Senin, 13 Agustus 2012

SISI LAIN KEHIDUPAN RAKYAT 
TIMOR LESTE 
(Maubereismo: Marxismo Timor?)

Pada tahun 2003, aku bertemu dengan seorang anak yang bernama Marcos. Saat itu usianya sekitar 8 tahun. Ia anak suku bangsa Mambai. Ia tinggal di Tuana Laran (Dili) dengan orang tuanya. Ia tidak bersekolah, dan ia lebih memilih untuk menjadi seorang maubere tulen: maubere ai-leba (golongan masyarakat yang mempertahankan kehidupan dengan menggunakan pikulan dari kayu untuk berjualan sayur mayor atau buah-buahan). 
Ia berjualan sabraka/jeruk saat musim sabraka, atau menjual pisang kala musim pisang, sesekali juga mangga. Ia berjualan dengan cara dipikul dengan cirri khas kehidupan anak-anak maubere lainnya: berjalan kaki dengan tanpa alas kaki. 
2010, aku kembali bertemu dengannya di sebuah rumah di kawasan Vila Verde (Dili) setelah lebih dari 6 tahun tidak melihatnya. Ia sudah besar. Tubuhnya kekar. Rambutnya dibiarkan memanjang. Ia sudah 14 tahun. 
Tetap. Marcos tetap si anak yang berjalan kaki, bedanya ia kini menggunakan alas kaki: sandal jepit seharga 0,75 cent. Tetap. Ia menggunakan kayu pikulan: ai-leba. Tetap. Ia tetap seorang anak ai-leba yang tumbuh menjadi remaja ai-leba. Ia menawarkan padaku: sayur kangkung. Aku pun bertanya padanya: “Marcos, kini kamu sudah besar dan tetap dengan memikul barang dagangan…!?” 
Dengan santai, ia menjawab: “Kakak, aku jadi ai-leba, bukan karena keinginanku. Ini adalah warisan dari nenek moyangku. Mereka mempertahankan dan melanjutkan kehidupan pada kami dengan cara sebagai seorang ai-leba. Memang, aku sempat bertanya pada Bapakku: ‘mengapa aku harus menjadi seorang anak ai-leba?’ Bapakku menjawab: ‘Dulu, kakekmu adalah seorang ai-leba di zaman Portugis. Lalu, kakekmu mewariskan kehidupan ini pada bapakmu untuk menjadi seorang ai-leba juga pada zaman Indonesia. Karena kakekmu adalah ai-leba, bapakmu juga seorang ai-leba, maka dirimu juga harus tetap melanjutkan tradisi kehidupan ai-leba di era kemerdekaan ini.’ Inilah, kenapa aku tetap menjadi seorang Ai-leba.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar