Kamis, 21 September 2017

JALAN TERJAL MARI ALKATIRI

Sesuai dengan rencana yang sudah dijadwalkan, maka sore ini (9/15), Presiden Timor-Leste Francisco Guterres Lu-Olo (sekaligus Presiden FRETILIN) akan melantik Mari Alkatiri sebagai Perdana Menteri untuk periode 2017-2022. Ini berarti untuk kedua kalinya, Mari Alkatiri memegang jabatan strategis tersebut.

Pada awalnya, saya pribadi kurang tertarik dengan sosok yang bernama Mari bin Amude Alkatiri ini. Ketidaktertarikan ini disebabkan kurangnya mengenal sosok satu ini, khususnya di era perjuangan pembebasan tanah air Timor-Leste (pra 1999). Bahkan, pada waktu itu, banyak anak-anak muda Timor-Leste sendiri yang kurang mengenal nama dan sosok Mari Alkatiri. Kebanyakan, nama-nama yang sering dibicarakan adalah Nicolau Lobato (almarhum), Francisco Xavier do Amaral (almarhum), dan Xanana Gusmão.

Nama Mari Alkatiri mulai mencuat ke publik Timor-Leste, juga dunia internasional pasca 1999, khususnya semenjak dia menjabat sebagai Perdana Menteri pada Pemerintahan Konstitusional Pertama pada tahun 2002-2006. Semenjak itu pula, Mari Alkatiri menjadi salah satu actor principal dalam perpolitikan nasional Timor-Leste, yang keberadaannya sejajar dengan Xanana Gusmao. Bahkan, persepsi umum beranggapan bahwasannya perpolitikan nasional Timor-Leste hanya “ditentukan” oleh 2 elit politik ini saja: Xanana Gusmao dan Mari Alkatiri.

Mari Alkatiri adalah penduduk Timor-Leste keturunan Arab-Yaman, yang lahir di Dili pada tanggal 26 November 1946 (71 tahun). Mari Alkatiri terlahir dari 10 bersaudara. Sesuai dengan nama dan asalnya, Mari Alkatiri beragama Islam. Pendidikan dasar dan menengah formalnya ditempuh di Dili, sedangkan perguruan tingginya di Angola dan Mozambik (Afrika). Menjelang invasi Militer Indonesia, dia beserta istrinya meninggalkan Timor-Leste pada tanggal 4 Desember 1975. Mari Alkatiri memiliki 3 orang anak dari hasil perkawinannya dengan Marina Ribeiro (Duta Besar Timor-Leste untuk Mozambik), yakni Nurima Alkatiri, Solok Alkatiri dan Lukito Alkatiri.

Mari Alkatiri merupakan salah satu aktor intelektual gerakan kemerdekaan nasional Timor-Leste baik dari penjajahan Portugis maupun Indonesia. Salah satu kreator bagi organisasi prokemerdekaan ASDT (Asosiasi Sosial Demokrat Timor) yang kemudian bertransformasi menjadi FRETILIN (Front Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor) 1974. Secara ideologis, Mari Alkatiri adalah pengikut sosial-demokrat (sosdem). Semenjak Kongres Luar Biasa pada Juli 1999 hingga sekarang, Mari Alkatiri menempati posisi sebagai Sekretaris Jenderal FRETILIN.

Mari Alkatiri menjabat sebagai Perdana Menteri pada 2002-2007. Namun, pada tahun 2006 seiiring dengan munculnya krisis politik, Mari Alkatiri DIPAKSA oleh Xanana Gusmao untuk melepaskan jabatannya. Selanjutnya, jabatan Perdana Menteri dilanjutkan oleh Estanislau da Silva dan Jose Ramos Horta hingga tahun 2007.

Pada pemilu parlementar 2017, FRETILIN berhasil memenangkan pemilihan, disusul CNRT (partai politik yang dipimpin oleh Xanana Gusmao). Sebelumnya, yakni pemilu 2012, FRETILIN dikalahkan oleh CNRT. Meskipun di tengah-tengah krisis politik nasional, FRETILIN berhasil memenangkan pemilu 2007. Walau memenangkan pemilu 2007, FRETILIN tidak bisa membentuk pemerintahan. Selanjutnya, sejak tahun 2007 hingga 2017, pemerintahan dibentuk oleh CNRT melalui koalisi di Parlemen Nasional.

