Rabu, 15 Agustus 2012

HISTORIA TIMOR LESTE




SEJARAH MASYARAKAT 
DAN PERJUANGAN RAKYAT TIMOR LESTE
Bagian Pertama
By Vladimir Ageu DE SAFI'I 




Dalam beberapa literatur yang mengupas tentang Timor Leste, maka sejarah masyarakat dan bangsa Timor Leste diawali dengan kedatangan orang Australoid dan Melanesia. Gelombang migrasi manusia pertama ke Pulau Timor merupakan migrasi manusia tipe vedo australoid, yakni ras yang mempunyai persamaan dengan orang Vedda di Srilangka serta penduduk asli Australia (Aborigin). Meskipun memiliki persamaan dalam hal fisik, namun dari segi dialek dan bahasa menunjukkan ketidakadaan pertalian antara bahasa yang dipakai oleh penduduk Timor dengan penduduk Aborigin Australia.
Selanjutnya, gelombang migrasi manusia kedua dilakukan oleh orang-orang yang memiliki persamaan ciri fisik dengan orang-orang bertipe Papua-Melanesia, di mana ciri negroid-nya menonjol. Tipe ini dapat dijumpai di hamper seluruh daratan Timor. Di Timor Leste sendiri, tipe Papua-Melanesia ini lebih banyak dijumpai di bagian timur serta wilayah tengah berpegunungan, yakni Fataluku (Distrik Lautem), Maccasa’e (distrik Baucau, Viquque, dan sebagian kecil Lautem/Maccasa’e Sa’ane), serta Bunaq (Bobonaro, Ermera, Fatululiq, serta Zumalai/Covalima).
Gelombang migrasi berikutnya adalah orang-orang yang berbahasa Austronesia. Bahasa dan dialek penduduk Timor Leste yang masuk dalam kategori atau serumpun dengan bahasa ini meliputi: Tetum, Mambai, Quemaq, Baiqueno, Tekodede, Galoli, Idate, Habo, Laculei, Kairui, Nauweti, dan beberapa dialek lainnya.  Dalam perkembangannya, rumpun bahasa ini turut pula mempengaruhi perbendaharaan bahasa yang berumpun Papua.
Migrasi selanjutnya adalah migrasi manusia Eropa, khususnya orang-orang berkebangsaan Portugal pada awal abad ke-16. Lamanya praktek kolonialisme Portugal di Timor Leste telah pula mempengaruhi perubahan dan cirri fisik penduduk sebelumnya, khususnya melalui perkawinan campur.
Kehadiran bangsa Portugis di Timor Leste merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehadirannya secara umum di Asia, khususnya Malaka. Dari Malaka-lah, maka Portugis mulai menguasai Maluku (Indonesia) dan Timor.
Sebagaimana diketahui, bahwa motif awal yang mendasari kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Asia adalah terkait dengan kegiatan perdagangan guna mendukung dan memenuhi kebutuhan dan kemajuan bidang perekonomian di Eropa. Bagi Portugis, Timor Leste merupakan satu-satunya koloni yang mampu memberikan benefit ekonomi terkait dengan kekayaan kayu cendana beserta lilin dari madu tawon. Dua hasil kekayaan inilah yang mampu diperdagangkan Portugis di Eropa.
Persaingan ekonomi di antara sesame Negara Eropa, pada akhirnya merembet dan terbawa ke wilayah-wiayah jajahan mereka. Portugis harus bersaing keras dengan Negara Eropa lain seperti Belanda, Inggris, dan Spanyol. Dalam kasus Timor, maka Portugis harus berhadapan dengan Belanda yang juga memiliki keinginan untuk menguasai keseluruhan Pulau Timor. Pada akhirnya, situasi telah menempatkan Timor sebagai kawasan konflik di antara kedua negera tersebut, di mana pada akhirnya, Pulau Timor terbagi menjadi dua koloni: untuk Timor Barat di bawah kekuasaan Belanda, sedangkan untuk bagian timur menjadi kekuasaan dari Portugis. pembagian wilayah koloni ini dilakukan pada tahun 1859.
Sejarah Timor-Leste banyak ditandai oleh penderitaan, kekerasan, serta kekejaman, baik yang disebabkan oleh bangsa asing maupun oleh sesama bangsa sendiri. Dalam sejarahnya, negeri ini pernah mengalami masa penjajahan yang berlangsung lama dan bergonta-ganti penguasa. Penjajahan tidak semata-mata dilakukan oleh Portugal, melainkan juga dilakukan oleh Jepang antara tahun 1942 – 1945.  Pasca kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Timor Leste kembali dikuasai oleh Portugal hingga tahun 1975.
Penguasaan Portugal atas Timor Leste harus terinterupsi tahun 1975 terkait dengan gejolak politik internal Negara Portugal. Situasi ini, selanjutnya dimanfaatkan oleh Indonesia untuk menduduki bumi lorosa’e ini mulai tahun 1975 – 1999.
Perlawanan-perlawanan rakyat terhadap penjajahan Portugis telah dapat diketahui paling tidak sejak abad ke-18 hingga abad ke-20, baik yang berskala kecil maupun besar. Beberapa perlawanan tersebut, meskipun belum tertuliskan, namun dari cerita-cerita yang berkembang di tengah-tengah masyarakat di antaranya adalah pemberontakan

