Rabu, 06 November 2013

REVOLUSI PERADABAN DI INDONESIA

REVOLUSI PERADABAN DI INDONESIA
(Catatan ringan tentang Transformasi Musik Koplo Indonesia)
By Vladimir Ageu DE SAFI'I


Kuatnya arus liberalisme pada akhirnya turut mempengaruhi perkembangan kultural masyarakat Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, nenek moyang dari kapitalisme ini melakukan sebuah revolusi peradaban yang langsung menyentuh 2 strata sosial masyarakat (perkotaan dan pedesaan).
Pada masyarakatan perkotaan, revolusi liberal (kultural) ini mulai mengguncang kota-kota besar di Indonesia pada awal-awal tahun 1990-an dengan istilah House Music-nya. Selanjutnya, golongan menengah perkotaan menjadikan jenis musik ini sebagai simbol baru kebebasan berekspresi dibidang seni, walaupun masih terbatas dalam RUANGAN TERTUTUP (sesuai namanya, HM). Dalam perkembangannya, penyebutan produk revolusi liberal ini berganti menjadi DUGEM MUSIC yang selalu diidentikkan dan dikait-kaitkan dengan minuman beralkohol dan narkotika.
Sementara itu, pada waktu yang bersamaan, sebuah revolusi liberal juga melanda masyarakat pedesaan, khususnya masyarakat pedesaan yang tinggal di Pulau Jawa. Gerakan revolusi ini menyentuh golongan menengah masyarakat pedesaan. Trend musik baru sebagai symbol pendobrakan terhadap seni dangdut lama (melayu-indian) menjadi jenis music dangdut baru ala Jawa Timuran yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan DANGDUT KOPLO.
Perbedaan dari dua gerakan music liberal tersebut adalah: “Jika DUGEM Music berada dalam ruangan tertutup (eksklusif) dan menyelimuti golongan perkotaan, maka Dangdut KOPLO berada di ruangan terbuka (tontonan massal).”

Sementara itu, persamaan dari 2 produk revolusi liberal tersebut adalah (1) sama-sama terispirasi dari roh liberalism; (2) Baik Dugem Music maupun Dangdut Koplo, sama-sama diidentikan dengan Sex dan Narkoba; (3) sama-sama menjadi symbol pemberontakan terhadap tatanan seni-budaya lama; (4) Sama-sama terdengar enak (Khusus untuk telingaku…heheh)…***

DANGDUT KOPLO & TENAGA PROGRESSIV

DANGDUT KOPLO & TENAGA PROGRESSIV
(Catatan ringan tentang Transformasi Musik Koplo Indonesia)
By Vladimir Ageu DE SAFI'I
 Untuk memahami lahirnya Musik Dangdut Koplo (MDK) tentu tidak bisa dilepaskan dari munculnya gerakan kreativitas seni tradisional Jawa (Gamelan) yang bernama CAMPURSARI. Sesuai dengan namanya, campursari merupakan rangkuman dari beberapa roh music-musik non gamelan. Intinya, memasukkan beberapa unsure music elektronik.
Emha Ainun Najib dengan kelompok Kyai Kanjengnya, atau Waljinah dengan duetnya bersama Cryse, serta beberapa seniman lainnya merupakan bentuk-bentuk karya seni yang sarat dengan kreativitas progressive. Mereka mencoba keluar dari pakem atau aturan music-musik tradisional.
Kreativitas progeresiv ini, yang selanjutnya dimanfaatkan oleh pelaku industry music (liberal), seiring dengan mulai terbukanya kran demokrasi di Indonesia, khususnya dengan munculnya beberapa Stasion Televisi swasta, memoles kreativitas progresiv tersebut menjadi semata-mata pada keuntungan entertainment.
Dalam perkembangannya, campursari sempat membuming di hamper seluruh wilayah Jawa Timur, sebagian Jawa Tengah, hingga Sunda (Jawa Barat). Bagi pelaku bisnis entertainment, ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Akhirnya, Campursari yang sebelumnya didominasi oleh unsure Gamelan, diputar 180 derajat: instrument elektronik menjadi dominan, sedangkan unsure gamelan yang diambil hanya KENDANG-nya saja.
Dalam tradisi music gamelan Jawa Timur (jawatimuran), dikenal istilah ‘KENDANG KEMPUL’, selanjutnya kendang dan kempulannya inilah yang dikawinkan dan dipenetrasikan ke bentuk ‘aliran’ music baru, atau yang kita kenal saat ini dengan istilah: DANGDUT KOPLO.
Musik dangdut merupakan jenis music India yang berkmbang di Nusantara yang beradaptasi dengan tradisi suku melayu. Hingga tidak mengherankan, bila dangdut dikenal dengan istilah Musik Melayu.
Pemakaian Bahasa Melayu menjadi Bahasa Nasional Indonesia membawa konsekuensi bagi eksistensi dan status social untuk music melayu tersebut. Pada saat itu, segala sesuatu yang berbau Melayu berarti identik dengan Inlander atau Jajahan/budak/pribumi. Maka tidak mengherankan, bila berkembang anggapan di sebagian masyarakat Indonesia yang menyebut music Melayu atau Dangdut sebagai music KAMPUNGAN alias NDESO KESA-KESO.
Campursari yang walaupun mencoba ditarik ke permukaan public, namun dalam kenyataannya mencoba bergerak mengikuti hokum dialektikannya tersendiri. Kenyataannya, music ini lebih cepat perkembangannya dan berevolusi menjadi Musik Dangdut Koplo, justru mengikuti induk semangnya: di pedesaan.
Eksploitasi terhadap kreativitas progressive tersebut mulai menemukan bentuknya, ketika bisnis narkoba memasuki area ini. Beberapa obat-obatan kelas kampungan seperti ‘DK’ yang era 90-an hanya di jual 3 biji per 750 rupiah, dipake oleh golongan pemuda pedesaan untuk meramaikan setiap konser campursari. Semakin banyaknya para penganut “teler’ ini membawa konsekuensi pada sebutan music dangdut campursari menjadi Dangdut Koplo (mengingat banyak yang koplo alias yang sok pekok).
Sementara itu, terkait Musik Dangdut Koplo identik dengan “Goyang Erotis” dan “Sawerannya”, sesungguhnya tradisi ini sudah lama tumbuh berkembang dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang mendiami daratan Pulau Jawa. Sekitar 20 tahun yang lalu, tradisi saweran tidak seperti saat ini. Pada waktu itu (gamelan-tayupan), para penari (undangan) memberikan uang kepada para sinden (bahasa lamongan biasa disebut JOGET) dengan cara menaruh uang ke dalam nampan. Melalui nampanlah, para undangan memesan lagu kesukaannya.
Perubahan saweran dengan nuansa saat ini (dimana memberikan uang langsung pada si penyanyi/joget/sinden dengan cara mengguyurnya seperti air hujan atau dengan cara menyisipkankan secara langsung ke dalam payudaranya, bahkan ada pula yang memasukkan ke area “lembah antah berantah”) merupakan penetrasi dari orang-orang yang menjadikan seni kreativitas progresiv ini menjadi bisnis pribadi atau kelompok belaka. Pada akhirnya, cara apapun selama dapat menghasilkan uang, maka selama itu pula akan selalu dilekatkan dalam Musik Dangdut Koplo (MDK).