Dinamika politik, mengubah komposisi kekuasaan. Pada awal tahun 2015, Xanana Gusmao mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri dan menyerahkan posisi ini kepada Rui Araujo (anggota Komite Sentral FRETILIN). Perubahan komposisi ini juga tidak terlepas dari KOMPROMI politik antara Mari Alkatiri dengan Xanana Gusmao. Intinya, tidak ada kompromi yang sifatnya gratis. Ini merupakan kompromi “tukar guling”, di mana Mari Alkatiri dan FRETILIN mendapatkan jatah di pemerintahan dan proyek. Sebaliknya, Mari dan FRETILIN diharuskan untuk mendukung alias tidak menggoyang kekuasaan Xanana Gusmao. Sebagai konsekuensi dari kompromi ini, Xanana Gusmao harus memecat beberapa menteri yang dipegang oleh PD (Partai Demokrat). Puncak dari tukar guling ini adalah Xanana memberikan dukungan politiknya kepada Lu-Olo sebagai calon Presiden Timor-Leste dan berhasil.

“Keharmonisan” antara Mari Alkatiri dengan Xanana Gusmao mulai retak kembali setelah melihat hasil pemilu parlementar bulan Juli lalu, di mana FRETILIN berhasil unggul tipis dibanding CNRT. Sesuai dengan Konstitusi RDTL, maka FRETILIN (walaupun unggul tipis) memiliki hak untuk membentuk pemerintahan.

Agar pemerintahan yang akan dibentuk stabil, mau tidak mau, FRETILIN harus merangkul partai politik lainnya. Akhirnya, 4 partai politik (CNRT, PLP, PD & KHUNTO) dipanggil oleh FRETILIN. Partai politik yang sejak awal menolak berkoalisi dengan FRETILIN adalah CNRT. Selanjutnya, disusul PLP, yakni partai yang dipimpin oleh Taur Matan Ruak (Presiden RDTL 2012-2017). Akhirnya, 2 parpol (PD & KHUNTO) bersedia membangun koalisi dengan FRETILIN. Koalisi ini, kemudian mengantarkan anggota Komite Sentral FRETILIN sebagai Ketua Parlemen Nasional. Dalam perjalanannya, koalisi 3 parpol ini tidak bertahan lama. Kemarin (13/9), KHUNTO menyatakan menarik diri dari koalisi. Dengan demikian, tinggallah FRETILIN dan PD saja. Keluarnya KHUNTO, pada akhirnya mengubah komposisi di Parlemen Nasional. Koalisi FRETILIN (23) & PD (7) berjumlah 30 kursi, sedangkan oposisi lebih besar, yakni 35 kursi (CNRT = 22, PLP = 8, & KHUNTO = 5).

Kembali ke sosok Mari Alkatiri. Dia dikenal sebagai politisi yang keras kepala dan bertangan besi dan tidak kenal kompromi (meskipun faktanya melakukan kompromi dengan Xanana Gusmao dengan menerima proyek Oequssei/Ambeno, termasuk juga berkompromi dengan pihak Australia terkait dengan pembagian minyak di Celah Timor).

Ketika menjabat sebagai Perdana Menteri, Mari Alkatiri melakukan politik konfrontasi dengan pihak gereja Katholik. Akibat sikapnya ini, maka pihak gereja kemudian memobilisi umatnya untuk menjatuhkan Mari Alkatiri pada tahun 2005. Peristiwa yang dikenal dengan sebutan “demo gereja” ini juga mendapatkan dukungan aktif dari partai politik seperti PD. Selain itu, juga didukung oleh Xanana Gusmao. Mari Alkatiri gagal digulingkan.