Liurai[1] Venilale (1807), Liurai Laga dan Ermera (1863), Liurai Cotobaba dan Cova (1981), Liurai Laleia dan Laclubar (1879), Liurai Uai-Mori (1883), Liurai Motael dan Bidau (1887), Liurai Simao Vesorru (1892), Liurai Cailaco (1892), Liurai Maubara (1893), Liurai Duarte Manufahi (1897), Liurai Ambeno (1912), Liurai Queleqi (1913), Liurai Fonosahe (1926), Liurai Dom Boventura (1912), dan sebagainya.
 Dengan berakhirnya rezim diktator Antonio Oliveira Salazar, Portugal dituntut untuk mengadakan penataan pemerintahan yang baru, di mana selama berlangsungnya proses ini dipimpin oleh Dewan Penyelamat Nasional (Junta de Salvação Nacional) yang yang tergabung dalam MFA (Movimento das Forças Armadas/Gerakan Angkatan Bersenjata). Salah satu agenda yang harus diselesaikan selama berlangsungnya proses tersebut adalah pentingnya diadakannya dekolonialisasi terhadap semua tanah jajahan di seberang lautan guna penentuan nasib sendiri, tidak terkecuali untuk koloni Timor Portugis.
Dengan berbagai kesulitan dan hambatan yang harus dihadapi, maka pemerintah Propinsi Timor Portugis yang waktu itu dipimpin oleh Kolonel Mario Lemos Pires berusaha dengan semaksimal mungkin menjalankan keputusan pemerintah pusat Lisbaun. Sementara itu, terkait dengan penentuan nasib sendiri, pemerintah Portugal memberi kesempatan kepada rakyat Timor Portugis untuk menentukan pilihan masa depannya sendiri.
Perubahan kebijakan pemerintahan kolonial tersebut membawa konsekuensi tersendiri terhadap kondisi perpolitikan di Timor Portugis. Pada akhirnya, ini memicu lahirnya perbedaan pandangan di kalangan masyarakat mengenai maksud dari kebijakan penentuan nasib sendiri. Sebagai bentuk konkrit dari pilihan yang berkembang dalam masyarakat adalah ditandai dengan didirikan dan dibentuknya berbagai macam partai politik, di antaranya adalah União Democratico Timorense (UDT), Associação Popular Democratico de Timor (APODETI) dan Associação Social Democrata Timorense (ASDT) yang selanjutnya berubah menjadi Frente Revolucionario de Timor Leste Independente (FRETILIN). Di samping itu, terdapat dua partai kecil lainnya, yakni Klibur Oan Timor Aswain (KOTA) dan Trabhalista (Partai Buruh), di mana keduanya merupakan partai satelitnya UDT.
Dalam kenyataannya, proses dekolonialisasi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Selesai pemilihan umum yang dimenangkan oleh ASDT-Fretilin, Partai UDT dan para satelitnya melancarkan kudeta pada tanggal 11 Agustus 1975 terhadap pemerintahan Fretilin dengan dalih adanya penyebaran doktrin komunisme. Selama kurang lebih seminggu UDT berkuasa dengan bertumpu pada kekuatan bersenjata (para milisia) dengan sasaran utama pada para pemimpin Fretilin. Akibatnya, proses dekolonialisasi menjadi berantakan dan tidak bisa dilanjutkan.
Menghadapi situasi yang demikian, pemerintah Portugis melakukan berbagai usaha penyelesaian seperti dengan memediasi pertemuan antara Fretilin dengan UDT. Dialog ini sendiri tidak bias menemukan solusi damai. Sebagai konsekuensi atas gagalnya dialog tersebut, Fretilin melancarkan serangan balasan terhadap UDT dan para satelitnya hingga melarikan diri ke wilayah Timor Indonesia pada tanggal 20 Agustus 1975. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka Fretilin memproklamirkan kemerdekaan Timor Portugis pada tanggal 28 November 1975 dengan nama Republika Demokratika Timor Leste (RDTL).
Sebagai respon atas proklamasi unilateral Fretilin tersebut, pada tanggal 30 November 1975, UDT bersama dengan Apodeti, KOTA, dan Trabalista mengajukan sebuah petisi yang dikenal dengan sebutan ‘Perjanjian Balibo’ kepada pemerintah Indonesia untuk menganeksasi wilayah Timor Portugis menjadi bagian dari Negara Indonesia. Dengan berlandaskan pada petisi Balibo-lah, maka pemerintah Indonesia kemudian melancarkan serangan militernya ke Timor Portugis. 
Tanggal 7 Desember 1975 merupakan peristiwa bersejarah penting bagi rakyat Timor Leste, di mana militer Indonesia melakukan serangan udara dan laut secara besar-besaran terhadap kota Dili. Tanggal ini pula menjadi awal dari dimulainya sebuah perjuangan panjang antara rakyat Timor Leste terhadap aksi pendudukan militer Indonesia.
Falintil sebagai sayap perjuangan bersenjata merupakan satu-satunya organisasi yang melakukan perlawanan dengan menekankan perang sebagai jalan kemerdekaan Timor Leste. Dengan melihat besarnya kekuatan militer Indonesia serta banyaknya tokoh-tokoh perlawanan yang terbentuk, maka para pemimpin perlawanan pada saat itu memandang perlunya sebuah strategi perjuangan baru dengan mengkombinasikan dan mengintegrasikan dua bentuk perjuangan lainnya, yakni perjuangan klandestin dan diplomatik. Pada akhirnya, strategi ini berjalan dengan efektif meskipun memakan waktu lama, yakni sekitar 24 tahun hingga diselenggarakannya referendum tahun 1999, yang sekaligus menjadi momentum bagi berakhirnya era penjajahan yang telah berlangsung selama hamper 500 tahun lamanya. (Bersambung)***




