Sabtu, 06 Oktober 2012

KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA (VANGUARDA E LIDERANÇA JOVENTUDE-ESTUDANTE UNIVERSITARIO) TIMOR LESTE



---VANGUARDA E LIDERANÇA---
KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN 
PEMUDA-MAHASISWA
By Vladimir Ageu DE SAFI’I[1]

KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA
source: Lilexplorer.net
“Negeri ini membutuhkan PEMIMPIN dari kaum muda yang mampu merepresentasikan wajah baru kepemimpinan dan masa depan bangsa. Tiba waktunya bagi para pemuda untuk mempersiapkan diri sebagai pelopor dan pemimpin di masa yang akan datang. Mengapa? Karena KAUM MUDA dapat dipastikan MEMILIKI MASA DEPAN dan nyaris TIDAK MEMILIKI PROBLEMA MASA LALU. Kebutuhan negeri ini di masa sekarang dan ke depannya adalah perlu mulai belajar melihat KE DEPAN, dan tidak lagi berasyik-asyik dengan tabiat/kebiasaan yang SUKA MELIHAT ke belakang. Rakyat negeri  ini harus melangkah ke depan dan bukan berjalan ke arah masa lalu. Dan secara filosofis, masa depan itu adalah MILIK kaum muda. Dari segi perjalanan sejarah, generasi muda lebih steril dari berbagai penyimpangan fase sejarah yang telah lalu. Mereka TIDAK MEMILIKI DENDAM masa lalu dengan lawan-lawan politiknya. Mereka tidak memiliki kekelaman masa lalu. Mereka juga TIDAK MEMILIKI TRAUMA masa lalu yang sangat mungkin akan membayang-bayangi jika nanti ditakdirkan untuk MEMIMPIN. Lebih dari itu, kaum muda memiliki masa depan yang bisa mereka tatap dengan KETAJAMAN dan KECERMELANGAN visi serta memperjuangkannya dengan gelora dan semangat penuh KEBERANIAN, serta energi yang lebih baru.
Bersiap-siaplah kaum muda. Sejarah mulai membuka pintu rumah bagimu. Satukan diri; organisir diri; konsolidasikan diri; dan didiklah diri-sendiri. Tiba waktunya untuk berkelana. Yang TUA, meski makin bijaksana, tapi tulang dan kulit mereka---pelan dan pasti---semakin keropos dan mengeriput.”
Ini merupakan salah satu pemikiran yang melatarbelakangi “mengapa para pemuda dan mahasiswa perlu berorganisasi”.