Jadi, MDK adalah sebuah produk progresif dari tenaga-tenaga kreativ progresif negeri ini yang selanjutnya dimanfaatkan atau dieksploitasi oleh roh liberalism. Sudah pasti, setiap revolusi akan melahirkan perubahan: suka atau tidak; terima atau tidak.*** 

Senin, 18 Maret 2013

LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE” DI TUTUALA, LOSPALOS (TIMOR LESTE): AWAL PERADABAN BANGSA FATALUKU


LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lukisan Dinding Tutuala menyerupai gambar buaya
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”: 
AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
By Vladimir Ageu DE SAFI’I

Pada judul artikel pendek ini, saya sengaja menggabungkan dengan sebuah tanda hubung antara kata ‘lukisan’ dengan ‘tulisan’ dengan maksud untuk lebih menyederhanakan pemaparan fakta peninggalan bersejarah ini. Dalam konteks sekarang, lukisan adalah sebuah symbol berupa gambar hasil karya tangan manusia dengan maksud mengungkapkan keinginan, pikiran, serta imajinasinya yang dituangkan dalam media tertentu. Sedangkan tulisan adalah sebuah symbol berupa aksara dalam bentuk deretan atau barisan hasil karya tangan manusia dengan maksud mengungkapkan keinginan, pikiran, serta imajinasinya yang dituangkan dalam media tertentu. Sekali lagi, definisi sederhana atas dua kata tersebut mengacu pada zaman sekarang. Mengingat ini terkait dengan prasasti atau bukti sejarah peradaban manusia, maka dalam tulisan ini selanjutnya, saya akan menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian---namun dengan maksud yang sama.



A.    Prasasti Bersejarah
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Para ilmuwan social menamai semua lukisan dan tulisan pada dinding goa atau batu karang sebagai warisan sejarah peradaban manusia pra-sejarah. Bagi saya sendiri, penyebutan sebagai manusia pra-sejarah terasa kurang tepat dan kurang ‘mengenakkan perasaan’. Alasannya sederhana bahwa zaman ‘pra-sejarah’ (tempo dulu) akan berlanjut pada zaman ‘sejarah’ (tempo sekarang) yang tentunya akan diikuti dengan zaman ‘pasca-sejarah’ (tempo mendatang). Sedangkan alasan kurang mengenakkannya perasaan, saya dasarkan pada argument bahwa ‘seolah-olah manusia tempo dulu adalah manusia yang ketinggalan zaman dengan kadar intelektual yang rendah’. Padahal, jika hal ini kita cermati lebih mendalam lagi, warna-warni cat beserta goresan yang melekat pada lukisan-tulisan dinding goa yang mana masih terlihat dan tidak pudar di masa sekarang menunjukkan betapa hebatnya ilmu pengetahuan terkait dengan peramuan cat mereka---sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh manusia sekarang (lebih-lebih dengan kualitas cat pabrikan yang ada).[1]