[1] Liurai adalah sebutan untuk para raja di Timor Leste. Konsep dan eksistensi kerajaan di Timor Leste sangat berbeda dengan kerajaan-kerajaan yang pernah eksis di belahan dunia, seperti kerajaan Majapahit, Pajajaran, Roma, dan seterusnya. Kondisi ini juga hamper serupa dengan keberadaan kerajaan di Timor Barat. Seorang ‘raja’ adalah seorang pemimpin masyarakat/rakyat di wilayah kerajaan yang bersangkutan. Di Timor Leste, seorang raja hamper mirip dengan seorang kepala suku. Raja juga tidak memiliki istana sebagaimana umumnya cerita tentang kerajaan. Raja juga tidak memiliki pasukan, dsb.

 

4 komentar:

  1. Informasaun nebe diak tebtebes nudar timor oan, tamba ita tenke hatene ita nia rain nia storia (sejarah) husi inisiu too molok kolonialismu rua nee (Portuguese ho Indoneziu) tama iha Timor. Topic intersante tebes. Hau sujestaun ba hakerek nain se bele buka referensia barak tan tanba iha hare seidauk kompletu. obrigado barak

    BalasHapus
    Balasan
    1. obrigado barak mos ba ita, liu-liu ita nia sujestaun.

      Hapus
  2. sejarah ne'e seidauk konta lolos,

    BalasHapus
  3. sejarah ne'e seidauk konta lolos,

    BalasHapus