A.    Papel Joventude-Estudante Universitariu iha Luta ba Liberta Povu

KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA
Joventude iha papel ne’ebe natural/alamiah, yakni kepeloporan dan kepemimpinan dalam menggerakkan potensia rekursus ne’ebe sosiedade nia laran. Terkait dengan penyusunan strategia konaba peran/papel estudante universitario iha movementu/pergerakkan povu Timor Leste, maka konteksnya adalah kepeloporan (vanguarda) dan kepemimpinan (liderança). Jadi, atu hasa’e e haforsa papel joventude nian, liu-liu estudante universitario iha movementu nian, ita tenke dezenvolve sira nia vanguarda e mos lideransa (karakteristiku e hahalok). Dalam perannya sebagai pelopor dan pemimpin, joventude harus dibekali dengan 3 aspeitu importante hanesan: esperitu, kapasidade, e implementasaun.
Em geralmente, entre vanguarda e lideransa iha arti hanesan (mirip), yakni berada di muka dan diteladani (dijadikan contoh) oleh yang lain. Tetapi, dapat pula memiliki arti yang berbeda. KEPELOPORAN jelas menunjukkan sikap berdiri di muka (hamrik iha oin), merintis, membuka jalan (loke dalan), dan memulai sesuatu untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dan dipikirkan oleh yang lain. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi konsekuensia/resiko, tamba ne’e persija mental e fisiku. Realidade hatudu katak, tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko. Sifat-sifat/karakteristiku tersebut hanya ada dalam diri setiap pemuda-mahasiswa. Papel ne’ebe, labarik ou katuas sira labele implementa/realiza, tamba papel hanesan ne’e hanya cocok ba jovem sira deit.
Sementara itu, KEPEMIMPINAN lebih bersifat fleksibel: bisa berada di muka, bisa di tengah, dan bisa di belakang. Tamba sa? Tamba  tidak semua orang dapat menjadi pemimpin. Selain itu, menjadi seorang pemimpin juga tidak dibatasi oleh usia/idade, bahkan dengan makin bertambahnya usia maka akan semakin banyak pengalaman, artinya kepemimpinannya akan cenderung lebih baik (namun hal itu bisa dibarengi dengan berkurangnya dinamika).
Kepemimpinan dalam konteks perjuangan pembebasan rakyat tertindas adalah kepemimpinan yang mengarah pada persoalan “lapangan/praktek”, yakni kepemimpinan dalam mengimplementasikan program-program perjuangan; dalam melakukan kegiatan pemberdayaan rakyat; dalam mendidik rakyat, serta memimpin jalannya revolusi kerakyatan/popular. Sekali lagi, ini hanya dapat dilaksanakan oleh joventude e estudante universitario deit tamba sira iha karakteristiku dinamiku.
Joventude-estudantes merupakan sumber dinamika yang dapat mengembangkan kreatividade, bele hamosu idea foun, mendobrak hambatan-hambatan/dezafius, mencari pemecahan masalah (resolve problema e buka solusaun), kalau perlu dengan menembus sekat-sekat berpikir konvensional (halo rahun ideas/hanoin tuan/konvensional troka ho idea ne’ebe progresivu e revolusionariu).
Oleh karena itu, menjadi tugas kita sekarang, terutama tugas dari para kader joventude atu dezenvolve e haforsa esperitu, kapasidade e esperensia iha parte vanguarda e lideransa.
Membangun semangat perjuangan (esperitu revolusionario/luta) adalah membangun SIKAP (komitmentu e hahalok/perilaku), karena itu terkait erat dengan pembangunan KULTURA (valor revolusionario). Edukasaun politiku hanesan wahana/instrumentu/media ida ne’ebe importante e fundamental. Selain itu, hal penting lainnya adalah merangsang inisiativu dan membangkitkan motivasi berjuang. Keteladanan adalah pendekatan lain untuk membangkitkan semangat. Dorongan masyarakat, atau tantangan dari masyarakat, juga merangsang bagi bangkit dan tumbuhnya semangat.
Hasa’e e dezenvolve kapasidade mos importante, tamba vanguarda e lideransa tidak cukup hanya dengan kata-kata (koalia/liafuan deit). Tenki iha perbuatan/tindakan/aktividade/praktiku. Seorang pemimpin tenke bele hatudu ba yang dipimpin, atau seorang pelopor kepada yang dipelopori, konaba saida-saida deit mak persija/tenke halo.
Oleh karena itu, profesionalismu ou konhesementu konaba teoria revolusaun; teoria movementu massa; teoria luta liberta povu ne’ebe iha relevansia ho kepeloporan dan kepemimpinannya amat diperlukan. Tidak berarti harus menguasai lebih teknis dari yang dipimpin, tetapi sekurang-kurangnya harus mampu memberikan inspirasi, menunjukkan arah (fo matadalan), dan mampu mencari jalan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA
Pengamalan/pengimplementasian kepeloporan dan kepemimpinan itu adalah muaranya/sumbernya. Walaupun semangat ada, pengetahuan cukup, tetapi tidak berbuat apa-apa (la halo buat ida alias koalia deit iha ibun),  maka semangat dan pengetahuan tersebut tidak ada gunanya bagi siapapun.
Dengan demikian, organizasaun massa joventude; organizasaun massa estudante universitario e mos organizasaun revolusionario seluk tan merupakan wadah/fatin yang tepat untuk membangun kepeloporan dan kepemimpinan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Organisasi menjadi alat untuk mendidik (eduka), mengkader (kaderiza), menggembleng (trainamentu e formasaun) dan mencetak calon-calon kader pelopor dan calon-calon kader pemimpin revolusi.
Gerakan rakyat harus dipimpin; gerakan pemuda harus dipimpin; gerakan agrikultor harus dipimpin; gerakan buruh harus dipimpin; gerakan revolusi harus ada yang memimpin. Tanpa kepemimpinan, gerakan rakyat akan mudah disusupi dan anarkhis. Tanpa kepemimpinan, maka gerakan rakyat akan mudah ditunggangi dan dimanfaatkan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok oportunis alias kelompok kontra revolusi.
Historia Timor Leste iha tempo passadu hatudu katak joventude Timor Leste iha peranan/papel ne’ebe importante e estratijiku. Proklamasaun Independente 1975 hanesan momentum ida “oinsa joventude matenek sira hatudu sira nia keberanian, kepeloporan dan kepemimpinan dalam menghadapi praktiku kolonilialismo Portugis nian”. Sira nia komitmentu mos sei metin nafatin, wainhira militer Indonezia melancarkan okupasinya. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah peristiwa referendum atau konsulta popular 1999, bagaimana para pemuda dan mahasiswa melakukan pengorganisasian dan pemobilisasian massa kepada masyarakat untuk lebih memilih opsi kemerdekaan bagi masa depan Timor Leste. 
Intinya adalah bahwa tugas dari joventude sekarang adalah memelihara dan melanjutkan tradisi perjuangan tersebut, serta memperkuat dan memperkayanya dengan makna dan nilai-nilai baru sesuai dengan tantangan jaman.
Pimpin   artinya   bimbing,   tuntun.   Memimpin   artinya ‘membimbing, menuntun dan menunjukkan’. Pemimpin atau leader ialah orang yang memimpin atau seseorang yang mempergunakan wewenang dan mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi. Beberapa ahli tentang pemimpin, di antaranya:

  1. Menurut Herbert A Simon. ”Pemimpin adalah seorang yang dapat mempersatukan orang-orang dalam mengejar suatu tujuan”.
  2. Menurut Prof Dr H. Arifin Abdurrahman. ”Pemimpin adalah orang yang dapat menggerakkan orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk mengikuti jejak pemimpin itu”.

Jadi, “pemimpin memiliki pengertian seorang yang dapat mempengaruhi, mempersatukan dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan atau cita-citakan.”
Pemimpin organisasi adalah orang yang memimpin atau seseorang yang mempergunakan wewenang dan mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi.
Pemimpin rakyat adalah seorang pejuang yang dapat mempengaruhi, mempersatukan dan menggerakkan massa rakyat untuk mencapai tujuan dan cita-cita perjuangan.”
KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA TIMOR LESTE

Kepemimpinan   adalah   kata   benda   dari   pemimpin. Kepemimpinan mempunyai beberapa pengertian, di antaranya :

  1. Cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku para bawahannya agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
  2. Seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang-orang yang ada di sekelilingnya.
  3. Seni untuk mengkoordinasikan dan memberi motivasi kepada individu dan kelompok guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan yang dimaksudkan di sini adalah sebuah kepemimpinan yang terkait dengan organisasi massa perlawanan atau perjuangan. Yang sudah pasti maknanya sangat berbeda dengan kepemimpinan pada sebuah organisasi seperti perusahaan yang orientasi utamanya sekedar mencari benefisu material bagi pemilik perusahaan itu sendiri.
Kepemimpinan organisasai massa perlawanan lebih terkait erat dengan kepemimpinan internal dan eksternal organisasi: memimpin perjuangan yang didasarkan pada ideologi organisasi dan kepentingan rakyat.
Kepemimpinan yang demikian sangat tergantung/depende pada dua hal, yakni lideransa pesoal (atau masing-masing kader) e lideransa kolektivu/bersama. Masing-masing kader revolusioner dituntut untuk menjadi pemimpin atas dirinya-sendiri dan massa dalam semangat kebersamaan (kolektivu).
Jika demikian halnya, maka setiap orang yang disebut pemimpin harus selalu berusaha untuk memiliki sebanyak mungkin sifat-sifat kepemimpinan yang baik, karena seorang pemimpin tidak seharusnya dan memang tidak pemah beroperasi dalam suasana vakum. Artinya, kepemimpinan di dalam suatu organisasi massa perlawanan hanya efektif jika kepemimpinan itu diterima oleh anggota organisasi dan massa rakyat.
Jadi, inti dari kepemimpinan adalah kemampuan untuk menjalankan program-program perjuangan dan dalam mempengaruhi massa rakyat. Keberhasilan seorang pemimpin yang progresif dan revolusioner sangat tergantung kepada kemampuannya untuk menjalankan program dan untuk mempengaruhi rakyat agar mengikuti jalannya perjuangan.
Dengan kata lain, kepemimpinan yang progresif dan revolusioner dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang kader progresif dan revolusioner dalam mempengaruhi massa rakyat  melalui komunikasi (agitasi dan propaganda) baik langsung maupun tidak langsung, dengan maksud untuk menggerakkan massa rakyat tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran, dan senang hati bersedia mengikuti dan aktif dalam perjuangan revolusioner sesuai dengan ideologi dan garis perjuangan organisasi. 