B.   Jejak Lukisan-Tulisan di Dinding Gunung Tutuala
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Dinding Ili Kere-kere, Tutuala
Masyarakat Tutuala menamai tempat diketemukannya lukisan dinding goa ini dengan istilah Ili kere-kere, yaitu sebuah penyebutan menurut bahasa masyarakat setempat: bahasa Fataluku. ‘Ili’ adalah gunung, sedangkan ‘kere-kere’ berarti tulisan. Kata ‘kere-kere’ dalam bahasa Fataluku menyerupai istilah ‘hakerek’ dalam bahasa Tetum yang mengandung pengertian ‘menulis’, yang dibentuk oleh dua kata: ‘halo’ (membuat/melakukan) dan ‘kerek’ (tulisan).[2] Bahasa Fataluku adalah salah satu bahasa dari sekitar 30-an bahasa dan dialek yang berkembang dalam masyarakat Timor Leste.
Sementara itu, kata ‘Fataluku’ merupakan bentukan dari dua kata: ‘fata’ (kuat/tegas/keras) dan ‘luku’ (bicara/percakapan), yang artinya kurang lebih ‘kekuatan kata’ atau ‘bicara tegas’ atau ‘bicara lantang’. Masyarakat Fataluku mendiami lebih dari dua pertiga wilayah Distrito Lospalos dengan jumlah komunitas sekitar 35.000 orang. Mereka tersebar di 3 subdistrito/kecamatan dari 5 subdistrito yang ada, yakni Tutuala, Lospalos, dan Lautem/Moro. 2 subdistrito sisanya dihuni oleh 2 dialek bahasa yang berbeda, yakni Subdistrito Iliomar oleh sub-etnik berbahasa Makalero dan Subdistrito Luro oleh sub-etnik berbahasa Makasa’e dengan dialek Sa’ane (campuran 3 bahasa: Makasa’e, Makalero dan Fataluku).
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-
Bagi masyarakat Fataluku, khususnya penduduk Tutuala, keberadaan Ili Kere-Kere tidak dipandang sebagai sesuatu hal yang berlebihan, selain sebagai sesuatu yang sacral yang sudah barang tentu terkait dengan hal yang berbau magic. Karena mengandung unsure kesakralan inilah, maka masyarakat setempat hanya menyebutnya secara sepintas saja (tidak dibicarakan secara lebih mendalam). Intinya, keberadaan dan hubungan Ili Kere-Kere dengan masyarakat Tutuala berkisar dalam dunia kepercayaan, yang juga merupakan bagian dari kerahasiaan spiritual-adat mereka.
Biasanya, penyebutan Ili Kere-Kere dalam makna penjiwaan (totality) akan dilakukan dalam acara-acara ritual adat, di mana kata-kata yang terucap tidak lagi menggunakan bahasa Fataluku, melainkan bahasa induk Fataluku yang sekarang sudah tidak ada lagi. Bahasa yang punah ini disebut bahasa ‘Lovaia’ atau ada juga yang menyebutnya ‘Makua’. Saat ini, sisa-sisa perbendaharaan kata pada bahasa Lovaia ini hanya bisa kita dengar tanpa mengerti akan artinya dalam upacara adat. Generasi Fataluku sekarang biasa menyebut kata-kata Lovaia sebagai bahasa tinggi, yakni bahasa suci/sacral yang hanya diketahui oleh para ketua/pimpinan adat setempat (khususnya Tutuala).
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Jadi, keberadaan Ili Kere-Kere sangat berkait erat dengan keberadaan masyarakat Fataluku Tutuala itu sendiri, khususnya keterkaitan ‘rahasia’ antara mereka (Fataluku) dengan masyarakat Lovaia (leluhurnya). Seberapa jauh dan besar tingkat keterkaitan rahasia mereka? Jawabannya adalah: hanya mereka sendiri yang tahu dan ini tabu untuk dibicarakan. Setiap pembongkaran keterkaitan tersebut akan berdampak pada mereka sendiri. Inilah makna Ili Kere-Kere bagi masyarakat setempat. Suatu pemaknaan yang mengarah pada kepercayaan/keyakinan, nilai dan norma social, keseimbangan politik dan ekonomi, dan sebagainya.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Masyarakat Fataluku tidak menyebut warisan bersejarah ini sebagai ‘kuru kere-kere’ (tulisan goa) atau ‘koco kere-kere’ (tulisan dinding) melainkan dengan istilah ‘ili kere-kere’ (tulisan gunung). Dengan merujuk pada penyebutan ini, bahwa lokasi diketemukannya warisan sejarah tersebut sebenarnya tidak terletak di goa tetapi di dinding/lereng gunung.  
Memang, jika diperhatikan secara seksama, lokasi diketemukannya warisan sejarah tersebut berada disalah satu lereng pegunungan/perbukitan dengan jurang yang cukup dalam di bawahnya, dan saya perkirakan berjarak antara 50-100 meter dari permukaan air laut. Tanda-tanda menyerupai goa pun tidak ada, selain sebuah cekungan dinding saja. Selain itu, lokasi keberadaan lukisan dinding ini tidak seberapa jauh dari laut yang jaraknya sekitar 1 kilometer saja.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lokasi Ili Kere-kere
Secara umum kondisi geografis wilayah Tutuala adalah pegunungan berbatu cadas dan karang. Rata-rata, lapisan permukaan tanahnya tidak lebih dari 30 cm untuk puncak-puncak dan lereng perbukitan, dan sekitar 1 meter untuk beberapa lereng atau lembah perbukitan. Ini mengindikasikan bahwa kondisi permukaan Tutuala dan tempat diketemukannya warisan bersejarah tersebut merupakan pegunungan karang pada ribuan atau puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Artinya, di masa lalu, masyarakat leluhur suku Fataluku hidup dan tinggal di lereng-lereng perbukitan batu karang. Tipografi demikian juga hampir dijumpai di seluruh wilayah Distrito Lospalos hingga distrito Baucau.[3]
Situs lukisan di dinding gunung di Tutuala ini menampilkan pola dengan gambar 2 orang manusia, sebuah telapak tangan, sebuah perahu, sebuah matahari, sebuah lingkaran berlapis tiga dengan garis penuh, sebuah lingkaran berlapis dua dengan garis luar putus-putus, sebuah lingkaran berlapis empat dengan lingkaran paling luar diberi garis-garis yang bersifat vertical menyerupai roda gigi, sebuah menara/tangga, dua ekor binatang: menyerupai buaya dan seekornya lagi menyerupai ikan. Selain itu juga terdapat lukisan bergaris. Hampir semua gambar terlihat dengan jelas.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Jika warisan sejarah tersebut dimaknai sebagai lukisan/gambar, maka gambar-gambar yang ada pada umumnya ditandai dengan adanya garis luar, yang kesemuanya didominasi oleh warna merah darah serta varian warna lainnya berwarna merah kekuningan dan hitam. Khusus, untuk gambar yang menyerupai manusia terisi sepenuhnya dengan cat berwarna merah. Sedangkan warna hitam untuk garis luar atau tanda pemisah atas bagian-bagian dalam satu gambar.