Memasuki awal tahun 2006, konflik politik pun berlanjut. Kali ini, terjadi di dalam tubuh institusi militer (F-FDTL). F-FDTL didera isu kedaerahan/primodial antara militer bagian barat (loromonu) dan bagian timur (lorosae). Puncaknya, lebih dari 500 anggota F-FDTL (petisioner) yang berasal dari bagian loromonu mengajukan petisi kepada pemerintah. Sebagai respon, maka pemerintah yang dipimpin oleh Mari Alkatiri melalui Panglima F-FDTL Taur Matan Ruak menyatakan memecat semua militer yang terlibat dalam pemberian petisi tersebut. Karena dipecat, maka para Petisioner tersebut melakukan aksi demonstrasi yang berujung pada tindak kekerasan. Aksi ini selanjutnya memicu lahirnya konflik horizontal antar anggota mayarakat. Sebagaimana aksi ketidakpuasan sebelumnya, maka protes 2006 ini juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak gereja, PD, dan juga Xanana Gusmao. Dan sebagai puncaknya, Xanana Gusmao yang menjabat sebagai Presiden Timor-Leste akhirnya menawarkan dua opsi kepada Mari Alkatiri, yakni mundur dengan sukarela atau dipaksa untuk mundur. Hasil akhirnya adalah Mari Alkatiri mengundurkan diri.

Banyak yang beranggapan bahwasannya konflik politik yang terjadi di Timor-Leste ini sesungguhnya adalah konflik antara 2 orang saja, yakni antara Mari Alkatiri dengan Xanana Gusmao. Lebih luasnya lagi, antara FRETILIN dengan Xanana Gusmao.

Secara historis, Xanana Gusmao tidak masuk dalam lingkaran elit principal 1974 yang dimotori oleh Mari Alkatiri cs. (Nicolau Lobato, Xavier do Amaral, Ramos Horta, dll). Xanana Gusmao sendiri baru menunjukkan perannya sejak Indonesia invasi serta setelah dia berhasil melakukan reorganisasi dan restrukturisasi (RERA) FRETILIN pada tahun 1980-an pasca kematian Nicolau Lobato. Politik RERA ala Xanana inilah yang kemudian secara tidak langsung menegasikan (meniadakan) eksistensi FRETILIN. Akibatnya, banyak anggota dan pimpinan FRETILIN yang “sakit hati” terhadap Xanana. Politik RERA Xanana terus berlanjut hingga dibentuknya CNRT (Resistensi) pada tahun 1997. Ini adalah konflik terkait dengan “ego-legitimasi”, di mana dipihak Mari Alkatiri menyatakan bahwa “FRETILIN sebagai satu-satunya wadah perjuangan yang sah”, sedangkan di pihak Xanana menyatakan bahwa “yang sah adalah CNRT.”

Memang, dibanding dengan Xanana Gusmao, maka Mari Alkatiri kalah popular. Kekalahan Mari Alkatiri ini lebih banyak disebabkan karena sejak tahun 1975 dia tidak lagi tinggal di Timor-Leste. Sejak saat itu hingga 1999, Mari Alkatiri menjadi “bagian” dari anggota Front Diplomatik atau orang-orang Timor-Leste yang berjuang di luar negeri. Dia mulai dikenal luas semenjak menjabat sebagai Sekretaris Jenderal FRETILIN 1999, yakni sebuah jabatan yang dipegang hingga detik ini.

Secara fisik, Mari Alkatiri bertemu dengan Xanana Gusmão sebelum Desember 1975. Dan, keduanya bertemu kembali menjelang referendum 1999. Tanda-tanda konflik pun mulai mengemuka manakala pihak PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) hanya mengakui CNRT sebagai satu-satunya organisasi yang akan dicetak di kertas pemungutan suara. Ketika itu, Mari Alkatiri beserta FRETILIN “kurang seberapa tunduk” kepada Xanana Gusmão dan CNRT (FRETILIN juga menjadi anggota CNRT).