B.    Menjadi Kader Progresivu e Revolusioneriu
KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA TIMOR LESTE
Dalam Konstitusi RDTL sudah sangat jelas ditegaskan, khususnya terkait dengan “Mars Nasional Patria-Patria”, yang salah satu bait/syairnya berbunyi: abaixo kapitalisme, abaixo imperalismo. Maibe, iha realidade hatudu seluk, justru kebijakan pemerintahan selama ini membuka pintu lebar-lebar bagi masuk dan tumbuh suburnya sistem kapitalisme beserta ideologi liberalismenya.
Kapitalisme dan liberalisme, serta praktek-praktek penindasan terhadap rakyat telah lama merasuk dalam semua dimensi kehidupan masyarakat di negeri, khususnya semenjak penduduk yang tinggal di Pulau Timor mulai bersentuhan dengan dunia perdagangan luar (ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum Portugis menjajah Timor). Ini menandakan bahwa perjuangan pembebasan rakyat tertindas akan banyak diwarnai dengan benturan-benturan fisik dan ideology serta membutuhkan waktu yang lama: tidak bisa dalam sekejap. Beratnya keadaan ini, akan pula menimbulkan DEMORALISASI (penurunan semangat dan daya berjuang) para militante pro-povu. Karenanya, dibutuhkan brigada-brigada yang handal dan tahan banting: barisan kader-kader progresivu e revolusionariu yang tidak mudah menyerah dan patah semangat, yang sekaligus mampu menjaga stamina bertempur.
Estudante universitario sebagai golongan intelektual yang memiliki kelebihan intelejensia merupakan kandidat yang paling memungkinkan bagi terbentuk dan dibangunnya Brigade Pelopor Perjuangan Rakyat. Estudante universitario tidak bisa hanya hidup dalam kampus atau sekedar membaca buku, mendengarkan penjelasan para dosen, menulis makalah dan diakhir pendidikan mendapatkan gelar kesarjanaan.
Estudante universitario harus menyatu dan berada di tengah-tengah kehidupan rakyat. Mereka tidak semata-mata bertugas menyuntikkan/sona suatu kesadaran yang benar atas ketertindasan yang dialami oleh rakyat ke dalam diri rakyat, melainkan harus pula membuat rakyat sadar akan implikasi/konsekuensia atas kesadaran yang sudah mereka miliki beserta proses dan kegiatan perjuangan yang dilakukannya.
Perjuangan menumbangkan/menghancurkan kapitalisme dan liberalisme bukanlah sebuah perjuangan yang terkait dengan mengubah sistem ekonominya saja atau bentuk-bentuk fisiknya saja, melainkan sebuah perjuangan untuk menanamkan nilai-nilai budaya baru dan ideologi pembebasan yang baru, yakni suatu upaya dari rakyat tertindas untuk membebaskan diri mereka dari budaya kaum borjuis dan untuk membangun nilai budaya mereka sendiri bersama-sama dengan kaum tertindas lainnya dan lapisan intelektual yang berpihak (intelektual yang progresif dan revolusioner).
KEPELOPORAN & KEPEMIMPINAN PEMUDA-MAHASISWA TIMOR LESTEJadi, tugas utama kader-kader intelektual (estudante universitario) adalah menanamkan kesadaran progresivu dan revolusionariu kepada rakyat dan bersama-sama mengalahkan para intelektual borjuis yang saat ini mendominasi segala aktivitas dan unsur-unsur pendidikan. Dengan berhasil kita kalahkannya para intelektual borjuis ini, berarti kita telah pula mengalahkan otak kapitalisme dan liberalisme. Inilah perang sipil; inilah perang intelejensia, yakni sebuah prakondisaun menuju perebutan atas kekuasaan politik di pemerintahan.
Dengan demikian, maka tugas dari kader-kader progresivu e revolusionariu adalah:

  1. Menjadi pelopor, pemimpin sekaligus pasukan bagi diri-sendiri dan massa rakyat.
  2. Menjadi murid dan sekaligus guru bagi diri-sendiri dan massa rakyat.
  3. Mendidik (eduka), mengajarkan (fo hanorin), dan menyadarkan massa rakyat akan ketertindasan yang dialaminya beserta pentingnya perjuangan pembebasan diri dari ketertindasan.
  4. Memelihara dan melanjutkan tradisi perjuangan sebagaimana yang sudah dilakukan oleh para pendahulu dan nenek moyang kita.
  5. Terlibat aktif dalam pengorganisasian massa, baik massa mahasiswa maupun massa rakyat lainnya.
  6. Memimpin segala bentuk perlawanan yang dilakukan oleh rakyat.
  7. Membangun organisasi massa perlawanan yang kuat, penuh disiplin: sebuah organisasi kader yang berbasiskan pada massa (masing-masing anggota organisasi adalah kader, dan masing-masing kader harus memiliki jaringan/basis massa).
  8. Aktif melakukan kegiatan agitasi dan propaganda politik
  9. Secara kreatif dan penuh inovatif menciptakan situasi-situasi politik yang mampu mempercepat dan melancarkan jalannya revolusi popular.

 C.  Sifat-sifat/karakteristiku Lider Progresivu e Revolusionariu ne’ebe Diak e Ideal
Untuk dapat menjalankan tugas-tugas revolusioner sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka dibutuhkan kader-kader organisasi yang memiliki sifat-sifat progresivu e revolusionariu, sebagaimana berikut ini:

  1. Memiliki kondisi fisik yang sehat/tidak sakit-sakitan dan jiwa yang sehat/tidak gila. Kondisi fisik yang dimaksudkan adalah sebuah kondisi yang sesuai dengan tugas yang diberikan oleh organisasi. Luta ba liberta povu adalah sebuah perjuangan yang sulit dan berjangka panjang. Tanpa pemimpin dan kader yang sehat, maka perjuangan akan terhambat.
  2. Berpengetahuan luas. Berpengetahuan luas tidak  selalu diidentikkan dengan berpendidikan tinggi. Ada sekelompok orang yang meskipun pendidikannya tinggi tetapi pandangannya masih sempit, yaitu tidak terbatas pada bidang keahliannya saja.
  3. Pengetahuan luas yang dimaksudkan di sini adalah menguasai dan memahami tentang teori-teori revolusi atau teori pembebasan rakyat. Setiap pemimpin dan kader juga dituntut untuk mengetahui dan memahami kondisi obyektif/riil yang dihadapi rakyat. Selain itu, pengetahuan-pengetahuan teknis juga amat dibutuhkan terkait dengan pengorganisasian rakyat, seperti pengetahuan membangun koperasi, memasang dan membenahi listrik, soal agrarian, soal adat-istiadat, dan sebagainya.
  4. Mempunyai keyakinan dan komitmen pribadi yang kuat terhadap organisasi bahwa organisasi akan berhasil mencapai tujuan   yang   telah   ditentukan   melalui   dan   berkat kepemimpinan, kerja-kerja yang dilakukan oleh setiap kader. Kepercayaan pada diri sendiri merupakan modal yang sangat besar dan penting artinya bagi pemimpin dan kader organisasi. Tanpa keyakinan bahwa revolusi merupakan jalan yang tepat bagi pembebasan rakyat tertindas, rakyat maubere, maka segala tindakan yang dilakukan akan kelihatan ragu-ragu.
  5. Memahami tugas pokok (mission)
  6. Memiliki stamina (daya kerja) dan etos kerja yang tuntas. Pemimpin dan kader revolusioner tidak mengenal kata “lelah”. Dengan sikap ini, pekerjaan yang rutin tidak menjadikan pemimpin dan kader revolusioner semakin lemah tetapi menjadikannya semakin kuat dan gigih karena merasa kreativitasnya senantiasa ditantang.
  7. Gemar dan cepat mengambil keputusan. Karena tugas terpenting dari seorang pemimpin dan kader revolusioner adalah untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan oleh orang lain atau massa rakyat, maka ia harus mempunyai keberanian mengambil keputusan dengan cepat, terutama dalam keadaan darurat yang tidak dapat menunggu.
  8. Berpikir progresif (maju ke masa depan), bertindak revolusioner (cepat berfikir dan cepat dalam mengambil tindakan), inovatif, dan kreatif.
  9. Obyektif dalam arti dapat menguasai emosi dan lebih banyak mempergunakan rasio. Seorang pemimpin dan kader yang emosional akan kehilangan obyektifitasnya karena tindakannya lidak didasarkan pada akal sehat.
  10. Setiap pemimpin dan kader revolusioner tidak dibenarkan untuk bertindak REAKSIONER, yakni sikap emosional dalam menghadapi setiap permasalahan. Sikap reaksioner bukanlah karakteristiku dari seorang pemimpin dan kader revolusioner.
  11. Adil dalam memperlakukan kawan seperjuangan. Yang dimaksud dengan “keadilan” di sini ialah kemampuan memperlakukan kawan seperjuangan bazeia ba kapasitasidade servisu kawan seperjuangan tersebut, dengan tanpa melihat atas asal-usul kedaerahan, kesukuan, ikatan kekeluargaan, dan lain sebagainya.
  12. Menguasai prinsip-prinsip human relation. Karena human relation adalah inti kepemimpinan, maka seorang pemimpin dan kader revolusioner yang baik harus   dapat memusatkan perhatian,   tindakan,   dan kebijaksanaannya kepada pembinaan kerja tim yang intim dan harmonis.
  13.  Menguasai teknik-teknik berkomunikasi. Luta ba liberta povu adalah sebuah proses pentransformasian kesadaran dari kader-kader revolusioner ke massa rakyat, karenanya dibutuhkan adanya kemampuan berkomunikasi yang efektif dan cerdas baik lisan maupun tulisan. Dengan teknik-teknik berkomunikasi inilah bagaimana ide-ide pembebasan, seruan-seruan perjuangan, saran, dan pesan lainnya disampaikan.
  14. Dapat dan mampu bertindak sebagai penasihat, guru, dan kepala terhadap sesame kawan seperjuangan tergantung atas situasi dan masalah yang dihadapi. Intinya adalah memiliki perhatian kepada orang lain, ramah-tamah, dan memperhatikan masalah orang lain (hati-hati, jangan sampai mencampuri terlalu dalam urusan pribadi orang lain).
  15. Bersikap kritis dan ingin tahu banyak (kritik otokritik). Kendati demikian seorang pemimpin dan kader revolusioner tidak hanya memberikan kritiknya saja tetapi harus disertai dengan solusinya (thorikul kholas), di samping mau mengkritik dan mengoreksi, ia juga harus mau dikritik dan dikoreksi.
  16. Kecepatan dan ketepatan. Jangan menunda-nunda pekerjaan, karena menunda pekerjaan berarti melamar kegagalan.
  17. Disiplin yang tinggi. Kerja seorang pemimpin dan kader revolusioner tidak setengah-setengah dan tidak mengangap enteng setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. Sekali kita tidak serius dalam melaksanakan pekerjaan, maka kita akan kehilangan kepercayaan dari massa rakyat.
  18. Menguasai aspek internal (memahami kondisi internal organisasi) dan eksternal (memahami kondisi obyektif masyarakat).
  19. Dari belakang menumbuhkan daya gerak, di tengah-tengah menumbuhkan kemampuan, dan jika berada di depan dapat memberikan teladan/pelopor
  20. Seadanya, jujur, tanpa mengharapkan yang bukan-bukan.



[1] Disampaikan pada diskusi regular yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Progressif - Universidade Dili (Movementu Universitariu Progresivu/MUP), yang diselenggarakan pada setiap hari Sabtu sore.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar