Di masa orde baru, Soekarnoisme mengalami nasib yang hampir serupa dengan komunisme: haram untuk eksis di Indonesia. Nasib yang hampir serupa juga dialami oleh para pengikutnya, meskipun pengikut Soekarno masih "lebih beruntung" dibanding pengikut Komunis.
Begitu takutnya dengan Soekarnoisme (entah bener-bener takut atau bikin-bikinan doang), sampai-sampai Rezim Orde Baru melarang peredaran baik buku, foto yang berbau Soekarnoisme. Pengawasan yang ketat juga dialami oleh keluarga & keturunan Soekarno. Semua bentuk pengawasan dan pelarangan tersebut, tujuannya hanya satu: mencegah kebangkitan soekarnoISME. Situasi demikian terus berlangsung hingga akhir kejatuhan Soeharto.
Pasca kejatuhan Soeharto (1998) hingga sekarang, apa yang sebelumnya diharamkan Orde Baru tersebut boleh bergerak dengan leluasa. Tentara, sebagai salah satu kekuatan penyangga orde baru "tidak lagi" alergi dengan hal-hal yang berbau Soekarno. Mengapa mereka tidak alergi?
Sederhana. Yang berkembang saat ini hanya Soekarno, Soekarno, dan Soekarno. ISME-nya sendiri tidak dikembangkan. Karena ISME-nya hilang, maka tentara cs. tidak alergi. Bagi mereka, ketika ISME-nya hilang, maka Soekarno maknanya sama dengan Soewandi, Soelabi, Soewondo, dan Soe Soe lainnya.
----
----