C.   Jejak Peradaban Leluhur Suku/Etnic Fataluku
Timbul sebuah pertanyaan: “Kapan lukisan ini dibuat dan oleh siapa?” Yang pasti, hingga detik ini, situs tulisan dinding gunung tersebut belum terteliti secara lebih mendalam. Di era kekuasaan Postugis, situs ini nyaris tak terpublikasikan. Pempublikasian secara lebih sistematis baru dilakukan setelah pemerintah Indonesia memasukkannya sebagai deretan situs peninggalan sejarah ke dalam mata pelajaran Antropologi.
Sebagaimana situs-situs lain yang diketemukan di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Irian Jaya/Papua (Indonesia), maka situs lukisan dinding Tutuala (Timor Leste) juga diperkirakan sudah berusia ribuan tahun yang lalu Sebelum Masehi. Sebuah masa ketika manusia belum mengenal simbol aksara/alphabet sebagaimana yang dikenal saat ini.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Meskipun begitu, dapat dipastikan bahwa lukisan ini kemungkinan besar dibuat ketika kehidupan manusia sudah mulai menetap. Pola hidup dengan tempat tinggal tetap seperti di goa atau lubang-lubang batu yang lain sangat memungkinkan setiap anggota kelompok  untuk mengekspresikan pengalaman hidup serta pikiran/angan-angan mereka. Dengan sudut pandang ini, maka lukisan dinding Tutuala merupakan sebuah bentuk manifestasi atas ekspresi diri leluhur masyarakat Fataluku di masa lalu. Sebagaimana yang juga dirasakan oleh manusia zaman sekarang, manusia tempo dulu juga memiliki keinginan dan berusaha mengabadikan semua kegiatan yang dilakukannya serta pengalaman yang telah dialaminya ke dalam dan atau melalui media tertentu seperti dinding goa. Aktivitas pelukisan ini sendiri hanya bisa dilakukan oleh manusia yang telah bertinggal tetap mengingat proses pelukisannya membutuhkan waktu, di mana tidak mungkin pekerjaan ini dilakukan oleh manusia yang hidup dengan pola nomaden (berpindah-pindah).
Dengan melihat gambar-lukisan dinding di Tutuala, kita bisa membuat asumsi awal sederhana bahwa kelompok manusia yang tinggal di ujung timur Pulau Timor ini ternyata telah memiliki nilai dan kemampuan kebudayaan yang tinggi pada ribuan tahun yang lalu. Lukisan ini juga memberikan inspirasi kepada kita mengenai tingkat kecerdasan intelektual manusia pada saat itu.
Lebih lanjut, dapat diasumsikan bahwasannya lukisan dinding gunung karang tersebut menggambarkan sebuah kehidupan di masa lalu dari segi sosial-ekonomi dan kepercayaan masyarakat. Sikap hidup, nilai, dan keyakinan mereka terpancar di dalam gambar-gambar tersebut. Meskipun kita tidak bisa mendefinisikan secara detail dan tepat akan gambar-gambar tersebut, setidak-tidaknya sebuah tafsiran cukup penting untuk ‘mengenal’ leluhur masyarakat Fataluku tersebut.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Bagi saya pribadi,---termasuk anda yang tertarik dengan kehidupan di masa lalu---gambar perahu di dinding Tutuala tersebut mencerminkan adanya kemampuan navigasi/pelayaran yang telah dimiliki. Lukisan perahu ini menandakan adanya aktivitas kelautan. Perahu yang digambar berbentuk melengkung dengan dua buah bendera di bagian depan dan belakangnya. Sementara itu, terdapat sebuah layar yang terpentang di tengah-tengah perahu, juga terdapat para awak kapal serta sebuah dayung. Melihat bentuk perahu serta adanya layar menunjukkan bahwa “kemampuan bernavigasi masyarakat tersebut sudah tersentuh oleh teknologi modern. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum diketemukannya perahu dengan daya penggerak mesin, perahu pendahulunya digerakkan oleh tenaga dayung dan angin melalui layar.” Dengan gambar ini pula, sebuah asumsi dasar lainnya dapat dibuat bahwasannya “mereka dapat sampai di lokasi tempat tinggal tetapnya tersebut (baca: Tutuala), setelah melalui perjalanan menyeberangi lautan.” Atau, dapat diasumsikan juga bahwa “di dalam menjalin komunikasi dan interaksi dengan kelompok lainnya yang berada di seberang, mereka menggunakan perahu.”
Asumsi lainnya adalah terkait dengan gambar ikan. Adanya gambar ini, dapat ditafsirkan bahwa “ikan dan kegiatan mendapatkan/menangkap ikan telah menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka.” Jika ini dikaitkan dengan gambar perahu, maka bisa jadi “cara mereka untuk menangkap ikan adalah dengan menggunakan perahu.”
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Hal lain yang cukup menarik adalah gambar hewan menyerupai buaya. Artinya, nenek moyang masyarakat Fataluku ini, di masa lalu telah mengenal sosok buaya. Pelukisan gambar buaya menandakan bahwa hewan ini memiliki arti dan kesan tersendiri bagi mereka. Hanya dengan adanya kesan yang mendalam terhadap sesuatu hal, maka seseorang---sebagaimana kita saat ini---akan memiliki kemampuan untuk melukiskannya. Dengan berlandaskan pada situasi yang ada saat ini, di mana hampir semua penduduk Timor Leste, menempatkan hewan yang bernama buaya ini sebagai mahluk khusus. Mereka sangat menghormati, segan, bahkan bercampur dengan rasa takut terhadap buaya. Masyarakat Fataluku dan umumnya penghuni daratan Timor mempercayai bahwa buaya adalah leluhur mereka. Buaya pulalah yang kemudian bermertamorfosis menjadi daratan Timor.[4]
Selain itu, masih terdapat gambar lain yang cukup menarik, yakni gambar sebuah menara atau tangga di mana matahari dilukis di atasnya. Dan masih ada beberapa bagian lainnya sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Sesuatu yang juga tidak kalah menariknya adalah mengenai warna dan jenis cat yang dipergunakan. Warna cat yang dominan adalah merah. Pertanyaannya bukan terletak pada warnanya, melainkan cara/metode dalam meramu warna, bahan pembuat warna, serta kemampuan warna yang mampu bertahan hingga saat ini.
Satu-satunya jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut adalah bahan tersebut bersifat alami, yang keberadaan bahan-bahan dasarnya berada di sekitar goa. Adanya aliran sungai yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi lukisan (Kampung Leti) memungkinkan tumbuhnya berbagai pepohonan dan tumbuhan secara baik. Beberapa pepohonan yang tumbuh tersebut seperti pahon asam, pohon ental atau palem, gambir, pinang, mangkudu atau pace, lontar atau pandan, rotan serta banyak lainnya. Kemungkinan besar, bahan-bahan dasar yang dipergunakan berasal dari pepohonan dan tumbuh-tumbuhan tersebut.
Kesemuanya itu menunjukkan bahwa manusia leluhur masyarakat Fataluku telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang luar biasa dalam bidang peramuan, yang mana tidak mampu kita buat saat ini.

