana selain persaingan di antara sesama arsitektur, juga pertarungan antara bangunan perusahaan dengan bangunan pribadi/penduduk kebanyakan.  Semuanya ini sebagai manifestasi atas pertarungan ideologi-ideologi sosial.
Dili telah menjadi ruang bagi masuknya peradaban baru yang membawa nilai-nilai dan nnorma-norma baru pula. Semua itu, cepat atau lambat akan mempengaruhi penghuninya. Setidak-tidaknya, penduduk Dili akan terpolarisasi dalam dua golongan yang saling bertenttangan, yakni golongan yang pro pada peradaban baru dan golongan yang anti terhadap peradaban baru. Masing-masing keyakinan tersebut akan semaksimal mungkin disuntikkan pada keseluruhan masyarakat.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Mapa Linguistic in Timor Leste. Semua etnik berkumpul di Dili
Dili akan menjadi ibukota urbans. Semua etnik yang berada di Timor Leste mulai dari Tutuala hingga Oequsse, dari tasi mane hingga tasi feto, serta etnik-etnik lain asal negara lain, semua akan menyerbu dan mengadu nasib di Dili. Jika melihat kondisi sekarang, masing-masing etnik (ketika tinggal di Dili) menempati lokasi-lokasi tertentu yang kemudian menjadi identitas keberadaan sosial mereka. Dengan melihat trend kedatangan kaum urban, dapat ditarik sebuah garis merah bahwa asing-masing orang yang baru datang dari desa, maka tempat pertama yang akan dituju dan dijadikan sebagai tempat tinggal adalah rumah dimana anggota keluarga atau yang masih ada hubungan sesame etnik berada. Orang asal suku Mambai, tentu akan lebih nyaman tetap tinggal dengan sesame Mambai, begitu juga orang asal etnik Fataluku, Makasae, Kemak, Bunak, dan sebagainya.
Pluralism ini merupakan momentum bagi munculnya benturan-benturan sosial baru diantara komunitas yang ada yang sifatnya lebih kompleks. Adanya differensiasi sosial akan pula mempengaruhi proses interaksi dan komunikasi sosial antar anggota komunitas, dan ini menjadi pra kondisi awal atas munculnya konflik sosial.[13]
Berjubel-jubelnya kendaraan roda empat di Dili, menjadikan jalanan kota Dili terasa sempit. Setiap pagi, siang dan sore, jalanan utama kota Dili dilanda kemacetan. Masih rendahnya kesadaran dalam berkendaraan, seringkali menjadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu-lintas. Belum lagi ditambah dengan mentalitas arogansi yang kurang menjaga sarana dan prasarana public di jalan raya dari para pengendara atau penduduk yang tinggal di sekitar kanan-kiri jalan. Mereka dengan rasa percaya diri akan membongkar batas pemisah jalan yang terbuat dari beton yang dipasang  persis di depan rumahnya. Alasannya satu: tidak mau berputar. Padahal aksi ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Panasnya cuaca/iklim ibukota Dili, juga turut mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Rumah-rumah penduduk yang mayoritas tanpa menghitung sirkulasi udara beserta kelembaban dan kepanasannya menjadi penyebab panasnya suhu di dalam rumah. Sudah pasti, situasi demikian akan menyebabkan situasi di dalam rumah selalu dalam keadaan “panas”. Penghuni rumah akan mudah terpancing akan emosinya.
Hal yang serupa juga terjadi di luar rumah. Panasnya cuaca Dili akan memprovokasi orang untuk berlaku tidak sabaran. Kebanyakan, penduduk Dili dan Timor Leste adalah manusia yang temperamental. Persoalan kecil dapat menjadi besar. Persoalan kemacetan di jalanan akan memicu lahirnya pertengkaran. Factor geografis ini, akan semakin menemukan bentuknya menjadi persoalan social yang serius manakala berkorelasi dengan persoalan ekonomi dan politik.