Pada pemilu Dewan Konstituante 2001, FRETILIN berhasil memborong 55 kursi dari total 88 kursi yang diperebutkan. Dewan ini bertugas untuk membuat Konstitusi (UUD) Timor-Leste. Salah satu point terpenting dari Konstitusi ini adalah Timor-Leste menganut system semipresidensial atau semiparlementar. Konsekuensinya, terdapat 2 kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh 2 orang yang berbeda. Selanjutnya, awal 2002, melalui perwakilan administrasi PBB (UNTAET), maka digelarlah pemilu presiden, dan Xanana Gusmão keluar sebagai pemenang berhadapan dengan Francisco Xavier do Amaral.

Untuk mengimbangi kekuatan FRETILIN dan hegemoni Mari Alkatiri, maka Xanana Gusmão mendukung didirikannya sebuah partai politik yang menyatakan diri sebagai “anaknya FRETILIN”, yakni PD. Pada saat yang hampir bersamaan, sosdem-nya FRETILIN juga dideklarasikan, yakni ASDT (Francisco Xavier do Amaral) dan PSD (Mario Viegas Carascalao). Selain itu, beberapa tahun sebelumnya, “Marxisme-Leninismenya FRETILIN” juga diproklamirkan, yakni PST (Partai Sosialis Timor) yang menyatakan diri masih memiliki hubungan ideologis dengan PMLF (Partai Marxisme-Leninisme FRETILIN) yang didirikan oleh Xanana Gusmão pada tahun 1981. Di luar partai politik, juga dideklarasikan organisasi CPD-RDTL (FRETILIN Movemento atau FRETILIN Pergerakan/Perjuangan).

Aksi ketidakpuasan terhadap pemerintahan Mari Alkatiri dan FRETILIN, sudah mulai mengemuka sejak Desember 2002. Rumah Mari Alkatiri dibakar oleh massa. Selanjutnya pada pertengahan April 2004, mantan anggota FALINTIL (Tentara Pembebasan Nasional Timor-Leste) yang dipimpin oleh L-7 melakukan aksi protes. Tidak hanya ini saja, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, kekuasaan Mari Alkatiri digoyang oleh pihak gereja dan pihak oposisi (khususnya PD).

Berbagai macam isu penggoyangan terhadap Mari Alkatiri dan FRETILIN terus dihembuskan mulai dari isu rasialis (Mari Alkatiri orang Arab), agama (Mari Alkatiri orang Islam), ideologis (Mari Alkatiri seorang komunis) hingga isu keterlibatan anggota keluarganya sebagai bagian dari kekuatan pro-otonomi.

Perpecahan di internal FRETILIN sendiri juga mulai muncul. Sebuah kelompok mendirikan FRETILIN MUDANSA/Perubahan. Akhirnya, kelompok ini mendeklarasikan keluar dari FRETILIN dengan membentuk partai Frenti-Mudansa pada tahun 2007. Pada tahun ini juga, Xanana Gusmão mendeklarasikan berdirinya CNRT (Rekontruksi). Selain itu, organisasi pecahan FRETILIN lainnya juga didirikan, yakni UNDERTIM (L-7).

Meski digoyang dengan berbagai isu dan aksi, Mari Alkatiri masih kokoh bertengger di kursi kekuasaan FRETILIN. Banyak yang beranggapan bahwa selama dipimpin oleh Mari Alkatiri, maka FRETILIN tidak akan pernah menang. Kenyataannya, Mari Alkatiri selalu menjadi Sekretaris Jenderalnya, dan FRETILIN menang 2 kali pada pemilu parlementar tahun 2007 dan 2017.

Mari Alkatiri bukanlah figur populis sebagaimana Xanana Gusmão. Dia membangun kekuatan dan hegemoninya di FRETILIN melalui kemampuan “politik administrasi” yang dimilikinya. Ia bersama FRETILIN seakan-akan menjadi tembok yang susah untuk dirobohkan. Dan kali ini, tembok ini kembali diuji. Mari Alkatiri dan FRETILIN harus rela berbagi kue kekuasaan dengan sebuah partai politik yang sebelumnya sangat alergi dan anti terhadap mereka, yakni PD. Banyak yang beranggapan bahwa pemerintahan baru hasil Koalisi FRETILIN-PD (KFP) ini tidak akan bertahan lama. Lama dan tidaknya tergantung pada 2 hal, factor internal dan eksternal.