D.   Peradaban Fataluku Bermuara dari Lukisan Dinding
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar Ili Kere-kere
Meskipun dengan pemaparan yang kurang mendalam dan cenderung premature, maka saya berani menegaskan dengan membuat sebuah kesimpulan bahwa “peradaban masyarakat Fataluku yang berkembang saat ini bermuara/berpangkal dari gambar-tulisan dinding yang berada di pegunungan Tutuala. Dari ceruk/lubang dinding goa ini, ribuan tahun yang lalu, leluhur Fataluku meletakkan dasar-dasar peradaban sebagaimana yang terlihat saat ini.”
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa sebelum masyarakat Fataluku yang terbentuk seperti sekarang ini, golongan pendahulunya adalah yang dikenal dengan Lovaia. Bukti nyata hubungan ini adalah masih dipakainya kata-kata/perbendaharaan kalimat bahasa Lovaia dalam upacara ritual keagamaan adat masyarakat Fataluku, khususnya komunitas Tutuala. Singkatnya, Lovaia menjadi pendahulu dari terbentuknya genetic Fataluku. Dan sudah barang tentu, akan susah untuk menyebut/menamai kelompok leluhur yang melahirkan masyarakat Lovaia.
Dari lukisan dinding tersebut, dapat pula disimpulkan adanya keterkaitan genetic dan juga pola kehidupan social antara leluhur Fataluku yang melukis dinding Tutuala dengan leluhur Fataluku lain yang berada di luar daratan Timor seperti dengan manusia yang tinggal di Pulau Leti, Pulau Kisar (Maluku), serta kepulauan Indonesia bagian timur lainnya. Keterkaitan ini dapat dibuktikan dengan adanya kemiripan lukisan yang ditemukan di Tutuala dengan tempat lain di wilayah Indonesia tersebut. Selain itu, sebagaimana hasil penelitian bahasa/linguistic yang dilakukan oleh Thomas van Engelenhoven, 2005 (Leiden of University, Belanda) tentang bahasa Fataluku dan bahasa yang  dipakai oleh masyarakat di Pulau Leti menunjukkan adanya kemiripan. Bahkan istilah ‘leti’ yang dipergunakan untuk menamai sebuah perkampungan di Tutuala yang jaraknya hanya sekitar 700-an meter dari lokasi dinding mengisyaratkan bahwa di antara kedua masyarakat tersebut memiliki hubungan kekhususan (genetic dan social) di masa lalu. Hal lainnya adalah ketika dihubungkan dengan cerita mengenai kisah kejadian pembentukan Pulau Timor yang dipercaya sebagai penjelmaan seekor buaya.[5] Bukti lainnya adanya keterkaitan social-ekonomi lainnya adalah pada motif dalam kain tenun (bahasa Tetum=tais) yang hampir serupa.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Tanda 'Lulik' (keramat) pada makam leluhur di lokasi Ili Kere-kere
Dalam tradisi lesan masyarakat Fataluku, dikenal sebuah cerita bahwa penyebaran mereka sebagaimana yang ada saat ini diawali dari terjadinya sebuah bencana banjir bandang yang menimpa perkampungan mereka. Sebelumnya, mereka terkonsentrasi dalam sebuah komunal besar, yang kini dikenal dengan sebutan ‘Ira-ara Laru’ (Danau/Kubangan Air).  
Jarak antara Perkampungan Ira-ara Laru dengan lokasi ditemukannya lukisan dinding Tutuala hanya berkisar 5 km dalam garis lurus. Banjir Ira-ara Laru telah menyebabkan Komunal Besar Fataluku tersebut tercerai-berai dan mencari tempat pemukiman baru. Dengan mencermati masih segarnya ingatan masyarakat Fataluku terhadap kejadian tersebut, kemungkinan besar bencana bandang yang melanda mereka belum lama berlangsungnya. Kemungkinan besar sebelum tahun 1500-an Masehi, mengingat tidak ada dokumen resmi Portugis  yang mencatat bencana ini bila kejadiannya di era kolonialisme Portugis.
Akibat bencana bandang tersebut, Komunal Besar Fataluku terpecah-belah menjadi komunal-komunal yang lebih kecil. Mereka menyebar ke area yang lebih tinggi yang berada di sekitarnya, seperti Tutuala, Mehara, Malahara, Muapitin, Lorehe, Fuiluro, Moro, Mahena, dan sebagainya. Secara otomatis, terbentuknya secara alamiah komunal-komunal kecil ini membawa konsekuensi jarak dan keterikatan emosianal dan adat di antara mereka mulai merenggang. Ikatan sebagaimana yang terjalin dalam Komunal Besar pun memudar.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Gambar lukisan di Pulau Kei, Maluku-Indonesia
Dengan menggunakan analogi pusaran air, saya kemukakan bahwa semakin jauh lokasi benda terhadap sumber pusaran air, maka semakin rendah daya tariknya. Sebaliknya, semakin dekat dengan pusaran air, maka semakin kuat pula daya tariknya. Begitu pula dengan pola penyebaran penduduk masyarakat Fataluku.
Tentu terdapat perbedaan yang cukup signifikan, secara geografis, antara kondisi lokasi gambar-tulisan dinding Tutuala dengan Perkampungan Komunal Besar Fataluku di Ira-ara Laru. Gambar dinding Tutuala terletak pada dataran tinggi, bahkan dapat dikatakan berada di lereng salah satu puncak barisan perbukitan yang ada. Sementara lokasi Komunal Besar berada di dataran rendah atau lembah yang subur.
Perbedaan secara geografis ini membawa pada kesimpulan bahwa leluhur Fataluku pada masa ribuan tahun yang lalu bertempat tinggal di lokasi ketinggian dengan goa-goa atau cekungan-cekungan lereng bebatuan sebagai tempat tinggal. Pemilihan lokasi demikian lebih banyak didasarkan pada tingginya tingkat ketergantungan mereka dalam ‘menaklukkan’ dan menghadapi keganasan alam yang masih liar. Alasan bertahan dari serangan binatang buas yang biasanya banyak hidup di area yang subur menuntut kelompok leluhur Fataluku ini memilih daerah ketinggian dengan tingkat kesuburan area yang terbatas. Goa menjadi tempat berlindung, berkembang biak dan berinteraksi di antara sesama mereka. Sedangkan dataran rendah dengan penghuni hewan buasnya menjadi arena perburuan.
Adanya gambar ikan dan buaya dalam dinding Tutuala dapat juga dimaknai bahwa mereka dalam menjaga kelangsungan hidupnya sangat bertumpu pada kemampuan berburu terhadap binatang yang berada di sekitarnya. Selain itu, tidak diketemukannya situs-situs serupa di sekitar lokasi pertama ditemukannya gambar dinding ini menandakan bahwa jumlah mereka masih relative sedikit.
Perkampungan Komunal Besar adalah sebuah masyarakat kelanjutan dari penghuni Komunal Dinding Tutuala. Lokasinya yang lebih subur menandakan telah ada perubahan pada pola kehidupan social mereka. Mereka tidak lagi menggantungkan kehidupan dalam berburu. Perpindahan ke lahan basah menandakan mereka mulai mengenal atau telah mempraktekkan system bercocok tanam dengan tetap tidak meninggalkan secara total pola berburu.
Sisa-sisa pencarian makan dengan cara berburu ini masih dapat dilihat di era sekarang. Dimana, kebanyakan kaum lelaki Tutuala dan sekitarnya (Fataluku) dalam memenuhi kehidupan sehari-harinya dengan cara berburu binatang di tengah hutan belantara atau di sekitar lahan-lahan kebun/tegalan mereka, sedangkan kaum perempuannya lebih banyak bercocok tanam dan mengurus keperluan rumah tangga/dapur.
LUKISAN - TULISAN DINDING GOA “ILI KERE-KERE”:  AWAL PERADABAN MASYARAKAT FATALUKU
Lokasi di Mehara, Tutuala. Di sebelahh kiri bukit terletak Ira-ara Laru
Sebagaimana yang diceritakan oleh Chefe do Suco Tutuala, Antonio da Fonseca, sekitar tahun 1930-an, kakek mereka yang menjadi Liurai/penguasa suku memaksa para penduduk yang mayoritas masih tinggal berkelompok di tengah-tengah hutan untuk bersatu dan menghuni dalam satu area yang lebih luas lagi, atau yang kemudian dikenal dengan Desa/Suco Tutuala saat ini. Artinya, pola hidup berkelompok dan terpencar-pencar masih kuat berlangsung hingga 80-an tahun yang lalu.
Dengan demikian, kehidupan peradaban masyarakat Fataluku untuk pertama kalinya diawali dengan jejak Lukisan dinding di pegunungan Tutuala, yang selanjutnya pada ribuan tahun kemudian berpindah lokasi menjadi Perkampungan Komunal Besar Ira-ara Laru hingga masa sekarang.
Pertanyaan besar yang mengganggu saya dan tentunya Anda sekalian adalah: “Jika pada ribuan tahun yang lalu mereka telah mengenal metode navigasi/pelayaran, mengapa justru saat ini, jejak ini tidak menurun pada masyarakat Fataluku?” Atau, “Kemana perginya pengetahuan modern yang sempat tumbuh di masa itu? Mengapa pengetahuan tersebut sepertinya terputus dan hilang?” Dan “Mengapa masyarakat Fataluku saat ini, baik yang bertinggal di tepian laut Tutuala, Lorehe hingga Com-Lautem sama sekali kurang memiliki pengetahuan atau tradisi pelayaran?” ******
Untuk mengetahui lebih lanjut keterkaitan antara 
Bahasa Fataluku & Makua-Lovaia (Timor Leste) dengan Bahasa yang dipakai oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Leti (Maluku) silakan kunjungi situs ini:



[1] Perhatikan kualitas cat dinding rumah kita, yang rata-rata hanya mampu bertahan selama 1-3 tahun saja. Semua jenis cat tidak mampu menahan sinar matahari dan curahan air hujan: cepat memudar. Ini berkebalikan dengan kondisi cat pada peninggalan bersejarah, yang rata-rata usianya sudah berusia puluhan ribu tahun lalu.
[2] Dalam bahasa Tetum, kata-kata ‘halo’ yang kemudian yang dalam pengucapannya ketika digabung dengan kata lain, biasanya akan diperpendek menjadi ‘ha’, seperti habelar (halo belar—membuat luas), hadomi atau hadomin (halo domin---membuat cinta), hamanas (halo manas---membuat panas), dan sebagainya.
[3] Era Indonesia, Kota Baucau dijuluki sebagai ‘Kota Karang/Coral’ mengingat kondisi tipografi Baucau yang berbatu dan berkarang. Di Baucau sendiri juga diketemukan adanya lukisan yang hampir sama, atau yang dalam bahasa Makasa’e (mayoritas etnik Baucau) dikenal dengan sebutan ‘Lie Kere’ dan ‘Lie Siri.’
[4] Saya berharap dapat membuat sebuah artikel mengenai kisah buaya sebagai leluhur masyarakat Timor Leste.
[5] Masyarakat Timor Leste dan juga Fataluku percaya jika daratan Timor ini merupakan daratan hasil penjelmaan seekor buaya sebagai ucapan terima kasih kepada seorang pemuda yang telah menyelamatkannya dari kematian yang disebabkan oleh bencana alam. Konon Sang Buaya dan Sang Manusia pertama ini berasal dari daratan seberang. Ephos buaya yang hampir serupa juga diyakini oleh masyarakat yang mendiami Kepulauan Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Jawa hingga masyarakat Mesir Kuno.