Secara social, variable lain yang memudahkan masyarakat kota Dili mudah terpancing dalam konflik horizontal adalah maraknya dan sudah mentradisinya minuman beralkohol. Jika dibadingkan antara kehidupan masyarakat Dili dengan masyarakat di Surabaya, sangat berbeda. Di Surabaya, seorang tamu cukup disuguhi dengan segelas air putih, kopi atau the dengan kue/makanan ringan lainnya. Sementara bagi masyarakat Dili, hal seperti itu tidak biasa; akan mengurangi gengsi tuan rumah bila di atas meja tidak tersedia minuman beralkohol. Situasi demikian juga normal terjadi dalam setiap kerumunan anak-anak muda di pinggiran jalan atau gang-gang perkampungan.[14] 
Seringkali pula, konflik social di kota Dili, dipicu oleh ulah sebagian pemuda yang tergabung dalam organisasi beladiri (arte marçiais). Sikap solidaritas sesame anggota seringkali menjadi alasan utama bagi sekelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi tersebut berhadapan dengan organisasi beladiri lainnya.
Terkait dengan persoalan organisasi beladiri, maka hingga detik ini, pemerintah belum mampu membuat sebuah peraturan yang tepat guna mengatasinya. Ketiadaanya peraturan pengatur serta lemahnya kebijakan politik pemerintah dalam menyelesaikannya, seringkali memicu institusi F-FDTL, khususnya semenjak dipimpin oleh Panglima Lere Anan Timor untuk selalu mengeluarkan statemen bernada ancaman terhadap para pelaku instabilitas lokal atau nasional.
Semua kasus di atas hanyalah bagian dari permasalahan kecil yang saat ini terjadi di kota Dili. Masih banyak persoalan lain, yang intinya menjadi factor penyebab bagi mudahnya masyarakat Dili untuk terlibat dalam arena perkelahian yang sifatnya horizontal.
Dili dan Modernisasi Dili & Modernização
Program agrikultura tak mampu mencegah urbanisasi penduduk ke Dili
Di sisi lain, usaha-usaha pencegahan atas arus urbanisasi yang dilakukan oleh pemerintah kurang mendapatkan respon positif dari masyarakat. Melalaui Ministeriu Agrikultura e Peskas misalnya, usaha-usaha pemberdayaan petani beserta pemberian peralatan kerja pertanian secara gratis, ternyata tetap tidak mampu menahan keinginan para penduduk desa untuk dating ke kota Dili. Bahkan, pemerintah dengan menggunakan Pakote Dezenvolvimentu e Desentralisasaun (PDD) juga tetap tidak mampu menghambat laju kepindahan penduduk tersebut. Dengan dua kasus ini pula, maka kemungkinan besar bahwa kebijakan desentralisasi pemerintah dalam 5 tahun ke depan, seperti dengan membangun infrastruktur pemerintahan distrital dengan memajukan peranan governu local beserta parlemen distrital akan berakhir pada nasib yang sama: tidak mampu menghentikan arus urbanisasi ke Dili.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan mengadu nasib ke Dili bukan semata-mata faktor ekonomi dan politik. Seseorang akan tetap berangkat ke Dili dan tinggal di Dili, ketika ada anggota keluarganya yang “mengalami kesuksesan”. Selain itu, masih kuatnya hubungan kekerabatan di antara mereka, seperti seorang keponakan akan tetap menjadi tanggungjawab dari paman atau om-nya (tiun) dalam hal sekolah dan kebutuhan lainnya, manakala ia berada di kota Dili. Faktor-faktor demikian menjadi sekian banyaknya variabel yang semakin memperumit pola dan arus urbanisasi di Timor Leste beserta penanganan atas dampak yang ditimbulkannya.



[1] Selama 10 tahun tinggal dan hidup di ibukota Dili, saya merasakan adanya monotonisme kehidupan. Kegiatan-kegiatan yang berjalan tidak lebih sebagai sebuuah rutinitas yang kosong akan makna. Hiburan menjadi barang yang langka alias susah di dapatkan. Satu-satunya sarana hiburan yang dapat saya akses dan juga kebanyakan golongan berduit masyarakat Dili adalah tempat-ttempat hiburan malam atau bar dan sarana hedon lainnya. tentu, tempat-tempat demikian menjadi barang yang mahal bagi masyarakat golongan miskin.
[2] Saya berharap dapat menulis tentang persoalan kebudayaan masyarakat Timor Leste.
[3] Selama ini, tulisan-tulisan saya tentang susunan kelas social masyarakat Dili masih belum sistematis. Untuk kelas menengah dapat dibaca di artikel: Organização da Luta Massa Universitario (Povo) do Timor Leste
[4] Saya sempat diberi tahu oleh seorang perempuan pribumi, yang kebetulan rumah kami bersebelahan. Ia berkeinginan membuka usaha informal dengan membuka rumah makan dan berjualan bakso ala Jawa. Ia dihadapkan pada persoalan lokasi tempat berjualan. Ia kemudian berusaha bertanya pada pemilik ruko di perempatan Hudi Laran. Saat mendengar jawaban, ia sangat terkejut dan berkomentar: “Ida ne’e maka komplikadu liu! Uluk ita halo funu para bele liberta  ita nia rai doben Timor Leste ne’e, maibe ukun rasik’an hetan tiha ona, atu halo aktividade bisnis kiik-oan moos ita tenki aluga fali ba ema estranjerius fali ho folin 1.000 dollar kada fulan. Bulak!” (Ini benar-benar komplikasi! Dulu, kita melakukan perang dengan maksud untuk membebaskan bumi tercinta Timor Leste, setelah kemerdekaan kita peroleh, masak mau membuat kegiatan bisnis kecil-kecilan, kita harus menyewa kembali (ruko) pada orang asing seharga 1.000 dollar setiap bulannya. Gila!)
[5] Semoga saya dapat membuat artikel tentang susunan kelas masyarakat Timor Leste.
[6] Akan dibahas dalam materi tersendiri. Sebagai pengantar/pengetahuan umum dapat dibaca di artikel: Kronologi Konflik 2006.
[7] Baca di susunan kelas social masyarakat Timor Leste
[8] Banyak politisi yang berpandangan bahwasannya Timor Leste akan susah untuk berkembang bila tidak membuka pintu lebar-lebar bagi kekuatan ekonomi asing (baca: investor). Dan pandangan ini pula yang selalu dikampanyekan baik secara terbuka maupun malu-malu.
[9] Mengenai peta kekuatan politik Timor Leste ini akan dibahas dalam artikel tersendiri.
[10] Baca artikel berjudul: Timor Leste: Nasionalisme ala F-FDTL
[11] Baca tulisan M. Castells, 1983, The City and the Grassroots: A Cross-Cultural Theory of Urban Social Movements. London: Edward Arnold.
[12] Model ini lebih banyak dipilih atas dasar pertimbangan keuangan, referensi pemilik rumah dan tukangnya, serta tingkat kemudahan dalam hal pembuatannya. Sesuatu yang sangat lucu (namun tragis) adalah rata-rata para tukang bangunan/badaen di Timor Leste adalah badaen kagetan: mendadak jadi badaen. Semua ini disebabkan oleh kondisi perekonomian keluarga dan juga ketiadaannya lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga para badaen tersebut sebelum menjadi badaen. Maka, tidak mengherankan bila ada seorang badaen yang peralatan kerjanya tidak lengkap. Dalam obrolan café dengan kolega, siapa biasa menyebut badaen Timor Leste dengan istilah ‘Badaen Martil’, yakni badaen yang bermodalkan palu/martil, gergaji dan meteran saja. Selain dari peralatan ini, biasanya si pemilik rumah yang disuruh untuk membeli. Sementara itu, bukan menjadi rahasia umum bila badaen Timor dikenal lambat dalam bekerja. Istilah umum yang biasa dipakai untuk menjulukinya adalah ‘Badaen Fumador’, yakni badaen yang selesai memasang satu buah batako langsung berhenti untuk merokok/fuma.
[13] Saya tinggal di sebuah bairo atau terkenal dengan sebutan Hudi Laran, yang sebelumnya dikenal sebagai area rawan konflik antar penghuninya. Saat ini, Hudi Laran relative lebih tenang disbanding 4 tahun sebelumnya. Terdapat pemandangan mengenai pengelompokan social yang secara natural terjadi di kawasan ini: bagaimana masing-masing penghuni rumah mencoba membangun ikatan komunitas yang didasarkan pada ikatan etnisitas/kedaerahan. Keluarga dari etnik Fataluku akan cenderung membangun hubungan mesra dengan sesame mereka. Hal yang serupa juga dilakukan oleh etnik Makasae, Kemaq, Bunaq, dan Mambai. Dalam bahasa tetum dikenal dengan istilah ‘buka nia maluk rasik’ (mencari anggota atau kerabatnya sendiri). Sikap toleransi dan penghormatan kepada sesama/tetangga relative rendah. Rumah saya diapit oleh keluarga Makasae (Lospalos-Luro), Manatuto, sebuah keluarga Viequeque-Same, dan sebuah keluarga campuran Malaiana dan Suai. Semua tetangga tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda. Keluarga Maksae, tak pernah menurunkan volume suaranya ketika berbicara: keras dan mirip dengan orang yang sedang bertengkar, dan dalam setiap kalimat pasti muncul satu kata makian (Ina nia huin, karalhu, het nia man, etc); tidak perduli mau siang atau malam. Keluarga Manatuto  juga tidak jauh berbeda; selama 24 jam selalu dalam kondisi perang sesame dalam satu rumah. Si ibu (janda) berprofesi sebagai guru SD (bersyukur sudah pindah, karena rumah dijual oleh orang tuanya. Keluarga lainnya adalah Makasae (Viqueque), yang terlihat begitu arogan ketika mengendarai mobilnya. Meskipun di dalam jalanan bairo, ia selalu berlari kencang. Satu lagi adalah, keluarga Viqueque-Same yang begitu gak ambil pusing dengan situasi lingkungannya. Ia adalah seorang sopir taxi yang kebetulan patraon atau majikannya memperbolehkan membawa taxinya untuk dibawa pulang ke rumah. Kebiasaannya (sekeluarga) bila memutar tape selalu dengan suara yang seluruh penghuni bairo dapat mendengarkannya.  Satu laginya adalah sebuah keluarga campuran antara Tetum Terik (Suai) dengan Bunaq (Bobonaro). Pekerjaannya lebih suka memamerkan harta kekayaan. Dan masih banyak karakter lainnya. Yang intinya, bahwa di bairo tempat kami tinggal dihuni oleh berbagai macam karakter yang berbeda-beda, yang kesemuannya mengindahkan akan nilai-nilai dan norma-norma social (etika penghormatan).
[14] Di bairo tempat saya tinggal, terdapat sebuah pemandangan dan kebiasaan dari sekumpulan anak muda yang bekerja sebagai buruh di gudang beras milik PT Globus, yakni bagaimana mereka dengan teman-teman sebaironya langsung memborong minuman kaleng beralkohol (Bir merk Tiger, ABC, dan juga arak/Tuak Sabu) pada sebuah kios di sebelah rumah setelah mereka menerima bayaran dari majikannya. Mereka menerima bayaran dalam setiap minggunya. Mereka dibayar 5 dollar per hari. Berarti dalam satu minggu, mereka mendapatkan bayaran sebesar 35 dollar. Ironisnya adalah, uang upah selama seminggu tersebut akan habis saat itu juga. Celakanya lagi, rutinitas demikian, seringkali berakhir dengan perkelahian diantara sesama mereka. Ini juga berlaku bagi mereka yang sudah berkeluarga: punya istri dan punya anak.