Faktor internalnya adalah “perkawinan” FD harus mampu menghapuskan memori hitam atau rasa tidak suka antara FRETILIN dengan PD yang terjadi selama kurang lebih selama 15 tahun. Ini adalah beban psikologis politik yang berat bagi Mari Alkatiri. Mengingat, PD adalah organisasi yang secara politik dan emosional memiliki hubungan yang kuat dengan Xanana Gusmão.

Selain itu, Mari Alkatiri harus berhadapan dengan kekuatan oposisi seperti CNRT, PLP, dan kemungkinan besar KHUNTO, yang jumlahnya lebih besar di Parlemen Nasional.

Dan, yang lebih penting lagi adalah pemerintahan Mari Alkatiri cs harus berhadapan dan mampu menghadapi persoalan obyektif yang sedang menimpa negeri ini, seperti stagnasi (kemacetan) produksi ekonomi nasional, dominasi kekuatan modal China, bertambahnya angka pengangguran intelektual, ketidakjelasan pengembangan sumber daya manusia (sektor pendidikan), dan sebagainya. Apalagi, ketika harus berhadapan dengan segala bentuk dan praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Benar. FRETILIN dan PD selama kampanye sama-sama meneriakkan “Viva Povu Maubere atau Hidup Rakyat Maubere.” Kenyataannya, banyak kebijakan mereka yang justru menyengsarakan kehidupan rakyat Maubere (Lei Pensaun Vitalisia, dll). Memang, mereka sama-sama anti terhadap kolonialisme dan imperialisme. Namun, sayangnya mereka tidak anti terhadap kapitalisme.

Dan, ini yang nggak kalah pentingnya berkaitan dengan “bertahan dan tidaknya pemerintahan Mari Alkatiri:
  1. Apakah Xanana Gusmão (CNRT), Taur Matan Ruak (PLP), dan KHUNTO (Naimori) benar-benar akan menjalankan fungsinya sebagai oposisi yang 100 persen? Ataukah hanya oposisi setengah hati sebagaimana yang sudah ditunjukkan selama ini oleh FRETILIN?
  2. Apakah rakyat Timor-Leste MASIH TERTARIK dengan keadaan politik yang berlangsung selama ini, baik ketertarikan untuk mendukung atau menolak kebijakan pemerintahan yang ada? Mengingat bahwa semua actor di pemerintahan baru ini adalah pemain lama?
----
Facebook: https://web.facebook.com/vladimir.desafii