Sabtu, 23 Februari 2013

GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYA

GEMPA BUMI TEKTONIK MENGGUNCANG DILI, TIMOR LESTE
A. Gempa Bumi Mengguncang Timor Leste
Gempa bumi tektonik dengan kekuatan 6,2 Scala Richter mengguncang Ibukota Dili selama kurang lebih 20 detik pada pakul 20.12 Waktu Timor Leste (2/23/2013). Lumayan kuat dan membuat jantung deg-degan...
Sepertinya ini rangkaian dari gempa bumi tektonik yang terjadi di Tual/Pulau Tanimbar, Maluku Tenggara Jauh kemarin yang berkekuatan 5,1 SR.
Gempa Maluku kemarin, berada di lokasi pulau Tanimbar. Gempa bumi ini terjadi pada pukul 22.14 Wib (2/22/2013). Lokasi gempa ada pada 6.78 lintang selatan dan 132.30 bujur timur. Kedalaman gempa mencapai 10 km.
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYA
Lokasi gempa berada pada 122 km barat daya Tual Maluku, 133 km barat daya Maluku Tenggara, 137 km timur laut Maluku tenggara Barat, dan 569 km tenggara Ambon Maluku.
Gempa Dili malam ini, juga terasa di beberapa distrito seperti Manatuto, Baucao, dan Lospalos. Seorang warga dii Baucau menyatakan kuatnya guncangan gempa. Begitu juga sebagaimana disampaikan oleh Sefe do Suco Tutuala, Subdistrito Tutuala, Distrito Lospalos yang menyatakan kuatnya guncangan gempa hingga menyebabkan seng/kaleng atap gereja berbunyi keras. 
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia dalam situs resminya menyebut, lokasi gempa berada pada 8.71 LS-127.55 BT dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dilaporkan tidak berpotensi tsunami.
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYA"Diperkirakan tidak menimbulkan kerusakan parah di pantai timur Timor Leste," ujar  Sutopo dalam pesan singkat kepada www.Okezone.com, Sabtu (23/2/2013).
Gempa berpusat di 204 kilometer sebelah timur Ibukota Dili, 163 kilometer sebelah tenggara Maluku Barat Daya, 296 kilometer sebelah Timur Laut Kabupaten Belu/Atambua Nusa Tenggara Timur, dan 319 kilometer sebelah Tenggara Pulau Alor dengan kedalaman 10 km.
Sementara itu, sebagaimana dilansir oleh www.okezone.com, intensitas gempa di Timor Leste  masuk dalam kategori ringan hingga sedang atau skala IV-V MM.

B. Timor Leste dan Wallace Zone's
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYAUntuk dapat memahami asal-usul gempa bumi dengan segala dinamikanya di Timor Leste, maka mau tidak mau; suka tidak suka harus memposisikan Timor Leste sebagai bagian integral yang tak terpisahkan secara geografis dari Pulau Timor serta pulau-pulau di sekitarnya (Pulau Australia, Kepulauan Indonesia, dan Kepulauan Ocean Pasifik).
Dengan bantuan ilmu geologi (ilmu yang mempelajari kulit bumi ), dapat dipastikan bahwa Pulau Timor merupakan bagian dari keseluruhan proses perkembangan bumi yang dimulai dari awal terbentuknya hingga terlihat saat ini. Berdasarkan ilmu ini, maka planet bumi ini mengalami proses evolusi perkembangan kuantitatif dan kualitatif dalam beberapa jaman, yakni:

Zaman Azoikum (Era tidak ada kehidupan)
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYA
Diperkirakan bahwa zaman ini berlangsung sekitar 2.500 juta tahun yang lalu, di mana keadaan bumi masih belum stabil dan masih panas karena sedang dalam proses pembentukan. Artinya, pada zaman ini permukaan bumi belum terbentuk adanya daratan. Dengan demikian---ketika dikaitkan dengan kehidupan---pada zaman ini tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Zaman Paleozoikum (Kehidupan Tertua)
Diperkirakan, zaman ini berlangsung sekitar 340 juta tahun yang lalu, keadaan bumi masih belum stabil dan masih terus berubah. Akan tetapi menjelang akhir dari zaman ini mulai ada tanda-tanda kehidupan, khususnya hewan bersel satu---hewan kecil yang tidak bertulang belakang, jenis ikan, amphibi, reptil dan beberapa jenis tumbuhan ganggang. Karena itulah, zaman ini dinamakan pula dengan zaman primer (zaman kehidupan pertama).

Zaman Mesozoikum (Kehidupan Pertengahan)
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYADiperkirakan, zaman ini berlangsung sekitar 140 juta tahun yang lalu, pada jaman ini kehidupan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan makin stabilnya kondisi bumi. Denyut kehidupan pun mulai beragam.




Zaman Neozoikum (Kehidupan Muda)
GEMPA BUMI TIMOR LESTE & ASAL-USULNYADiperkirakan, zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun yang lalu. Zaman ini terbagi dalam dua fase, yakni zaman tersier (kehidupan ketiga) dan quarter (kehidupan keempat). Pada zaman ini, keadaan bumi telah membaik dengan perubahan cuaca yang tidak begitu ekstrim. Dengan demikian, secara natural kehidupan juga berkembang dengan pesat.

Zaman Tersier
Zaman tersier ini,  diperkirakan berlangsung sekitar 10 juta tahun yang lalu, di mana Pulau Kalimantan (Indonesia) masih menyatu dengan benua Asia. Pulau Timor belum terbentuk.  

Zaman Quarter
Diperkirakan berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Zaman ini terbagi atas jaman diluvium (pleistocen) dan zaman alluvium (holocen). Zaman Diluvium dimulai sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Zaman ini dinamakan pula sebagai zaman glacial (zaman es) karena es di kutub utara mencair sehingga menutupi sebagian wilayah Benua Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara.
Pada masa ini, kepulauan Indonesia bagian barat seperti Sumatera, Jawa dan Kalimantan masih menyatu dengan daratan Asia, sedangkan kepulauan Indonesia bagian timur---termasuk Pulau Timor---masih menyatu dengan daratan Australia. Dampak dari mencairnya es di kutub telah mengakibatkan pulau-pulau di kepulauan Indonesia dipisahkan oleh lautan baik dengan Asia maupun Australia. Bekas daratan Asia yang sekarang menjadi dasar laut disebut paparan/dataran sunda, sedangkan bekas daratan Australia yang terendam air laut di sebut paparan/dataran sahul. Kedua dataran tersebut dipisahkan oleh Zone Wallace (garis wallace)---ilmuwan Eropa yang meneliti proses kehidupan di sekitar kawasan Sunda dan Sahul.
Fase selanjutnya adalah zaman alluvium atau akhir dari Zaman Es yang berlangsung sekitar 20.000 tahun yang lalu, di mana suhu rata-rata bumi meningkat dan permukaan laut meningkat pesat. Sebagian besar Paparan Sunda tertutup lautan dan membentuk rangkaian perairan Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, dan Laut Jawa. Pada periode inilah terbentuk Semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya. Di timur, Pulau Irian dan Kepulauan Aru terpisah dari daratan utama Benua Australia.
Intinya, pada masa ini kepulauan yang dikenal dengan Indonesia saat ini dan pulau-pulau lain di sekitarnya telah terbentuk dan tidak lagi menyatu dengan Asia maupun Australia.  Begitu pulau dengan Pulau Timor, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau kecil lainnya yang tidak lagi menyatu dengan Australia.
Jadi, secara geologis wilayah Indonesia dan sekitarnya merupakan kajian yang menarik. Karena sekali lagi bahwa di bagian timur negeri Indonesia hingga selatan kepulauan ini terdapat busur pertemuan dua lempeng benua yang besar: Lempeng Eurasia (baca: dataran sunda) dan Lempeng Indo-Australia (baca: dataran sahul). Di bagian ini, lempeng Eurasia bergerak menuju selatan dan menghunjam ke bawah Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara. Akibat pergerakan lempeng tersebut, maka terbentuklah barisan gunung api di sepanjang Pulau Sumatera, Jawa, hingga pulau-pulau Nusa Tenggara. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika kebenyakan permukaan pulau-pulau di sebelah tenggara/selatan Asia Tenggara ini bermuka ‘benjol-benjol alias tidak rata’. Adanya pergerakan lempeng ini, secara otomatis akan menimbulkan guncangan pada daerah-daerah di sekitar lempeng, dan guncangan inilah yang disebut dengan gempa bumi. Singkatnya adalah daerah sekitar lempeng sangat rawan dengan gempa bumi, baik gempa bumi vulkanik (akibat letusan gunung merapi) maupun gempa bumi tektonik (akibat pergerakan lempeng bumi).
Terkait dengan gempa vulkanik, dapat dipastikan bahwa Timor Leste dan secara keseluruhan Pulau Timor tentu tidak akan terkena/terjadi mengingat di daratan Timor tidak terdapat satu pun gunung berapi yang aktif---semua gunung dan deretan pegunungan di Pulau Timor masuk dalam kategori gunung mati. Hal yang patut diwaspadai adalah terkait dengan gempa tektonik, mengingat gempa ini dipicu oleh pergerakan kedua lempeng di bawah dasar lautan.  Meskipun begitu, lokasi Pulau Timor yang letaknya relatif agak jauh dari Garis Wallace (Zona Wallace), maka seandainya terjadi pergeseran/pergerakan lempeng bumi, maka efek akibatnya tidak akan sama dengan daerah-daerah yang berada persis di jalur garis itu. Terkecuali terdapat lapisan bumi yang berada persis di bawah daratan Timor yang ikut bergerak. Semua ini menjadi tugas negara dan alhi geologis untuk menelitinya.


C. SEPINTAS TENTANG TEORI TENTANG PERGERAKAN LEMPENG
Tektonik Global itu merupakan suatu konsep tektonik lempeng yang merupakan gabungan dari banyak kejadian geologi yang menjelaskan adanya bukti-bukti pergerakan lempeng – lempeng tektonik. Bukti-bukti tersebut, dijelaskan dalam beberapa teori mengenai tektonik lempeng. Salah satu teori tektonik lempeng adalah teori apungan benua (continental drift), yang menyatakan bahwa benua-benua yang sekarang ada, dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi. Dan kekuatan untuk pergerakan tersebut adalah dari arus konveksi yang ada di dalam mantel bumi.  Jadi pada 200 juta tahun yang lalu, semua benua masih berkumpul menjadi satu, sekitar 160 juta tahun yang lalu, terpisah menjadi dua benua besar, yaitu Laurasia dan Gondwanaland. Setelah sekian lama, kedua benua tersebut terpecah-pecah menjadi beberapa benua dengan bentuk yang terlihat sekarang. Saat ini terdapat tujuh buah lempeng tektonik yang besar dan beberapa lempeng yang kecil. Lempeng yang besar meliputi lempeng Pasifik, Lempeng North American, Lempeng Eurasia, Lempeng Antartika, Lempeng Australia dan lempeng Afrika.
Lempeng – lempeng tektonik ini dapat bergerak relative terhadap suatu tempat yang tetap pada lapisan mantel dan pergerakan relative antara satu lempeng tektonik dengan lempeng lainnya, baik divergen, konvergen dan transform. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik ini disebabkan karena adanya aliran konveksi. Lempeng Indo-Australia bergerak ke utara, lempeng Pasifik ke Barat sedangkan Eurasia relative diam.***