Senin, 04 September 2017

DITEMUKAN KAPAK LONJONG MANUSIA PURBA DI TUTUALA

Setelah bekerja selama kurang lebih 2 minggu, akhirnya Tim Arkeolog menemukan benda-benda purbakala yang terbuat dari batu sebagai sisa-sisa peninggalan manusia purba di Desa Tutuala, Kecamatan Tutuala, Kabupaten Lospalos (Timor-Leste). Salah satu benda purbakala yang ditemukan adalah KAPAK LONJONG terbuat dari batu. Hingga kini, Tim Arkeolog belum membuat kesimpulan mengenai hasil penemuan benda bersejarah tersebut.
Sebagaimana diketahui, bahwa sebelum kehidupan “modern” seperti sekarang ini, telah berlaku kehidupan manusia di masa lalu yang dikenal dengan istilah kehidupan manusia purba. Sebagian ilmuwan menyebutnya dengan istilah “pra-sejarah”.
Salah satu perspektif yang dipergunakan untuk memahami kehidupan manusia purba ini adalah dengan memahami alat-alat yang mereka pergunakan baik untuk mempertahankan dan menjaga kelangsungan hidup mereka. Dari sudut pandang inilah, selanjutnya kehidupan manusia purba dibagi menjadi beberapa era atau zaman, yakni zaman batu, zaman perunggu dan zaman besi.
Disebut zaman batu karena semua peralatan bekerja mereka terbuat dari batu (meskipun peralatan lain juga mereka pergunakan seperti kayu dan tulang) mulai dari bentuknya yang sederhana dan kasar hingga bentuk yang bagus dan halus. Melihat hasil penemuan Tim Arkeolog di Tutuala tersebut, kapak lonjong ini ukurannya relative kecil dan relative halus. Dengan demikian, (perkiraan saya) benda ini dibuat dalam kurun waktu antara zaman batu NEOLITHIKUM hingga MESOLITHIKUM (1.500 – 20.000 Sebelum Masehi).
Kesimpulan saya ini juga didasarkan pada bahwa ciri-ciri kehidupan neolithikum hingga mesolithikum adalah mereka, meskipun dalam memenuhi kebutuhan makanan dengan cara berburu, juga sudah melakukan pola produksi pertanian (sederhana). Selain itu, mereka tidak lagi nomaden (sudah bertempat tinggal tetap). Sebagai tempat tinggal tetap mereka adalah gua atau bebatuan yang strukturnya menjorok ke dalam.
Lokasi penemuan benda purbakala ini sendiri berada di goa dan di dekat pantai (Pantai Walu). Di dalam dinding goa sendiri juga ditemukan ukiran atau pahatan bergambar wajah (baca: kepala) manusia. Tidak jauh dari lokasi penemuan, juga terdapat goa (Goa Ili Kere-Kere) dengan dinding yang dilukis dengan beberapa gambar tangan, perahu, hewan, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwasannya manusia purbakala pemilik kapak lonjong tersebut telah memiliki tingkat pengetahuan yang lebih maju dibanding kehidupan di zaman sebelumnya (zaman batu paleithikum).
Secara umum, kapak lonjong dari batu tersebut, biasanya dipergunakan untuk memotong daging hewan, menguliti kayu, juga tidak menutup kemungkinan dipakai sebagai pahat untuk memahat wajah manusia di dinding goa tersebut. Di beberapa tempat yang lain, seperti di Sumatera dan Sulawesi, Flores, Rote, Atambua (Timor Barat/NTT) serta Seram (Papua) dan Maluku (Kei), biasanya kapak lonjong dengan ukuran kecil tersebut juga dipandang sebagai senjata sakral (lulik) untuk acara ritual keagamaan.
Secara umum pula, masyarakat purba yang terbiasa menggunakan kapak lonjong masuk dalam kategori Ras Austromelanosoide (mayoritas), Aborigin (Australia)  dan Melanosoid (papua). Selain itu juga Ras mongoloide (minoritas) seperti yang ditemukan di Semang (Kalimantan-Malaysia) dan Atca (Filipina).
Mungkin, patut untuk dijadikan catatan, bahwasannya secara geografis (berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Wallacea), Timor-Leste berada di area Wallacea Line, yakni area campuran antara kebudayaan kapak lonjong dengan kebudayaan kapak persegi. Intinya adalah penemuan benda purbakala tersebut sangat penting bagi masyarakat Timor-Leste guna memahami sejarahnya di masa lalu: “bahwa sejarah masyarakat manusia bukanlah semata-mata sejarahnya kolonialisme saja.”

----

Sabtu, 12 Agustus 2017

SEJARAH GELAR “DOM” DI TIMOR-LESTE

Dari kiri: Dom Boa Ventura & Dom Aleixo Corte-Real
Dilihat dari asal-asul kata, maka istilah “dom” berasal dari Bahasa Portugis. Dengan demikian, secara pasti, gelar “dom” yang berada di depan nama orang Timor-Leste, seperti Dom Duarte, Dom Boa Ventura, Dom Corte-Real, dan lainnya berasal dan diberikan oleh Portugis terhadap orang-orang Timor-Leste (atau wilayah koloni lainnya seperti Dom Manuel di Ternate, Maluku Utara) dengan maksud sebagai pertanda bahwasannya orang tersebut telah dibaptis gelar kebangsawanannya. Tujuan lainnya juga untuk membedakan status sosial antara pemilik gelar “dom” tersebut dengan penduduk biasa.
Dom dalam Bahasa Portugis atau “don” dalam Bahasa Spanyol berasal dari kata Bahasa Latin, yakni “dominus”. Portugis dan Spanyol menggunakan gelar ini khusus diperuntukkan bagi para raja dan anggota keluarga bangsawan yang berjenis kelamin laki-laki. Sementara itu, bagi perempuan diberi gelar “dama” atau “dame” dalam Bahasa Latin. Tradisi pemberian gelar “dom” ini juga biasa diberikan terkait dengan hirarki tertentu dalam Gereja Katholik Roma.
Lantas, mengapa Portugis memberikan gelar “dom” kepada orang-orang Timor-Leste, sedangkan orang Timor-Leste sendiri tidak ada hubungan kebangsawanan dengan para bangsawan Portugis di Eropa? Selain itu, kapan gelar “dom” ini diberikan kepada Boa Ventura (Munisipiu Manufahi) dan Corte-Real (Ainaro) ?
Setelah kekalahan Portugis oleh Belanda terkait dengan perebutan wilayah jajahan di Maluku, maka Portugis kemudian menetap di Pulau Timor, tepatnya di Ambeno (sekarang Oequsse). Gempuran Belanda terus berlanjut. Belanda yang berpusat di Kupang (Timor Barat) terus menggempur Portugis. Sebagai akibatnya, Portugis memindahkan ibukota pemerintahannya ke Dili pada tahun 1769.
Dari Dili inilah, Portugis mulai mengkonsolidasikan kembali Pulau Timor bagian timur. Sudah barang tentu, proses pengkonsolidasiannya tidak berjalan dengan mulus. Salah satu agenda yang harus dilakukan adalah dengan membentuk struktur administrasi pemerintahan.
Berbicara mengenai struktur organisasi pemerintahan berarti berbicara mengenai orang-orang professional (baca: birokrat) yang mengerti urusan pemerintahan. Salah satu syarat seseorang bisa masuk dalam kategori birokrat atau professional adalah orang tersebut harus mengerti membaca dan menulis. Guna memenuhi kriteria ini, maka penguasa kolonial Portugis bersama-sama dengan pihak Gereja mendirikan sekolah-sekolah keagamaan. Melalui sekolah-sekolah gereja inilah mereka merekut golongan tertentu penduduk asli Timor-Leste.
Mengingat seringnya terjadi perlawanan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang berada dalam masyarakat, Portugis, selanjutnya memberikan gelar “dom” kepada tokoh-tokoh masyarakat tertentu dengan tujuan utama untuk memecah belah persatuan antara liurai (raja-raja lokal, atau semacam kepala suku). Dalam tradisi kebangsawanan Portugis, pemberian gelar “dom” ditetapkan melalui sebuah surat resmi. Dilihat dari segi waktunya, kemungkinan besar gelar “dom” diberikan kepada Boa Ventura dan Corte-Real pada tahun 1900-an atau bisa jadi beberapa tahun sebelum 1900-an. Gelar yang sama juga diterima oleh Dom Duarte yang merupakan orang tua Dom Boa Ventura.
Sementara itu, dalam konteks kemornakhian di Timor-Leste sendiri, tidak ada gelar untuk para raja-raja lokal tersebut. Istilah “liurai” berasal dari Bahasa Tetum, yakni “liu” (artinya lewat, melalui, atau lebih) dan “rai” (tanah, atau konteks tertentu bermakna simpan). Sebutan “liurai” hanya berlaku untuk masyarakat dari etnik Tetum, sedangkan etnik lainnya tidak.

Jadi, istilah “dom” adalah gelar dalam hirarki kebangsawanan yang diberikan oleh Portugis kepada orang-orang tertentu di Timor-Leste sebagai bagian dari politik pecah-belah dengan maksud utama untuk mempermudah proses pengkonsolidasian kekuasaan kolonialis Portugis terhadap wilayah Timor-Leste.